Selasa, 24 Maret 2020

HEI ARSENAL, MARI BEGURU DENGAN LIVERPOOL DAN LAZIO


HEI ARSENAL, MARI BEGURU DENGAN LIVERPOOL DAN LAZIO




Melanjutkan artikel sebelumnya, yang mana Arsenal harus berguru dengan Liverpool dan Lazio untuk sabar dan belajar akan masa transisi ini, disini penulis merekomendasikan Arsenal perlu belajar dari Liverpool dan Lazio. Mengapa dua klub ini yang dipilih? Karena kedua klub ini pernah mengalami nasib yang sama dengan Arsenal. Kedua klub ini mempunyai sejarah yang cukup hebat, pernah mengalami masa transisi, dan pernah mengalami masalah keuangan yang pelik. Ketiga hal yang juga pernah dimiliki Arsenal. Liverpool dan Lazio berhasil belajar dari pengalaman-pengalaman pahit yang sudah mereka lalui, lalu menghindari kesalahan-kesalahan yang sama. Akhirnya mereka memetik buahnya saat ini berupa prestasi. Kedua klub ini sama-sama melewati proses yang sangat panjang dan penuh kesabaran. Jika diperhatikan, Arsenal masih belum seberapa merana dibandingkan kedua klub ini. Arsenal terakhir juara Premier League pada tahun 2004, dengan status invincibles, tak terkalahkan satu musim penuh, yang tidak mampu digapai tim lain di Era Premier League.  Sementara Liverpool terakhir juara liga pada tahun 1990, 30 tahun yang lalu. Lalu Lazio terakhir kali juara Serie A pada tahun 2000, 20 tahun yang lalu. Mari kita bahas perjalanan kedua klub ini.

Liverpool sebenarnya sudah konsisten di papan atas Premier League sejak lama, hanya saja keberuntungan belum memihak pada mereka. Musim 2008/2009, 2013/2014. Dan 2018/2019 sudah juara paruh musim, namun akhir musim mereka inkonsisten dan gagal juara. Kiprah The Reds di kompetisi Eropa beda cerita. Mulai awal milenium ke-2 Liverpool sudah banyak menorehkan trofi, antara lain 1 Piala UEFA (Liga Eropa) pada tahun 2001; 2 Piala Super Eropa pada tahun 2000 dan 2005; serta 1 trofi Liga Champions pada tahun 2005. Setelah kemenangan dramatis atas AC Milan di final Liga Champions tahun 2005, Liverpool selalu konsisten di empat besar Liga Primer. Empat besar yang waktu itu sering disebut Fantastic Four bersama Manchester United, Chelsea, dan Arsenal. Liverpool mulai kolaps di akhir kepelatihan Rafael Benitez. Mulai musim 2009/2010, Liverpool goyah dan keluar dari empat besar Liga Primer. Selain itu di Eropa juga tidak lolos fase grup Liga Champions. Turun kasta di Piala UEFA, Liverpool hanya sampai semifinal, kandas dari Atletico Madrid yang menjadi kampiun waktu itu.

Tidak kunjung membaik, Rafael Benitez meninggalkan Anfield dan Roy Hodgson menggantikan posisi Benitez di musim 2010/2011. Roy Hodgson pun setali tiga uang, bahkan lebih parah, Liverpool sempat terjerembab ke zona degradasi. Hodgson dipecat di paruh musim kemudian digantikan “The King” Kenny Dalglish, yang sempat menggairahkan Liverpool dan bercokol di peringkat 6 klasemen akhir. Musim berikutnya, King Kenny berhasil meraih trofi Piala Liga Inggris, namun setelahnya performa tim kolaps dan terjun payung ke posisi 8 klasemen akhir, peringkat terburuk dalam 16 tahun terakhir sejarah klub. Musim 2012/2013, kemudi kapal Liverpool dialihkan ke Brendan Rodgers. Musim kedua kepemimpinan, Rodgers hampir membawa Liverpool meraih gelar juara Liga dan lolos ke Liga Champions setelah 5 tahun absen. Namun kiprah Rodgers di Liga Champions hanya sampai fase grup, numpang lewat saja. finish di peringkat ketiga fase grup membuat Liverpool terjunn ke Liga Eropa. Di Liga Eropa pun tragis, tersingkir dari Besiktas di babak 32 besar. Rodgers hanya mentok sampai ke situ, tidak mampu mengangkat lagi. Di awal musim 2015/2016, Rodgers dipecat karena performa Liverpool menurun dan digantikan manajer kharismatik, Juergen Klopp.

 Di bawah asuhan Klopp, jalan kesuksesan Liverpool dimulai. Akhir musim 2015/2016 Klopp membawa Liverpool sebagai finalis Liga Eropa, kemudian musim berikutnya berhasil mendongkrak posisi The Reds ke posisi 4 klasemen akhir Liga Primer sehingga mendapatkan satu tiket ke Liga Champions. Musim 2017/2018 juga mengakhiri musim di posisi 4 Liga Primer, namun berhasil mencapai final Liga Champions walaupun ditekuk Real Madrid di final. Musim 2018/2019 meningkat ke posisi 2 klasemen akhir Liga Primer dan berhasil menjuarai Liga Champions. Di awal musim 2019/2020, Liverpool menjuarai Piala Super Eropa setelah mengalahkan Chelsea lewat babak adu penalti. Di penghujung tahun 2019 Liverpool menahbiskan diri sebagai klub terbaik di dunia setelah menjuarai Piala Dunia Antar Klub di Qatar. Tahun 2020 ini tinggal mengemas 2 kemenangan lagi mereka menjuarai Liga Primer Inggris kembali setelah 30 tahun menantikannya. Liverpool kini menjadi inspirasi dunia, bahwa untuk sukses dibutuhkan proses yang panjang.

Selain masalah di dalam lapangan, Liverpool juga sempat diterpa masalah keuangan. Masalah bermula dari David Moores, pemilik saham terbesar Liverpool yang menyerahkan kepemilikan klub kepada George Gillet dan Tom Hicks pada 6 Februari 2007. Hicks dan Gillet ternyata meminjam uang kepada Royal Bank of Scotland (RBS) sebanyak 351 juta pounds dan belum mampu melunasi, sehingga Liverpool terlilit hutang dan terancam bangkrut. 15 Oktober 2010, Gillet dan Hicks angkat koper dari Anfield setelah mendapat kecaman dari berbagai elemen klub, baik suporter maupun internal klub. Rafael Benitez dikabarkan hengkang dari Anfield karena dua pebisnis asal Amerika Serikat ini tidak mau memenuhi permintaannya terkait transfer pemain. Kepemilikan diserahkan kepada John W. Henry, pemilik perusahaaan Fenway Sports Group (FSG). FSG melunasi hutang yang ditinggal Gillet dan Hicks, lalu sedikit demi sedikit meraih keuntungan berkat rencana jangka panjang Juergen Klopp. Dilansir dari Transfermarkt, saat ini Liverpool memiliki nilai pasar 1,19 miliar euro.

Lazio menjadi salah satu dari The Magnificient Seven Serie A pada dekade 90-an bersama AC Milan, Inter Milan, Juventus, AS Roma, Fiorentina, dan Parma. Saat itu Lazio rajin main di kompetisi Eropa berkat pemain-pemain bintang yang dimilikinya, bahkan mencicipi juara Serie A pada musim 1999/2000. Alessandro Nesta, Juan Sebastian Veron, Pavel Nedved, Hernan Crespo, Roberto Mancini, Sinisa Mihajlovic, Dejan Stankovic, dan Marcelo Salas adalah nama-nama tenar yang pernah menghiasi line-up Lazio sebelum bertanding.

Namun semua itu berubah ketika Cirio, perusahaan pangan yang menjadi sumber dana utama Lazio bangkrut. Awalnya Cirio mengalami masalah finansial setelah Lazio membeli pemain-pemain bintang yakni Hernan Crespo, Claudio Lopez, Angelo Peruzzi, Dino Baggio, Karel Poborsky, Francesco Colonnese, dan Lucas Castroman yang hanya ditutup dengan melego Sergio Conceicao pada musim 2000/2001. Musim berikutnya Lazio bisa beroperasi dengan baik di bursa transfer. Mereka memang mendatangkan Gaizka Mendieta, Jaap Stam, Stefano Fiore, dan Darko Kovacevic dengan harga mahal. Namun, itu mereka lakukan setelah Juan Veron, Pavel Nedved, dan Marcelo Salas dijual dengan harga mahal pula. Sayangnya, kebijakan itu tetap tidak mampu menyelamatkan Lazio dan Cirio. Pada 2003, Cirio mengajukan kebangkrutan. Musim berikutnya, Sergio Cragnotti presiden Lazio ditangkap atas kasus penggelapan uang. Kejayaan Lazio berakhir dan kepergian pemain-pemain bintang pun tak terhindarkan. Selanjutnya, di pentas Serie A Lazio lebih sering menghuni papan tengah pada klasemen akhir. Paling sesekali mengangkat piala Coppa Italia (2004, 2009, dan 2013) dan Piala Super Italia (2009).

Pada 2004 Claudio Lotito mengambil alih kepemilikan klub. Lotito menghemat uang untuk membayar hutang yang ditinggalkan Cragnotti sebesar 550 juta euro. Di bawah Lotito, Lazio hanya bisa membeli pemain-pemain muda. Sebetulnya banyak pemain potensial yang muncul di era Lotito, sayangnya memilih untuk meninggalkan Olimpico. Hernanes (Juventus), Felipe Anderson (West Ham United), dan Keita Balde (AS Monaco) adalah contoh barisan pemain berbakat yang pernah membela Elang Roma. Penjualan pemain-pemain berbakat cukup menguntungkan Lotito karena bisa membantu mengurangi beban hutang. Berkat kesabaran Lotito dalam mengelola keuangan klub, saat ini Lazio memiliki nilai pasar sebesar 372,65 juta Euro.

Untuk urusan di dalam lapangan, Lazio sempat berganti-ganti pelatih di era Lotito. Mulai dari Delio Rossi, Davide Ballardini, Vladimir Petkovic, Stefano Pioli, hingga Simone Inzaghi yang sudah menangani tim selama 4 musim terakhir. Nama terakhir sudah diamati Lotito sejak masih bermain di klub. Lotito menganggap Inzaghi memiliki bakat kepelatihan yang hebat. Sebelum melatih klub senior, Inzaghi memang melatih klub Primavera Lazio dan meraih tiga trofi, namun belum pernah melatih klub senior. Inzaghi dianggap suporter sebagai legenda Elang Roma, karena sudah bergabung sejak 1999 dan pensiun di Lazio tahun 2010. Kesetiaannya di Lazio saat sebagai pemain meskipun sering dipinjamkan membuat suporter mencintai adik dari Filippo Inzaghi ini. Mungkin karena sudah cukup lama berkecimpung di klub membuat Inzaghi mengetahui seluk beluk dan internal klub, dan tahu bagaimana mengatasi masalah yang ada. Dengan skema dasar 3-5-2, Inzaghi membuat Lazio lebih seimbang dalam bertahan dan menyerang. Inzaghi mampu menyulap Ciro Immobile dan Luis Alberto menjadi sangat berbahaya setelah kedua pemain tersebut gagal bersinar di klub sebelumnya, yakni Borussia Dortmund dan Liverpool. Kemampuan Inzaghi mempertahankan Sergej Milinkovic-Savic dari godaan klub-klub elit Eropa juga patut diacungi jempol. Perpaduan pemain senior dan pemain muda dalam permainan Lazio, ditambah tidak banyak perubahan tim utama saat kepemimpinan Inzaghi membuat Lazio semakin solid.  Sudah tiga trofi yang dipersembahkan Inzaghi untuk Lazio, yakni Piala Super Italia (2017 dan 2019) dan Coppa Italia (2019).

            Liverpool dan Lazio sudah banyak menelan asam garam selama melewati masa transisi. Arsenal tinggal mengikuti langkah-langkah kedua klub ini, tentunya sesuai dengan keadaan yang ada di dalam tubuh Arsenal saat ini. Berikut tips yang bisa dilakukan Arsenal:

1.        Motivasi untuk Menang Setiap Pertandingan
Inilah yang mendasari setiap tim sepak bola bertanding dan mau bertarung di lapangan hijau. Menang adalah mind set utama yang harus ditanamkan sejak dini. Apapun kompetisi yang digeluti, menang setiap pertandingan adalah tujuan utama semua tim. Untuk Arsenal, semua kompetisi harus didasari prinsip ini, baik Liga Primer, Liga Eropa/Champions, Piala FA, maupun Piala Liga. Semua pemain pasti mendapat kesempatan bermain, berhubung padatnya jadwal kompetisi. Mikel Arteta pasti mau merotasi tim untuk mengarungi kompetisi yang ada. Semua pemain harus totalitas mempersembahkan kemampuan terbaiknya. Mental pemenang inilah yang akan menumbuhkan mental juara.
Prinsip inilah yang mendasari Liverpool sehingga mereka mampu mengangkat trofi Liga Champions musim lalu. Kemenangan heroik atas Bayern Muenchen yang didapat kala melawat ke Allianz Arena dengan skor 3-1 serta kemenangan super fantastis atas Barcelona di semifinal adalah contoh nyata. Liverpool seolah-olah mengajari Arsenal bagaimana cara mengalahkan Bayern dan Barcelona, yang sering menjadi momok kala bertemu di Liga Champions.
Ketika taktik dan strategi dari pelatih sudah buntu, yang berperan adalah fighting spirit atau semangat untuk bertarung sampai titik darah penghabisan. Arsenal masih kerap kebingungan ketika taktik yang diterapkan pelatih mulai buntu dan belum membuahkan hasil. Tim tidak boleh terlihat bingung ketika terjadi kebuntuan, harus berusaha keras sampai menit akhir pertandingan. Yakinlah, ketika sudah berusaha keras, dewi fortuna pasti memberikan jalan.

2.        Kontrak Pemain dengan Durasi yang Lama dan Hampir Bersamaan
Ini dikhususkan untuk pemain-pemain yang memiliki umur produktif masih cukup lama. Pemain yang berusia 24-26 tahun dan pemain-pemain muda perlu perpanjangan kontrak, untuk beradaptasi dengan sistem permainan Arteta. Nicholas Pepe, Gabriel Martinelli, Eddie Nketiah, Joe Willock, Reiss Nelson, dan Bukayo Saka termasuk dalam daftar ini. Berikan kontrak dengan waktu habis yang hampir sama, Misalnya Martinelli, Saka, dan Nketiah sama-sama diberi kontrak hingga tahun 2025. Hal ini diperlukan supaya para pemain bisa mendapatkan chemistry dan memahami taktik pelatih secara menyeluruh. Butuh waktu untuk membentuk tim yang tangguh, tidak bisa dalam waktu sekejap.

3.        Tidak banyak mengubah Line-Up
Biasanya pelatih membagi skuad utama dalam dua tim, yakni tim inti dan cadangan. Tim inti biasanya bermain di liga domestik dan kompetisi Eropa. Tim cadangan biasanya bermain di piala domestik. Pelatih perlu membentuk sebuah tim dengan memadukan pemain-pemain dengan kualitas biasa maupun berbakat dengan dalam waktu yang cukup lama. Setidaknya setiap lini ada satu pemain yang selalu mengisi line-up. Ketika pemain-pemain yang sama selalu bermain bersama, setiap pemain akan memahami satu sama lain kelebihan dan kekurangan kawannya. Di situ para pemain bisa saling menambal kekurangan dan mengoptimalkan potensi yang dimiliki setiap individu. Terbentuklah skuad yang solid dengan chemistry yang sempurna. Pelatih juga butuh waktu untuk mengamati potensi apa yang dimiliki setiap pemain sehingga keberadaannya bisa dimaksimalkan dalam taktik dan strategi yang telah ditentukan.
 Untuk hal ini, kita bisa mencontoh Lazio. Ciro Immobile, Luis Alberto, Sergej Milinkovic-Savic, Stefan Radu, Senad Lulic, dan Thomas Strakosha selalu mengisi line-up Elang Roma hampir setiap laga di Serie A sejak awal kepelatihan Inzaghi. Alberto sudah tahu Immobile dan Milinkovic akan berlari ke mana, sehingga umpan yang diberikan Alberto bisa tepat ke target. Ini karena mereka bermain bersama selama bertahun-tahun.

4.        Melindungi Pemain Andalan dari Incaran Klub Lain
Pemain andalan yang memiliki kemampuan lebih penting dalam sebuah tim sepak bola. Pemain seperti ini mampu mengubah keadaan atau menentukan jalannya pertandingan. Di Arsenal ada Pierre-Emerick Aubameyang yang selalu menjadi pembeda dalam tim. Dia selalu mencetak gol-gol krusial. Aubameyang mulai diincar klub lain, seperti Manchester United dan Barcelona. Arteta perlu memberi perlindungan dan jaminan kepada Aubameyang untuk masa depannya di Arsenal. Aubameyang juga perlu memaklumi Arteta yang baru beberapa bulan melatih Arsenal. Setidaknya Aubameyang diberi tambahan kontrak dua sampai tiga tahun di Arsenal, sebagai role model bagi striker lain.
Kita bisa mencontoh Lazio untuk perihal ini. Sergej Milinkovic-Savic masih bertahan di Lazio hingga saat ini, padahal sudah kurang lebih tiga tahun namanya masuk dalam daftar incaran klub-klub top Eropa seperti Manchester United, Chelsea, dan Paris Saint Germain. Milinkovic memang elemen penting dalam strategi Inzaghi, dengan keahliannya coming from behind mengelabuhi pertahanan lawan, saat yang lain sibuk menjaga Immobile.

5.        Jangan Terprovokasi Media
Menurut Yamadipati Seno, industri media sering bekerja serampangan. Baik media cetak maupun digital butuh bumbu demi “klik” untuk membaca. Banyak target yang harus dipenuhi, seperti page views, users, bounce rate, dan sebagainya. Bagaimana cara untuk mengejar target berikut? Jawabannya adalah konten. Wartawan biasanya mempertimbangkan beberapa hal, seperti ketokohan, keunikan, aktualitas, kedekatan, dan sebagainya. Semuanya dibuat agar konten terlihat semenarik mungkin. Media berlomba-lomba membuat konten paling menggugah untuk diklik oleh calon pembaca. Tak peduli apakah berita yang disajikan benar atau tidak, valid atau tidak, datanya sesuai atau tidak, menyeluruh atau tidak, dan pertimbangan lainnya. Penulis pernah melihat berita dengan judul ‘Liverpool kalah dari Norwich City 0-1’ dari salah satu situs berita beberapa waktu lalu. “Perasaan semalem menang deh”, begitu pikir penulis. Begitu dibuka, ternyata Liverpool kalah dari Norwich City di musim 1993/1994. Ini adalah contoh dari clickbait yang banyak berseliweran di gadget kita.

Juergen Klopp selalu berusaha melindungi pemain-pemainnya ketika konferensi pers agar masalah di ruang ganti tidak tersebar ke ranah publik. Klopp tahu, media pasti akan menggoreng sedemikian rupa untuk menyajikan konten yang menarik. Tak jarang konten yang dihasilkan kerap menyudutkan Liverpool. Arsenal pun kiranya juga sudah mengerti akan masalah ini. Arteta selalu berusaha berbicara seperlunya di konferensi pers. Singkat, padat, dan lugas, begitulah tipikal Arteta. Lazio mungkin agak diuntungkan, karena tidak banyak media yang membahas Elang Roma. Untuk sepak bola Italia, media cenderung menyorot kamera ke Juventus, Inter Milan, AC Milan, dan AS Roma. Lazio cukup jarang diberitakan. Lazio mesti bersyukur dengan keadaan ini. Mereka bisa bekerja maksimal tanpa tekanan tinggi dari media.

Untuk masalah ini, tidak hanya klub saja yang perlu menyikapi. Kita sebagai warganet yang bijak juga perlu menyikapi hal ini dengan penuh hati-hati. Kita mesti merespon setiap informasi yang membanjiri gawai kita dengan pertimbangan yang dalam. Benarkah berita ini? Apakah benar data ini? Sesuaikah opini ini? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang wajib kita ajukan secara pribadi ketika mendapatkan informasi. Coba bandingkan dengan media lain, beritanya sama atau tidak. Di sinilah nalar berpikir kritis kita diasah. Kita perlu mencerna suatu masalah dari dua sisi dan tidak menyudutkan salah satu pihak, sehingga dapat memunculkan win win solution, solusi yang bisa diterima semua pihak.

Akhirnya, kita bisa belajar banyak dari Liverpool dan Lazio. Dua klub yang sama-sama berproses di tengah kerasnya persaingan kompetisi sepak bola modern. Mereka punya komitmen, kesabaran, tekad yang kuat, dan keteguhan hati dalam menjalani proses. Mereka tidak jor-joran membeli pemain bintang, namun pemain-pemain yang ada mampu menyesuaikan diri dengan taktik dan strategi yang diterapkan pelatih. Justru klub-klub seperti inilah yang lebih konsisten dalam waktu yang lama dibanding klub yang dimiliki pengusaha kaya raya, karena mereka sudah terlatih dengan dana klub yang seadanya.

Ibarat mendaki gunung, Liverpool sudah sampai puncak gunung, Lazio hampir sampai puncak, dan Arsenal masih di lereng gunung. Zaman sekarang sudah tidak relevan lagi teori ‘semakin banyak uang semakin banyak prestasi yang diraih’. Pernyataan lama Claudio Lotito ketika mengambil alih Lazio belasan tahun lalu akhirnya terbukti, “Teori yang mengatakan siapa yang paling banyak mengeluarkan uang akan menang sudah usang.

Ditulis oleh: Tirta Indah Perdana (Followers GRI)


Sabtu, 21 Maret 2020

ARSENAL DAN MASA TRANSISI (Oleh : Tirta Indah Perdana) Followers GRI




ARSENAL DAN MASA TRANSISI



Hari Sabtu yang cerah tanggal 23 Oktober 1999 di Stadion Stamford Bridge London, Liga Primer Inggris menggelar pertandingan antara Chelsea menjamu Arsenal. Di babak pertama, pertandingan berjalan cukup sengit. Chelsea unggul dahulu melalui Tore Andre Flo yang berhasil menyundul umpan silang yang dikirim Dan Peterscu dari half-space kiri pertahanan Arsenal. Tiada gol yang tercipta lagi sampai jeda. Di awal babak kedua, Chelsea kembali menekan. Di menit ke-52 berawal dari free-kick dan sedikit kemelut, Graeme Le Saux mengirim umpan silang yang tidak terlalu tinggi, lalu Peterscu yang sebelumnya membuat assist langsung menanduk bola.  Bola menghujam gawang Seaman untuk kedua kali. Skor 2-0 untuk Chelsea.

Arsenal mampu menyikapi dengan baik. Meriam London langsung menyerang dengan umpan-umpan pendek. Menit ke-75, Marc Overmars memberi umpan bawah pada Kanu yang membelakangi gawang Chelsea. Kanu menghentikan bola, lalu berbalik di depan para bek Chelsea, dan menembak bola.  Bola menyusur tanah menuju kiri bawah gawang Chelsea yang dikawal Ed de Goey. Barisan bek Chelsea terlambat menutup ruang tembak Kanu. Goey tidak mampu menggapainya, terjadilah gol. Skor 2-1 masih untuk Chelsea.

Tidak lama kemudian, Arsenal kembali menyerang setelah Overmars menyergap bola dari jalur umpan para pemain Chelsea. Sedikit kerja sama dengan Lee Dixon, Overmars mengirim crossing mendatar ke Kanu yang sudah menunggu di kotak penalti Chelsea. Kanu yang membelakangi gawang menerima bola lalu mendorong bola sedikit ke depan gawang Chelsea agak ke kiri, kemudian langsung menembak ke tiang dekat gawang Chelsea. Goey terkejut dan refleknya terlambat. Gol kembali untuk Arsenal di menit ke-83. Skor kini imbang 2-2. Skor berbalik 3-2 untuk keunggulan tim tamu di menit 90. Skor bertahan hingga peluit akhir.

Kita maju ke tahun 2008. Arsenal lolos ke babak 16 Besar Liga Champions. Dari hasil undian, Arsenal bertemu AC Milan, juara bertahan Liga Champions. Leg pertama digelar di Stadion Emiratesmarkas Arsenalterlebih dahulu. Diharapkan Arsenal mendapat kemenangan setidaknya selisih 1 gol, berhubung kiper andalan Rossoneri Nelson Dida tidak bisa bermain akibat cedera. Ternyata leg pertama yang dilaksanakan tanggal 20 Februari 2008 itu berakhir imbang 0-0. Leg kedua skor 0-2 untuk Arsenal bertahan hingga peluit akhir. Arsenal lolos ke perempat final mengalahkan juara bertahan Liga Champions. Arsenal menjadi tim Inggris pertama yang mengalahkan AC Milan di San Siro. Menyenangkan sekali rasanya.

Banyak pemain-pemain andalan The Gunners dilego ke klub lain utuk melunasi hutang pembangunan Emirates Stadium. Emanuel Adebayor, Samir Nasri, Gael Clichy (Manchester City), Cesc Fabregas, Alex Song (Barcelona), Robin Van Persie (Manchester United), dan masih banyak lagi. Sebagai gantinya Arsenal hanya merekrut pemain-pemain muda, seperti Marouane Chamakh, Aaron Ramsey, Andrei Arshavin, dan Wojciech SzczÄ™sny. Biaya pembangunan Emirates Stadium mencapai 390 juta poundsterling. Arsenal mendapatkan tambahan 100 juta pounds dari Emirates Airlines sebagai hak penamaan stadion. Granada Media mengambil lima persen saham klub dengan menginvestasikan sebesar 47 juta poundsterling. Lalu kerja sama dengan apparel Nike yang dilaporkan mencapai 130 juta pounds. Sisanya berasal dari pinjaman bank. Pinjaman inilah yang perlu dilunasi.

 Awal musim 2013-2014, Arsenal menyatakan sudah melunasi biaya pembangunan Stadion Emirates, sehingga mulai berani mengejar pemain-pemain dengan banderol mahal. Lambat laun Wenger mulai kesulitan dalam bersaing di Liga Primer. Tidak hanya bersaing memperebutkan gelar juara, 4 besar saja sudah ngos-ngosan. Taktik dan strategi Wenger mulai terbaca lawan. Lawan tinggal bertahan, lalu melancarkan serangan balik dan mencetak gol. Transisi menyerang ke bertahan menjadi masalah utama. Bermain dengan gaya yang sama selama 22 tahun membuat lawan mulai mengenali pola permainan dan rencana-rencana Wenger selama pertandingan, sehingga lawan semakin mudah untuk mengantisipasinya. Saat Britania Raya kedatangan Juergen Klop lalu Pep Guardiola, Wenger semakin kesulitan bersaing. Wenger tidak mampu beradaptasi dengan sepak bola modern yang semakin dinamis. Setelah desakan fans dan manajemen, akhirnya Arsene Wenger resmi mundur di akhir musim 2017-2018. Sebuah momen mengharukan yang harus dilakukan, demi kebaikan klub yang sudah Wenger besarkan seperti anak sendiri.

Zaman semakin menantang dan dinamis, menuntut Arsenal untuk berkembang lebih baik lagi. Mulai banyak rumor pelatih setelah Wenger meninggalkan jabatannya. Unai Emery yang akhirnya menggantikan Le Professeur di kursi kepelatihan. Musim pertama kepelatihan Emery cukup menjanjikan dengan sempat mengukir 22 pertandingan tanpa kekalahan di semua kompetisi, mengakhiri liga di posisi ke-5 satu strip lebih tinggi dari musim sebelumnya, hingga mencapai final Liga Eropa. Seiring waktu kondisi tim tidak baik ditambah kekalahan 1-2 dari Eintracht Frankfurt di Liga Europa, manajemen Arsenal memecat Unai Emery setelah 18 bulan mengabdi di Emirates Stadium. Tonggak kepelatihan selanjutnya diserahkan kepada Mikel Arteta. Sejauh ini sudah membukukan 8 kemenangan, 5 hasil imbang, dan 2 kekalahan di semua kompetisi. Arsenal bertengger di peringkat 9 klasemen. Patut ditunggu kelanjutan Arsenal di bawah Arteta.


Kini Arsenal sedang mengalami masa transisi. Masa ketika sebuah tim sepak bola berusaha mengembangkan timnya menjadi lebih kuat lagi. Di situ ada berbagai macam proses yang terasa pahit, namun banyak hikmah yang terkandung di dalamnya. Tim yang sedang mengalami masa transisi perlu mempelajari banyak hal untuk menjadi lebih kuat. Sebagai contoh ketika Arsenal takluk dari Olympiakos Piraeus di 32 besar Liga Eropa. Arteta kebingungan menghadapi tim yang bertahan ala parkir bis. Arteta yang masih ‘bau kencur’ alias minim pengalaman perlu banyak belajar. Mungkin dari Pep Guardiola yang menjadi gurunya dahulu, atau klub lain yang lebih sukses. Klub lain? Ya, tentu saja. Kita bisa mengambil hal-hal baik dari klub lain, yang tidak berbenturan dengan nilai-nilai yang ada di dalam Victoria Concordia Crescit. Hal-hal yang tidak sesuai tidak usah diikuti, ambil baiknya dan buang buruknya.

Mungkin Arsenal harus berguru dengan Liverpool dan Lazio untuk sabar dan belajar akan masa transisi ini. Mau tahu kenapa alasannya harus beguru dengan kedua tim tersebut? Tunggu artikel Part II ya.

Kamis, 01 Agustus 2019

SUKACITA DARI KESABARAN EMILIANO MARTINEZ (Oleh : Tirta Indah Perdana) Followers GRI


SUKACITA DARI KESABARAN EMILIANO MARTINEZ


Bermain di klub sepakbola elit di Eropa adalah impian semua pesepakbola di muka bumi, tak terkecuali Arsenal. Arsenal adalah salah satu klub teratas di Inggris. Meskipun prestasinya belum terlalu melimpah, Arsenal masih menjadi magnet bagi pesepakbola dunia, khususnya bagi pemain muda. Klub ini menyediakan ruang bagi pemain muda untuk mengembangkan diri dan bila berprestasi di klub akademi, bisa dipromosikan di tim utama. Kesempatan untuk promosi lebih terbuka dibanding klub teras lain seperti Chelsea dan Manchester City, karena kedua klub ini lebih sering membeli pemain bintang dari klub lain. Tak heran pemain akademi kedua klub ini kerap pindah di usia matang karena minimnya jam terbang di tim utama, meskipun secara prestasi lebih mentereng dari Arsenal beberapa tahun terakhir
.
Pemikiran ini diamini oleh Emiliano Martinez. Emi, sapaan akrabnya, dipinang Arsenal dari Independiente, klub Argentina pada 1 Juli 2010. Emi tidak langsung masuk tim utama Arsenal, melainkan ditempatkan di tim akademi U-18 terlebih dahulu, mengingat usianya waktu itu masih 17 tahun. Mustahil masuk tim utama, sudah ada tiga nama yang mengisi posisi mistar, yakni Manuel Almunia, Lukasz Fabianski, dan kiper baru Wojciech Szczęsny yang mengetik namanya saja harus copy-paste dari Google. Belum lagi Jens Lehmann yang sempat kembali dari pensiun gara-gara badai cedera yang menimpa Arsenal waktu itu.

Butuh waktu bagi pemain muda seperti Emi untuk bermain di tim utama setidaknya dua sampai tiga tahun.  Sempat dipinjamkan ke Oxford United, Martinez akhirnya melakoni debutnya di tim utama Arsenal di ajang Piala Liga Inggris pada 26 September 2012 menjamu Conventry City di Emirates Stadium. Arsenal menang telak dengan skor 6-1. Kemudian Martinez dipercaya oleh Arsene Wenger sebagai kiper khusus ajang Piala Liga. Wenger memang sering menjadikan ajang ini sebagai ajang unjuk gigi pemain akademi klub. Petaka bagi Emi terjadi di babak selanjutnya ketika Arsenal melawat ke Majedski Stadium bersua Reading. Arsenal diberondong 4 gol di babak pertama sebelum melakukan comeback luar biasa sehingga menang di akhir laga dengan skor 7-5. Di antara 5 gol yang bersarang di gawang Arsenal, salah satunya terjadi akibat blunder Emi, tepatnya gol ketiga. Berawal dari sepak pojok untuk Reading, para pemain Arsenal berusaha membuang bola ke depan sekaligus melakukan serangan balik. Namun usaha itu sirna karena pemain Reading sudah siap menyergap bola kembali di depan kotak penalti Arsenal. Bola kemudian diumpan ke Leigertwood yang kemudian melakukan sedikit penetrasi di half-space kanan Arsenal. Leigertwood iseng menembak bola ke gawang Arsenal yang kemudian langsung sigap ditepis Emi. Apesnya, bola yang ditepis tetap bergulir ke gawang sendiri. Skor 3-0 untuk Reading.

Melihat pertandingan ini, penulis sangat menyayangkan proses gol yang terjadi. Namun bisa dimaklumi karena yang tampil adalah pemain muda yang masih belum stabil permainanya. Kadang bisa tampil sangat baik, namun di waktu lain tampil sangat buruk. Selain itu pengalaman juga masih minim. Musim berikutnya 2013/2014, Emiliano masih belum mendapat kesempatan tampil di tim utama. Arsenal justru membeli Emiliano Viviano dari Palermo sebagai pelapis Fabianski, dan SzczÄ™sny. Alhasil, Emi dipinjam kembali ke Sheffield Wednesday. Wenger tampaknya masih belum percaya dengan kemampuan Emi, sehingga perlu “disekolahkan” dahulu.

 Akhirnya yang ditunggu telah tiba. Emi dimasukkan Wenger ke dalam tim utama sebagai kiper ketiga pada musim 2014/2015. Fabianski hengkang ke Swansea City. Kiper kedua diserahkan kepada kiper timnas Kolombia yang tampil gemilang di Piala Dunia 2014, David Ospina. Ospina akan menjadi pelapis Szczesny yang semakin matang. Emi hanya tampil 4 kali pada musim ini di Liga Primer. ”Kiper kedua aje jarang tampil, apalagi kiper ketiga, tua di bangku cadangan gue“, mungkin begitu piker Emi. Dia dipinjam kembali oleh Rotterham United selama satu bulan dari Maret hingga Mei 2015.

 Musim berikutnya semakin pelik bagi Emi, karena pada musim panas 2015 Arsenal membeli Petr Cech dari Chelsea seharga 14 juta Euro. Kita semua tahu bahwa Cech adalah kiper hebat dan berpengalaman. Ada tiga kiper hebat yang berebut satu posisi utama. Jika penulis menjadi Emi, penulis pasti memilih hengkang karena tiga kiper yang bersaing adalah kiper berkualitas. Ospina menjadi andalan di Liga Primer, Szczesny membawa trofi piala FA, Cech kenyang pengalaman dan punya mental juara. Korban dari persaingan ini adalah Szczesny yang dipinjamkan ke AS Roma selama dua musim. Emi? Dia kembali dipinjamkan ke Wolverhampton Wanderers selama satu musim. Sabar sekali Emi ini
.
Pada musim 2016/2017 tidak ada klub yang mau meminjam Emi sehingga harus siap menjadi kiper ketiga di bawah bayang-bayang Cech dan Ospina. Musim ini Emi hanya tampil dua kali di Liga Primer dan tiga kali pada Piala Liga. Musim berikutnya Emi “sekolah” ke Klub La Liga Spanyol, Getafe. Padahal sempat bermain gemilang ketika menahan dua algojo Bayern Muenchen pada adu penalti di ajang International Champions Cup (turnamen pramusim) 2017 yang berujung kemenangan Arsenal. Di Getafe Emi juga masih jarang tampil. Emi hanya tampil selama 4 pertandingan di La Liga. Akhir musim 2018, Emi mudik ke Inggris. Saat Emi pulang ke Inggris, Arsenal sudah berganti pelatih. Arsene Wenger yang mengabdi di klub selama 22 tahun menanggalkan jabatannya sebagai pelatih. Kemudian kursi pelatih dipercayakan pada Unai Emery. Tapi Emi masih belum bisa masuk tim utama. Bernd Leno didatangkan dari Bayer Leverkusen sebagai pelapis Cech yang masih bertahan. Emery juga belum yakin dengan kemampuan Emi. Mungkin dilihat dari caps yang minim pada musim-musim sebelumnya.

Akhirnya Emi dipinjamkan lagi, lagi, dan lagi. Emi “sekolah” lagi ke Reading yang memberinya petaka dulu dengan status pinjaman. Sepertinya Emi belajar banyak ketika tampil sebagai pinjaman di klub-klub Championship (divisi dua Inggris). Total 50 caps ditorehkan ketika Emi bermain di klub-klub Championship, dari Sheffield Wednesday (11); Rotterham United (8); Wolves (13) hingga Reading yang berani memainkan Emi paling sering dengan 18 caps. Di sinilah Emi ditempa mental dan kemampuannya oleh klub-klub kasta kedua Inggris. Bagaimana waktu yang tepat untuk mengoper bola kepada kawan, bagaimana menghalau bola tembakan lawan dengan aman, bagaimana mengantisipasi umpan silang, dan sebagainya.

Gayung pun bersambut. Cech memutuskan pensiun dan kembali ke Chelsea sebagai pelatih kiper. Ospina yang sejak awal musim 2018/2019 dipinjamkan ke Napoli, mempermanenkan statusnya di sana. Kini tinggal tersisa Leno. Unai Emery kini tampak siap memainkan Emi sebagai kiper kedua di musim 2019/2020 setelah beberapa waktu lalu mengatakan di konferensi pers bahwa Emiliano Martinez menjadi kiper kedua pelapis Leno. Emi selalu dimainkan di laga pramusim bergantian dengan Leno. Dari penampilannya selama pramusim, Emi tampil cukup baik. Emi sangat unggul di bola udara dan memiliki reflek yang sigap dan tegas. Salah satu momen terbaik adalah saat membendung tembakan Serge Gnabry  dari luar kotak penalti saat melawan Bayern Muenchen.

Dengan tinggi 194 cm dan usia 26 tahun, serta kontrak yang terikat hingga 30 Juni 2022. Kesempatan Emi untuk mengembangkan karir di tim utama masih terbuka lebar. Emi dan Leno akan bahu membahu mengawal gawang Arsenal di tengah kompetisi yang padat. Ada empat turnamen yang diikuti Arsenal nantinya : Liga Primer, Piala FA, Piala LIga, dan Europa League. Kesempatan emas ini tidak boleh disia-siakan Emi. Tempaan di Championship menjadi modal berharga mengarungi musim depan. Dengan kokohnya palang pintu terakhir ini, diharapkan Arsenal bisa mengangkat setidaknya satu trofi. Selain itu, mendapat tempat di tim utama juga bisa membuat Emi dilirik oleh tim nasional Argentina. Apalagi Argentina saat ini butuh pertahanan yang kuat, dan salah satunya ada di pundak Emi. Patut ditunggu aksi Emi musim depan.

Dari Emiliano Martinez kita belajar, bahwa kesabaran itu membuahkan hasil. Setelah penantian yang panjang selama sembilan tahun akhirnya Emi masuk tim utama Arsenal. Kesabaran Emi bagaikan air sungai yang mengalir ke laut. Dari mata air di pegungungan terus berjalan dan mengalir melewati lika liku kehidupan. Walaupun banyak yang menghalangi air tetap tidak berhenti, meskipun alirannya menjadi lambat. Air terus mengalir sampai mandapatkan celah dan terus berjalan, hingga akhirnya sampai ke hilir dan sampai di laut. Laut adalah tim utama Arsenal, dan akhirnya Emi sampai di sana. Pengalaman hidup Emi menjadi pelajaran bahwa kesabaran dibarengi keteguhan hati akan membuahkan hasil. Buena Suerte, Emi!
Referensi :

 

Senin, 01 Juli 2019

Rules FPL x GRI Season 19/20

  1. Follow sosmed GRI (Twitter,LINE,IG) terserah pilih salah satu
  2. Follow Akun FPL x GRI di twitter
  3. Follow akun sosmed partner kami yang menyediakan hadiah untuk kalian tentunya di @budiwib_bw
  4. Wajib menggunakan pemain Arsenal selama satu season penuh, tidak boleh menjual pemain Arsenal dalam kondisi apapun
  5. Harus ada 3 pemain Arsenal WAJIB !
  6. Tidak ada larangan menggunakan pemain dari tim manapun.
  7. 1 orang hanya boleh menggunakan satu akun
  8. Tag teman kalian sebanyak-banyaknya, jika sudah sesuai rules, mention twitter FPL GRI dengan Nama manajer - nama team (contoh) Alex Iwobi - Fisherman FC
  9. Untuk sementara hadiah hanya untuk peringkat 1&2 di akhir musim (jika ada hadiah lain info segera menyusul)
  10. FPL x GRI season ini Gratis tentunya, kami tidak bertanggung jawab jika ada oknum-oknum yang meminta biaya untuk FPL ini, karena kami sudah mengungumkan gratis.

Kamis, 23 Mei 2019

Perlukah Menambah Bek Tengah ?

Kemarin kita telah mengupas posisi penjaga gawang di Arsenal yang menyisakan Leno, dan kepulangan Martinez. Kemudian posisi bek kanan yang menurut saya sedikit ada celah yang justru lebih berbahaya jika tidak disadari oleh Emery. Dan sekarang kita akan sedikit berbicara bek tengah Arsenal yang di rasa “kurang” solid. Emery sering juga menggunakan posisi 3 bek tengah bahkan. Untuk saat ini stok bek tengah Arsenal tersisa Lolo (Koscielny), Musti, Papa, Mavro, dan Rob Holding. Sedikit bertambah pemain centre-back Arsenal ketika Calum Chambers dalam masa peminjamanya di Craven Cottage sudah habis dan Krystian Bielik juga siap bersaing untuk posisinya di Arsenal.

Lolo dan Papa
Koscielny memilih bertahan di Arsenal ketika rekan-rekan sejawatnya memilih hengkang. Alhasil ban kapten pun kini melingkar di lenganya. Usia Lolo kini sudah menginjak 33 tahun. Performanya pun kian menurun dengan seringnya mengalami cedera. Cedera adalah juga mimpi buruk yang membuat Koscielny harus tersingkir di detik-detik akhir menjelang penentuan Skuad Timnas Perancis di Piala Dunia 2018. Dan yang ternyata Perancis berhasil menjuarai turnament 4 tahunan tersebut. Bahkan diawal musim 18/19 ini Koscielny sempat di isukan akan terdepak dari skuad Emery dan akan kembali pulang membela klub lamanya St. Lorient. LOSC Lille, Olm. Marseille, dan AS Monaco pun tak tinggal diam ketika mendengar bahwa Kos akan segera di jual. Namun pada akhirnya Lolo menolak ketiga tawaran tersebut dan memilih untuk tetap berseragam Arsenal dan fokus untuk pulih dari cedera Achillesnya saat itu. Lille pun beralih pada Jose Fonte, dan Monaco akhirnya merekrut Naldo dari Schalke. Kontrak pria kelahiran 10 September ini tersisa satu musim lagi hingga 2020. menurut kalian apakah Kos harus segera di jual untuk mendapatkan dana tambahan transfer ? atau membiarkan Kos menghabiskan masa baktinya hingga tuntas 10 tahun bersama Arsenal ?

Sedangkan untuk Sokratis, yang baru didatangkan dari Dortmund musim ini juga tidak terlalu impresif penampilanya, dan memang kedatanganya sedikit banyak sangat membantu lini pertahanan The Gunners yang carut marut. Usia papa juga sudah menginjak kepala 3. Permainan lugas Papa dalam menggalang lini belakang Arsenal juga cukup memberi rasa aman untuk para pemain belakang Arsenal lainya. Tepat 9 Juni nanti Papa bertambah 1 tahun usianya. Memang usia tak menjadikan patokan dalam setiap performa pemain. Tetapi untuk Papa, statistiknya di musim perdana untuk Arsenal juga tidak terlalu buruk. Tackle Papa musim ini juga mencapai angka 60%. Meskipun masih kalah dari jumlah rata-rata tekel Holding dan Mustafi. Mungkin Arsenal juga masih bisa mempertahankan Sokratis untuk musim depan dan Papa juga bisa menjadi mentor rekan senegaranya yaitu Dinos.

Mustafi dan Holding
Penampilan Mustafi dalam beberapa pertandingan terakhir bersama Arsenal memang mengundang banyak pertanyaan. Dimana Musti tidak bermain sesuai kapasitasnya. Beberapa kali Musti menjadi biang keladi terhadap gol yang terjadi ke gawang Leno dan Cech. Para Gooners pun juga sudah kehilangan kesabaranya terhadap Mustafi. Dimana kini Musti juga mendapat gelar “Lord” dari netijen di luar sana. Bahkan Mustafi kini levelnya juga disandingkan dengan Chris Smalling (sama-sama sering membuat blunder). Jika kita menarik ke belakang, kita mengingat dimana dulu, bahwa ketika Arsenal bermain dan Mustafi juga selalu ada di starting line-up, Arsenal adalah tim yang paling jarang kalah dan paling jarang kebobolan. Tapi musim ini semuanya berubah, ketika Mustafi tampi under performance. Inter Milan dengan tangan terbuka siap menampung Mustafi jika benar pemain Muslim ini masuk dalam daftar jual The Gunners. So, keep or Sell Musti ?

Rob Holding sendiri mengakhiri musim terlebih dahulu dari rekan-rekanya ketika Arsenal sedang away ke Old Trafford. Holding mendapat cedera ligament yang sangat parah, dan kemungkinan harus absen kurun waktu 8-9 bulan. Malang nasib Holding, dia mendapat cedera ketika sedang dalam performa terbaiknya. Musim ini sebelum cedera Holding sudah sedikit berubah menjadi bek yang tangguh dalam duel udara, Holding mencatatkan menang duel udara sebesar 70%. clearances 37, block shot on target 7, dan interceptions danger area 12x. Holding juga merupakan bek yang rajin membawa bola dengan total 3x dribble succes dan 614 umpan dan mencapai 88% umpan akurasinya. Rob kini sudah semakin matang, hanya tinggal menunggu waktu untuk Rob benar-benar pulih dan menunjukkan kapasitasnya dengan harga beli Arsenal yang hanya 3 juta Euro dari Bolton.

Dinos, Chambers, dan Bielik
Konstantinos merupakan pemain peninggalan Sven Mislintat. Namun banyak orang mengira bahwa Dinos merupakan salah satu “floop” untuk Arsenal. Dinos lebih sering bermain untuk Arsenal U-21. Postur tubuh Dinos sebenarnya bisa mengisi kekurangan dimana bek tengah Arsenal tidak memiliki bek yang cukup tinggi (Lolo 185cm, Papa 186cm, Musti 184cm, dan Rob 188cm). Akan tetapi Mavro masih terlalu muda untuk bersaing dalam skuat utama. Mavro juga minim jam terbang. Itu sebabnya Mavro masih sering dimainkan di Arsenal U-21. musim ini Mavro hanya tampil 4x di ajang Liga Inggris, usianya masih 21 tahun, mungkin Dinos bisa lebih berkembang jika di beri kesempatan untuk di pinjamkan ke klub lain dalam kurun 1-2 musim.

Calum Chambers adalah salah satu pemain yang menjadi contoh untuk Mavro. Chambers sudah 2x menerima masa peminjaman ke klub lain (Middlesbrough dan Fulham). Terakhir Calum bermain untuk Fulham. Di Fulham posisinya sering ber ubah-ubah. Namun ini sangat menguntungkan bagi Calum yang di proyeksikan bisa bermain di berbagai posisi lini belakang Arsenal. Posisi aslinya adalah bek kanan, tapi Wenger lebih suka menempatkan Chambers sebagai bek tengah. Di Fulham juga demikian, bahkan di geser sedikit kedepan menjadi gelandang bertahan. Jadi masa peminjamanya di Fulham sangat membuahkan hasil untuk penempatan posisinya. Hanya tinggal bagaimana Calum bisa menunjukkan performa terbaiknya dan bersaing bersama pemain belakang lainya. Jadi Chambers sangat membantu untuk lini belakang Arsenal di musim depan.

Satu lagi nama pemain Arsenal yang pulang dari masa peminjamanya. Bielik menjadi pemain penting di Charlton. 31 penampilan Bielik di hiasi dengan 3 gol dan 2 asis. Bielik lebih sering bermain sebagai centre-back di Charlton. Tapi Bielik juga sering di geser ke posisi aslinya sebagai gelandang bertahan. Bielik juga mungkin sudah puas di pinjamkan ke tiga klub asal Inggris (Birmingham, Walsall, dan Charlton). Bielik masih berusia 21 tahun, akan sulit jika kembali ke Arsenal dan bersaing dengan gelandang bertahan Arsenal yang ada. Nama Xhaka Torreira, dan Guendouzi sudah pasti akan menghiasi tim reguler Arsenal musim depan. Jika Bielik tak ingin bernasib seperti Elneny yang hanya menjadi bench warmer. Sebaiknya Bielik meminta untuk di pinjamkan kembali. Atau bahkan dijual, karena kontrak Bielik akan berakhir pada 2020.

Kesimpulan
Opini saya mengenai beberapa pemain diatas, yaitu, Koscielny dan Papa lebih baik dipertahankan, dan bisa menjadi mentor bagi bek bek muda Arsenal lainya.
Sedangkan untuk Mustafi, sebaiknya Arsenal sesegera mungkin menjual Mustafi karen usianya juga masih 27 dan harga yang kemungkinan akan di dapat Arsenal juga lumayan tinggi untuk seorang Mustafi “Sang Juara Dunia”. Rob Holding juga harus dipertahankan sembari menunggu masa pemulihanya.
Untuk Chambers, musim ini harus menjadi musim pembuktianya selama ini bahwa masa peminjamanya tidak sia-sia dan bisa bersaing di posisi bek tengah utama Arsenal. Untuk Dinos dan Bielik mungkin lebih baik dipinjamkan terlebih dahulu agar benar-benar mematangkan talenta yang dimilikinya. Jadi apakah Arsenal harus membeli bek tengah baru, menurut saya sendiri ya. Tetapi kembali mengingat budget Arsenal yang sangat minim. Kannemann bisa menjadi opsi yang sangat murah untuk Arsenal. Jika ingin pemain gratis ada Gary Cahill yang sangat berpengalaman di Liga Inggris. Kemudian nama-nama bek muda berbakat seperti Saliba dan Hermoso menjadi incaran klub klub top Eropa, apakah Meriam London memerlukan pemain seperti mereka ? Jadi siapa menurutmu pembelian bek tengah yang realistis untuk Arsenal ?

writer : IG @gerryknoxvillee

Sisi Kanan Yang "Sedikit" Mengkhawatirkan

Sisi Kanan Arsenal Yang “Sedikit” Mengkhawatirkan

Ketika Hector Bellerin harus menepi dengan waktu yang cukup panjang, Arsenal seperti kebingungan untuk mencari pengganti yang pas. Stephan Lichtsteiner yang di dapatkan cuma-cuma dari Juventus juga tak memberikan dampak yang signifikan bagi pertahanan Arsenal. Kemudian ada anak muda yang di paksa bermain tidak sesuai dengan posisinya. Ainsley-Maitland Niles namanya. Ketika masih bermain untuk Arsenal Youth, posisinya adalah gelandang tengah atau central-midfield lebih tepatnya. Dan masih ada Carl Jenkinson, sosok Gooner yang tak pernah di rindukan oleh fans Arsenal yang jarang mendapat kesempatan bermain. Mari kita ulas satu persatu bek kanan yang ada di Arsenal saat ini.

Hector Bellerin
Sudah 4 musim ini Hector Bellerin mengisi right back Arsenal sebagai pemain utama. Dari Debuchy hingga Chambers tak mampu menggoyahkan posisi inti Hector.

- Kelebihan : Pemain kelahiran Badalona ini memiliki keunggulan dalam kecepatan, sprint atau lari jarak pendek Bellerin tak bisa dianggap remeh, mantan rekan Bellerin, Theo Walcott yang juga memiliki keunggulan dalam lari jarak pendek, juga mengakui bahwa jika dalam latihan pesaingnya dalam melakukan sprint adalah Bellerin.
Passing juga salah satu menjadi kelebihan Hector. Rataan operan sukses Hector per pertandingan mencapai 41,32 pass. Ini juga menunjukkan bahwa Bellerin juga rajin mendapat bola dan ikut andil dalam membentuk serangan ke lini depan
Dan yag terutama adalah key pass dari Bellerin yang sering menciptakan big chances created. Musim ini Bellerin hanya tampil 19x di PL, dan menciptakan 4 big chances created.
Tackling juga menjadi salah satu senjata ampuh Hector untuk menghentikan lawan. Tackling succes Bellerin musim ini mencapai 80% dari 15 percobaanya.

- Kekurangan : Crossing menjadi salah satu hal penting untuk menjadi seorang fullback/wingback dalam mengirim umpan ke daerah kotak penalti. Crossing juga menjadi salah satu masalah besar pria bertubuh 178cm ini. Memang Bellerin menyadari kekuranganya ini. Bellerin menutupi kekuranganya ini dengan jarang memberikan umpan silang jika memang benar-benar dirasa harus melakukan umpan silang. Terbukti Bellerin lebih sering melakukan umpan-umpan datar atau cut-back. Crossing accurary pemain ber aksen British ini bahkan hanya mencapai angka 23%.
Kelemahan lain Bellerin adalah dimana dia kurang suka berduel di udara, mungkin mengingat bagaimana postur tubuh Bellerin yang tidak terlalu tinggi dari 45x percobaan, 21 duel udara yang berhasil dimenangkan.

Stephan Lichtsteiner
Stephan di datangkan dari Juventus memang di proyeksikan untuk menjadi pelapis Bellerin. Tetapi selama dia bermain untuk Arsenal, belum ada penampilanya yang berhasil memikat fans Arsenal, kecuali ketika dia sedang berduel dengan Ashley Barnes di laga penutup PL.

- Kelebihan : Tak perlu dibantah, pengalamanya bersama Juventus dalam menjuarai dan menguasai Serie A sangat luar biasa. Sosok kharismatik dari Stephan memang di kagumi banyak rekanya di Juventus. Itu juga yang di lontarkan rekan satu tim Nasionalnya, Granit Xhaka, bahwa Stephan adalah sosok yang dewasa dan melindungi teman-temanya.
Passing juga menjadi salah satu kelebihan Stephan. 480 umpan suskses selama dia bermain di PL sudah berhasil dia torehkan. Stephan juga memenangkan 22 duel udara dalam 42x percobaanya. Dan total clearances Stephan mencapai 23, yang artinya dia sering berada di saat yang tepat jika Arsneal sedang dalam posisi diserang.

- Kekurangan : Lagi-lagi crossing menjadi problem untuk Arsenal. 3% adalah presentase umpan silang Stephan dari 30 crossing yang sudah dilayangkan. Eks kapten Swiss ini juga tercatat melakukan sekali blunder yang berbuah gol untuk Arsenal
Usianya sudah 35 tahun, Stephan sudah tidak sekuat dan segesit 7/8 tahun lalu, tenaganya juga sudah tidak bisa dipaksakan untuk selalu bermain 90 menit.

Ainsley-Maitland Niles
Di gadang-gadang menjadi pemain muda sukses di Arsenal, sepertinya Niles harus rela menjadi percobaan setiap pelatih yang menangani Arenal. Ketika di era Wenger, Niles pernah di paksa bermain sebagai bek kiri. Dan kini di era Emery, Niles hanya bergeser ke kanan. Padahal dia adalah seorang central-midfield.

- Kelebihan : Ainsley adalah seorang pemain yang memiliki label Versatile. Dimana dia bisa bermain di berbagai posisi. Namun belakangan ini Ainsley lebih sering bermain di posisi bek kanan
Dribbling menjadi kelebihan Niles dalam setiap kali membantu serangan Arsenal. Niles berani melakukan tusukan-tusukan ke dalam kotak penalti lawan. Setiap pertandingan Ainsley melakukan 2x dribblie succes.
Tendangan jarak jauh Ainsley juga tidak terlalu buruk, ini adalah hal baik yang di miliki Niles dimana ketika dia juga berposisi sebagai bek, tetap berani melakukan Long-Shot. Dari 5x total shot Niles musim ini, 3 diantaranya mengarah ke gawang.

- Kekurangan : Lagi dan lagi, crossing menajdi sebuah masalah yang belum bisa ditemukan solusinya oleh Arsenal. Dari 18x umpan silang Niles, hanya 6% presentase umpan silang sukses Niles.
Disiplin adalah masalah terbesar Maitland Niles, dimana ketika Arsenal mendapat counter attack, Niles sangat lambat untuk kembali ke posisinya.
Duel udara Niles juga sangat lemah, dimana dia hanya menang 6x dari 18 aerial duel.
Carl Jenkinson
Tak banyak penampilanya musim ini. Jenkinson bisa dibilang pemain yang “cukup” senior di Arsenal. Ketika waktu masih muda, Jenkinson di perkirakan memiliki prospek yang cerah di Arsenal, dimana Jenkinson juga sukses berkompetisi dengan Bacary Sagna di posisi bek kanan. Tak banyak yang bisa saya uraikan mengenai Jenkinson, karena memang musim ini Jenko sangat minim mendapat kesempatan bermain. Mungkin ini adalah musim terakhir Jenko berseragam The Gunnes, klub favoritnya sejak masih anak-anak. Permainan terbaik Jenko adalah ketika Arsenal sedang away ke Allianz Arena, markas Bayern, dan Meriam London berhasil menang 0-2 dan Jenko terpilih sebagai man of the match .Mungkin Jenko akan menemukan kesuksesanya di luar Arenal, sudah cukup pembuktianmu selama ini kepada para Gooners. Saya yakin Jenko memiliki tempat tersendiri di hati para Gooners.

Harapan
Semoga dalam waktu dekat Arsenal bisa segera menemukan bek kanan untuk menjadi pesaing Bellerin. Kepulangan Chambers mungkin memang akan menambah kualitas lini belakang Arsenal. Tetapi Chambers sekarang lebih bergeser sebagai centre-back dan bahkan bisa menjadi gelandang bertahan.
Mungkin Arsenal bisa merekrut minimal 1 bek kanan baru, sembari menunggu Bellerin pulih.
Aaron Wan-Bissaka, 21 (Crystal Palace) bisa menjadi opsi jika The Gunners membutuhkan pemain muda, tetapi Crytal Palace sudah mematok harga yang sangat tinggi, yaitu sekitar 60 juta Euro. Mengingat Wan-Bissaka adalah pemain homeground.
Matt Doherty, 27 (Wolves) Tipe dan gaya bermain Doherty sangat mirip dengan Bellerin, dan Doherty juga bisa bermain di posisi bek kiri. Akan tetapi Doherty baru saja mengikat janji setia bersama Wolves hingga 2023. Biaya untuk menebus klausul Doherty pasti sangat tinggi.
Matteo Darmian, 29 (Manchester United) Jika ingin mengamankan budget transfer, Darmian menjadi target masuk akal. Karena status Darmian setelah bulan Juni habis adalah bebas transfer, yang dimana jika Arsenal ingin merekrut Darmian hanya tinggal membayar gaji Darmian saja. Darmian juga bisa bermain di posisi bek kanan dan kiri.

Ke tiga pemain di atas adalah murni opini atau harapan saya sendiri. Jika kalian memiliki keinginan atau pemain lain untuk bek kanan Arsenal, silahkan berkomentar dan berikan alasan kalian.

writer : IG @gerryknoxvillee

Siapa Yang Datang dan Siapa Yang Hengkang

Terdengar isu mengenai budget transfer Arsenal musim mendatang yang hanya mengeluarkan 40 juta euro. Budget yang sangat minim sekali untuk Arsenal bisa mendatangkan pemain bintang baru. Atau minimal bisa mendatangkan pemain muda berkualitas untuk mendongkrak performa tim di musim depan. Tetapi, itu hanya jika Arsenal gagal masuk ke Champions League, dengan kata lain, Arsenal harus bisa mengambil jalur prestasi dengan memenangkan Final Europa League minggu depan melawan Chelsea. Dengan memenangkan final tersebut, otomatis Arsenal lolos langsung ke Liga Champions musim depan. Dan kemungkinan budget untu belanja pemain baru juga pasti bertambah, karena Arsenal juga mendapatkan hadiah uang dari hasi juara Europa League (jika juara).
Anngaran belanja Arsenal bisa saja meningkat, namun dengan kata lain, The Gunners harus segera menjual pemain-pemain yang masih memiliki nilai jual tinggi atau pemain yang bergaji tinggi. Dengan demikian dapat mengurangi beban gaji Arsenal dan menambah pendapatan untuk transfer budget.
Arsenal sudah kehilangan Petr Cech, Danny Welbeck dan Aaron Ramsey pada akhir musim karena kontrak mereka berakhir, dengan yang terakhir menyetujui kesepakatan yang menguntungkan dengan Juventus. Ada juga laporan yang mengklaim Mesut Ozil, Henrikh Mkhitaryan, dan Shkodran Mustafi akan dijual musim panas ini. Unai Emery berharap untuk mendatangkan lima pemain baru sebagai bagian dari rencana pembangunan besar skuad utama The Gunners. Dan juga Lichtsteiner, Jenkinson yang juga diambang pintu keluar.

Target penjualan
Berhembus kabar yang sangat kencang bahwa musim depan Ozil, Mkhi, dan Mustafi tidak masuk dalam rencana Emery. Maka dari itu 3 nama tersebut dalah nama-nama yang santer diberitakan akan di jual oleh Arsenal pada musim panas ini. Ozil memiliki gaji tertinggi dengan 350.000 Euro per perkan. Beban gaji Arsenal juga sedikit lumayan berkurang dengan pensiunya Petr Cech (100.000 Euro) dan hengkangnya Danny Welbeck (70.000 Euro). Jika berhasil menjual Mkhi (180.000 Euro) dan Mustafi (90.000 Euro) akan sangan meringankan beban gaji Arsenal, namun The Gunners juga harus pandai-pandai bernegosiasi, mengingat semua pemain yang masuk target penjualan sudah bisa di katakan memiliki usia yang tua. Ozil Mkhi dan Musti sama-sama memiliki kontrak hingga 2021. Jadi masih memungkinkan untuk mendapatkan harga yang sekiranya pantas untuk ke-3 pemain ini.

Target pembelian
Emery mengatakan jika memungkinkan, Emery ingin mendatangkan 5 pemain baru untuk membangun tim baru yang di harapkanya. Nama pertama yang santer yaitu Ryan Fraser (Bournemouth). Fraser memang sedang menjadi rebutan tim-tim Liga Inggris. Fraser memiliki kisaran harga 16-20juta Euro, dan kisaran gaji Fraser sekitar 27-30ribu Euro per pekan. Fraser masih menjadi target yang masuk akal untuk Arsenal dengan kualitas yang “lumayan” mumpuni dari Fraser.
Nama kedua yang menjadi incaran Arsenal masih dari posisi sayap kiri, Nicolas Pepe (Lille). Pepe memang sudah sejak lama menjadi incaran, mulai dari Januari lalu. Hanya saja bukan hanya Arsenal yang menginginkan jasa Pepe, belakangan ini Manchester United yanjg paling kencang mendekati Nicolas Pepe. Dan yang terpenting harga Pepe sudah pasti selangit ! kisaran harga Pepe 36-40juta Euro. Harga yang sangat tinggi untuk kisaaran pemain muda.
Dan yang ke-3 adalah Walter Kannemann. Usianya sudah 28 tahun dan belum memiliki pengalaman bermain di Eropa. Untuk posisi bek tengah, nama Kannemann juga masih masuk akal untuk Arsenal, dengan kisaran harga yang tidak terlalu mahal, sekitar 4-5 juta Euro. Namun terlalu beresiko karena minim jam terbang di Eropa dan harus beradaptasi dengan sepak bola Inggris.

Unai Emery Know Best !
Terlepas dari semua isu-isu yang beredar, untuk siapa yang datang dan siapa yang pergi, saya sendiri masih sangat percaya dengan Emery, meskipun Arsenal masih sering bermain tidak konsisten, tetapi perubahan permainan di bawah Emery sangat menonjol. Untuk bersaing dengan Liverpool dan Manchester City musim depan, Arsenal benar-benar harus melakukan perubahan yang sangat signifikan. Terutama pada posisi-posisi yang sangat lemah seperti CB dan LW/LM karena memiliki banyak celah.
Bagaimana menurut kalian ? apakah masih percaya dengan Unai Emery ? menurut kalian siapa yang layak di jual ? dan siapa yang benar-benar dibutuhkan Arsenal saat ini ? ya, saya tau semua ini masih berat selama Kroenke masih berada di Arsenal, tetapi tidak ada salahnya kita berharap yang terbaik untuk tim favorit kita. COYG !

writer : IG @gerryknoxvillee