Senin, 10 Agustus 2020

LIKA LIKU KEBIJAKAN TRANSFER ARSENAL

LIKA LIKU KEBIJAKAN TRANSFER ARSENAL

Bila mendengar kata Arsenal pasti ada satu pesan yang terbesit dalam benak tiap-tiap supporter sepakbola seperti tim ini adalah tim besar, klub yang memiliki sejarah yang panjang, dan masih banyak lainnya. Tapi pasti kita semua setuju bahwa tim ini adalah tim yang pelit saat dihadapkan dengan bursa transfer pemain. Tiap tahun manajemen Arsenal selalu d6ikecam oleh berbagai golongan karena kebijakannya tersebut. Di saat tim-tim besar melakukan perombakan besar-besaran untuk membenahi timnya, Arsenal cenderung pasif dalam melakukan pergerakan untuk membeli pemain.

Semuanya bermula dengan kehadiran Arsene Wenger pada tahun 1996. Datang dari klub antah-berantah, banyak fans yang meragukan kualitas manajer berpaspor Prancis itu. Seiring berjalannya waktu nyatanya keraguan itu mulai luntur ketika ia dapat mengantarkan Arsenal meraih gelar Premier League-nya yang pertama pada tahun 1998. Selain itu Wenger juga mempersembahkan trofi FA Cup dan Community Shield di tahun yang sama. Hebatnya, kala itu Arsenal memenangkan liga dengan nama-nama yang kurang familiar. Namun berkat sentuhan Wenger, nama-nama seperti Anelka, Petit, Bergkamp, dan Viera mulai mencuat ke permukaan sebagai pemain yang mempunyai kualitas jempolan. Mulai dari situlah awal dari citra Arsenal sebagai klub yang menghasilkan pemain bintang.

Peran Wenger tentunya memiliki andil besar dalam pesatnya perkembangan Arsenal di tanah britania. Tidak seperti klub lainnya, Wenger mempunyai jalan sendiri untuk meraih kesuksesannya di Arsenal. Ketika pelatih lain berlomba-lomba mencari nama besar untuk memperkuat timnya, Wenger lebih tertarik mendatangkan pemain muda/pemain setengah jadi yang tentu harganya tidak semahal pemain-pemain yang memiliki nama besar namun memiliki kualitas yang dapat bersaing dengan jajaran pemain top lainnya. Kejelian mata Arsene Wenger ini yang membuat Arsenal selalu mencetak pemain bintang setiap tahunnya. Memadukan pengalamannya dengan pemain senior lainnya, Wenger berhasil menempa pemain muda Arsenal untuk terus berada ke puncak performanya. Belum lagi dengan penguasaan tujuh bahasanya membuat dirinya dapat lebih dekat dengan pemain-pemainnya. Berkat kepiawannya tersebutlah ia dijuluki sebagai The Proffessor.

Wenger memang memiliki folosofi tersendiri untuk urusan transfer pemain. Bila dijabarkan secara terinci, terdapat empat indikator untuknya mendaratkan pemain ke Arsenal. Memberikan dampak terhadap tim, berusia muda, berharga miring dan nantnya bisa memiliki nilai jual yang tinggi. Diawal masa kepelatihannya, Wenger memang tidak pernah tergoda untuk mendatangkan pemain bintang. Menurutnya kedatangan pemain bintang hanya membuat para fans berekspetasi lebih banyak pada pemain tersebut sehingga memberikan tekanan terhadap pemain. Sebaliknya, bila pemain tersebut tidak terlalu terkenal maka beban yang dipikul tidak lah besar. Hal tersebutlah yang membuat banyak pemain muda Arsenal terus berkembang sehingga dapat bersaing dengan nama-nama besar lainnya.

Ambisi Wenger untuk membawa Arsenal untuk menjadi tim papan atas liga inggris sangatlah besar. Selain merusak dominasi Liverpool dan Manchester United di dalam lapangan, ia bertekad untuk meneruskan dominasinya di luar lapangan. Manchester United tentunya tim yang memiliki garis keturunan supporter yang amat banyak. Dukungan para supporter yang sangat besar itulah yang membuat United memiliki sokongan kekuatan finansial yang amat besar. Dibandingkan Arsenal, MU kala itu memiliki kekuatan finansial bagaikan langit dan bumi dengan para kompetitornya. Melihat hal tersebut Wenger pun tidak tinggal diam, beribu cara ia pikirkan untuk setidaknya mengimbangi kekuatan finansial United. Akhirnya tercetuslah ide dari Wenger untuk membuat stadion baru. Menurut Wenger, cara ini adalah cara satu-satunya untuk mendongkrak kekuatan finasial dari Arsenal. Setelah mendesak dan mendiskusikan dengan para petinggi Arsenal, akhirnya pembangunan stadion pun terlaksana dengan memakan waktu dua tahun, dalam rentang waktu 2004-2006 yang mana sekarang dikenal dengan Emirates Stadium.

Pembangunan Emirates yang usai pada 2006 tentunya membawa warna baru Arsenal. Stadion berkapasitas 60.000 kursi ini membuat Arsenal semakin dikenal oleh banyak pihak. Hal ini menimbulkan engagement terhadap fans-fans sepakbola yang ada untuk memilih menjadi Gooners, sebutan untuk para fans Arsenal. Belum lagi dengan infrastruktur yang tergolong lengkap tentunya menunjang pembangunan klub kea rah yang lebih baik. Namun, pembangunan stadion ini bagai pisau bermata dua. Dibalik kemegahannya, pembangunan stadion yang menjadi tanggung jawab para petinggi Arsenal beserta Wenger ini dibangun dengan hutang dari berbagai bank yang ada di tanah Britania. Jumlahnya pun tidak tanggung-tanggung, hampir mencapai 390 juta pundsterling. Ya kalau dirupiahkan dengan kurs sekarang bisa mencapai 7,4 trilliun. Angka yang sangat fantastis untuk pembangunan sebuah stadion di Inggris.

Para petinggi dan Arsene Wenger pun pastinya sudah paham dari konsekuensi akan keputusan membangun Emirates Stadium. Pemotongan anggaran belanja pemain Arsenal sudah pasti tidak terelakan lagi karena harus membagi pendapatannya untuk mencicil pembayaran hutang stadion. Namun Wenger tentu sudah punya solusi dari permasalahan tersebut, yakni dengan melego para pemain bintangnya untuk menyeimbangkan antara pemasukan dan pengeluaran klub. Banyak nama-nama besar yang sudah menjadi korban keganasan dari sistem ini seperti Thiery Henry, Joes Antiano Reyes, Alexandre Hleb, Emanuel Adebayor, Kolo Toure, Cesc Fabregas, Samir Nasri, Gael Clichy, Alex Song, Carlos Vela, hingga Robin Van Persie. Akibatnya selama sembilan musim Arsenal harus menahan dahaga akan trofi juara. Banyak yang mengecam tindakan Wenger yang selalu menjual pemain bintangnya, kendati sudah mendatangkan pengganti pemain bintang yang hengkang. Alasannya karena Wenger yang terkesan irit dan pasif dalam bursa transfer membuat Arsenal selalu tertinggal dengan para kompetitornya. Belum lagi dengan pemain yang didatangkan cenderung pemain muda yang belum berpengalaman atau pemain-pemain yang tidak memiliki nama besar sehingga dinilai tidak dapat membawa Arsenal dalam persaingan menuju tangga juara. Hal inilah yang menjadi keresahan setiap pendukung Arsenal dan awal dari stigma ‘pelit’ pada klub ini.

Arsene Wenger tentunya sadar bahwa filosofinya saat ini sudah mulai usang. Dia tidak dapat terus menerus mengandalkan pemain antah berantah untuk dapat menyaingi kompetitor lainnya. Faktanya, di sepak bola modern semuanya dapat lebih mudah bila memiliki kekuatan finansial yang memadai. Terbukti dengan kedatangan Abrahamovic dan Sheik Mansour yang mengubah tim sekelas Chelsea dan Manchester City, menjadi tim yang dapat bersaing dengan level domestik dan Eropa. Namun Arsene Wenger tidak serta merta terbawa arus untuk mengerahkan seluruh kekuatan finansialnya seperti halnya Chelsea dan Manchester City. Wenger membuang separuh ideologinya dalam kebijakan transfernya. Dalam arti lain ia memberikan proporsi sendiri pada tiap indikatornya. Wenger yang sekarang akan melakukan pembelanjaan pemain ketika pemain tersebut dapat memberikan dampak yang besar terhadap tim. Terbukti dengan kedatangan Mesut Oezil, Alexis Sanchez dan Pierre Emerick Aubameyang rasanya sudah memberikan jawaban pasti terhadap kebijakan transfer Wenger yang sudah berevolusi menyesuaikan zaman. Meski Wenger tetap dikritik walaupun sudah mendatangkan berbagai pemain bintang karena masih dianggap pelit tidak seperti kompetitornya, ia tetap bersikukuh bahwa transfer pemain hanya dilakukan pada lini yang dianggapnya kurang.

Selepas lunasnya hutang Emirates Stadium dan mulai datangnya pemain bintang di Arsenal, perlahan Arsenal mulai bangkit dari masa suramnya. Tiga gelar piala FA dan tiga gelar Community Shield merupakan bukti konkret dari kesabaran Arsenal. Arsenal bahkan memiliki kans untuk menjuarai Premier League di musim 2015/2016. Namun sayang, musim itu lebih berpihak pada Leicester City, walaupun kita dapat mengalahkannya di laga tandang maupun kendang. Selain itu nyatanya Arsenal masih konsisten berada di jalur kompetisi Eropa, ya walapun hanya menjadi tim yang meramaikan kompetisi tersebut.

Pencapaian-pencapain yang diraih Arsenal di masa Wenger ternyata masih belum bisa menghapuskan dahaga para fans terhadap kejayaan timnya di kompetisi domestic. Para fans pun banyak yang menggaungkan untuk menurunkan jabatan Wenger dari kursi kepelatihan Arsenal. Menurut mereka, Wenger sudah cukup lama mengabdi untuk Arsenal dan sudah saatnya untuk ia pergi secara baik-baik. Namun terdapat juga fans yang masih berharap pada pelatih berpaspor prancis itu karena dirasa masih bisa bersaing di papan atas. Akibatnya terjadi pepecahan pada kedua fans Arsenal antara kubu WengerOut dan In Arsene Wenger We Trust. Perpecahan tersebut nyatanya sudah lama terjadi di kubu Arsenal, namun lebih digaungkan pada tahun 2017 ketika Arsenal untuk pertama kalinya finish di luar zona Champions League dalam 20 tahun terakhir. Akhirnya setahun setelahnya Wenger memilih untuk pensiun setelah perjalanan panjangnya di klub yang ia besarkan.

Kepergian orang yang sangat penting tentunya sulit untuk mencari penggantinya. Petinggi Arsenal mencoba menunjuk Unai Emery sebagai penerus dari Arsene Wenger. Selain itu, Arsenal menunjuk beberapa staff baru untuk membantu kinerja Unai Emery seperti Sven Mislintat sebagai head of recruitmen dan Raul Sanheli sebagai director of football. Namun, dibalik perekrutan wajah-wajah baru dari para petingginya, Arsenal juga harus kehilangan CEO-nya Ivan Gazidis. Mundurnya Gazidis dari kursi CEO tentunya menjadi tanda tanya besar karena orang yang berpengaruh dalam penunjukan Unai Emery sebagai pelatih adalah dirinya. Gadzidis beralasan bahwa masa baktinya bersama Arsenal sudahlah usai, dan sudah saatnya untuk ia mencari tantangan baru. Posisi yang ditinggal Gazidis selanjutnya diisi oleh Josh Kroenke, anak dari pemilik klub yaitu Stan Kroenke.

Kedatangan wajah-wajah baru di petinggi Arsenal membuat pendekatan yang dilakukan tentunya berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Wenger. Arsenal mulai berani menggelontorkan banyak dananya untuk merekrut berbagai pemain. Terhitung dari kepergian Wenger sampai sekarang, Arsenal sudah menggelontorkan dana sebesar 240 jua euro, bahkan Arsenal merupakan tim yang paling boros pada bursa transfer musim panas lalu. Pembelanjaan besar-besaran ini tentunya didasari dari banyaknya pemain inti yang mulai hengkang seperti Koscielny, Petr Cech, Nacho Monreal, dan Aaron Ramsey. Kedatangan nama-nama seperti Bernd Leno, David Luiz, Dani Ceballos, Nicolas Pepe dan pemain muda lainnya, tentunya diproyeksikan sebagai pengisi posisi yang ditinggalkan pemain pilar Arsenal sebelumnya. Tentunya hal ini dilakukan untuk bukti keseriusan manajemen Arsenal untuk dapat bersaing dengan klub papan atas lainnya.

Namun hasil yang didapat tidak seperti dengan apa yang diharapkan. Arsenal terlebih dahulu kehilangan Sven Mislintat dari posisi staff head of recruitment. Mislintaat kesal dengan kerja kerasnya yang tidak dihargai oleh para petinggi Arsenal. Padahal Mislintat dikenal sebagai orang yang memiliki andil besar dalam pembentukan skuat Dortmund di tahun 2011. Kehilangan Mislintat tentunya menjadi pukulan bagi Arsenal, posisinya kemudian digantikan oleh mantan pemain dari Arsenal, Edu Gaspar. Masalah kemudian datang ketika transfer yang dilakukan di musim panas kemarin tidak terlalu berdampak besar pada klub. Di awal musim, Arsenal harus terseok-seok di ajang domestic maupun eropa. Hal ini membuat manejemen Arsenal memecat Unai Emery dari kursi kepelatihan dan digantikan oleh Mikel Arteta.

Beberapa bulan setelah dipecat, Emery membeberkan bagaimana kebijakan transfer yang ada di Arsenal. Ia menjelaskan bahwa transfer yang dilakukan oleh klub harus dirundingkan dengan petinggi lainnya yaitu Raul Sanlehi dan Edu Gaspar. Hal ini tentunya membuat Emery tidak dapat bebas melakukan pembelian pemain. Bahkan menurut Emery sendiri kedatangan Nicolas Pepe bukanlah pemain yang ingin ia datangkan. Hal itu merupakan keinginan dari pihak manajemen. Wenger sendiri memang pernah mengecam tentang adanya wacana pembuatan staff untuk perekrutan pemain. Menurutnya hal ini membatasi ruang gerak pelatih dalam menentukan pemain yang akan didatangkannya. Di era Wenger dulu, ia turun langsung dalam hal perekrutan pemain. Ia diberi kebebasan karena pemilik Arsenal sendiri pun, Stan Kroenke sangat percaya pada dirinya. Namun dimasa sekarang, Arsenal harus berunding dan satu suara dalam hal perekrutan pemain. Jangan sampai hal yang terjadi pada transfer Nicolas Pepe terulang. Sedikit menyulitkan memang, namun tentunya terdapat niat baik di dalamnya. Dengan adanya banyaknya kepala, tentunya menghindarkan Arsenal dari pembelian yang terkesan mubazir.

Sayangnya di era Arteta ini, ia harus dihadapkan dengan kondisi Arsenal yang sedang rapuh. Hasil buruk yang di alami Arsenal baik di kompetisi domestik maupun eropa berpengaruh pada kekuatan finansial klub tersebut. Belum lagi dengan kondisi ekonomi yang suram karena pandemic membuat Arsenal harus mem-PHK 55 karyawannya untuk dapat terus berinvestasi pada skuat Arsenal. 

Ya kita lihat saja bagaimana kelanjutan dari kebijakan Arsenal di era Arteta ini, mengingat Arteta sudah membuktikan kualitas dirinya dengan membawa Arsenal meraih gelar di masa terpuruknya.

Ditulis oleh: Robby Arsyadani

Sumber

Senin, 03 Agustus 2020

JALAN PANJANG ARSENAL DI FA CUP

JALAN PANJANG ARSENAL DI FA CUP

Arsenal baru saja memenangkan gelar FA Cup setelah mengalahkan Chelsea dengan skor 2-1 di Wembley Stadium. Hasil ini menambah koleksi trofi mereka di ajang tersebut dengan raihan 14 trofi, angka terbanyak dari klub inggris lainnya. Gelar juara ini tentunya sangat emosional bagi para pemain, pelatih, bahkan penggemarnya sekalipun. Bagaimana tidak, setelah dihadapkan musim yang amat buruk, Arsenal masih bisa mempersembahkan trofi untuk para penggemarnya, sebuah pencapaian yang impresif mengingat banyaknya masalah yang terjadi pada kubu Arsenal. Dimulai dari masalah pemain, pemecatan pelatih, hingga pelatih yang terpapar virus Corona, Arsenal seakan tidak direstui untuk meraih pencapaian apapun musim ini. Namun takdir berkata lain, kembalinya trofi FA Cup ke Emirates Stadium tentu menjadi modal yang baik untuk membangkitkan mentalitas pemain Arsenal dalam mengarungi berbagai kompetisi di musim mendatang.


Perjalanan Arsenal di FA Cup dimulai pada putaran ketiga. Hal ini dikarenakan aturan FA Cup sendiri yang baru memasukan klub kasta teratas liga inggris pada putaran ketiga. Di putaran ketiga sendiri Arsenal dipertemukan oleh Leeds United yang diasuh pelatih sensasional, Marcelo Bielsa. Tidak seperti kebanyakan klub Championship lainnya, Leeds United tampil dominan saat melawan Arsenal terutama di babak pertama, tercatat ada 15 percobaan penyerangan yang berhasil menekan tim tuan rumah di babak pertama. Melihat hal tersebut,  Arteta terlihat sangat marah dengan para skuatnya karena dirasa tidak menjalankan intruksinya dengan tepat. Padahal Arteta sendiri sudah memberitahu skuatnya Leeds akan bermain dengan cara seperti itu. Lacazette sendiri mengatakan saat turun minum babak pertama Arteta berteriak pada seluruh skuatnya, menegaskan bagaimana intruksinya agar marasuk pada tiap pemain Arsenal. Seakan termakan omongan Arteta, skuatnya tampil trengginas di babak kedua. Puncaknya Reiss Nelson berhasil menjebol gawang Leeds meneruksan umpan Pepe. Gol Nelson menjadi satu-satunya gol di laga itu, membuat Arsenal melaju ke babak selanjutnya.

Di laga berikutnya giliran Bournemuth menjamu Arsenal di Vitality Stadium. Mikel Arteta menurunkan beberapa pemain mudanya di laga ini seperti Bukayo Saka, Joe Willock, dan Nkketiah . Tim besutan Mikel Arteta langsung tancap gas di awal laga dengan gol yang dilesakan oleh Bukayo Saka dari sudut sempit. Saka kembali memiliki andil untuk gol kedua, setelah umpannya dituntaskan dengan baik oleh Nketiah. Dua goal Arsenal bertahan sampai paruh babak pertama. Bounemuth kemudian membalasnya dibabak kedua. Tepatnya saat memasuki injury time melalui gol Surridge. Gol Surridge menjadi gol terakhir pada laga ini. Dengan ini Arsenal melanjutkan perjalanan di FA Cup.

Fratton Park menjadi tempat selanjutnya yang harus disambangi Arsenal di lanjutan FA Cup melawan tim tuan ruah, Portsmouth. Catatan 19 laga tak terkalahkan di kandang sendiri menjadi modal penting untuk Portsmouth mengingat Arsenal sedang dalam tren buruk pasca tersingkir dari ajang Europa Leage di akhir bulan. Seakan melampiaskan kekesalannya, Arsenal berhasil menekuk Portsmouth di kandangnya sendiri dengan sumbangan gol Sokratis dan Eddie Nketiah. Hasil ini bertahan hingga akhir laga, membuat Arsenal mengemas dua cleansheaats dan lanjut ke babak selanjutnya.

Tim kuda hitam,  Sheffield United menjadi tim kedua yang memberikan perlawanan sengit untuk Arsenal di ajang FA Cup. Cara bermain yang sama dengan Leeds dilakukan The Blades pada Arsenal, pemainan tempo tinggi dan menekan musuh di daerah pertahanannya sendiri. Beruntung Arsenal dapat mengalahkan Sheffield berkat gol yang dilsesakan oleh Pepe dan Dani Ceballos di menit akhir. Dengan kemenangan ini, Arsenal kembali untuk merasakan megahnya Wembley di ajang ini sejak terakhir mereka rasakan pada tahun 2017 lalu.

Juara bertahan FA Cup, Manchester City, menjadi lawan selanjutnya bagi Arsenal. Bisa dikatakan laga ini adalah titik balik mentalitas Arsenal tumbuh sebagai tim. Terlihat dari bagaimana terjadinya proses gol pertama Arsenal yang melibatkan 10 pemain, Identitas tim tertuang didalamnya dengan build up apik para punggawa yang menghubungkan berbagai sektor dengan sangat padu, seperti semboyan Arsenal, Victoria Concordia Crescit, kemenangan berawal dari keharmonisan. Gol terakhir di akhi babak yang diciptakan Aubameyang menegaskan Arsenal melenggang ke babak selanjutnya, partai final. Hal ini menciptakan rekor baru pada ajang FA Cup di mana Arsenal menjadi tim yang paling banyak masuk ke dalam final FA Cup dengan total 21 kali.

Final FA Cup musim ini bagaikan De Javu untuk Arsenal karena kembali dipertemukan dengan Chelasea di partai puncak.  Masih membekas diingatan kita kekalahan Baku yang memupuskan asa Arsenal untuk meraih trofi Europa League untuk pertama kalinya. Belum lagi kekalahan tersebut membuat Arsenal harus kembali absen di ajang Champions League musim berikutnya, membuat Arsenal untuk tiga musim beruntun bermain di kasta kedua kompetisi Eropa, pemandangan yang sangat tidak wajar mengingat Arsenal selama dua dekade terakhir selalu mentas di ajang tertinggi kompetisi Eropa.

Namun, hal yang ditakutkan itu sepertinya tidak terjadi, De Javu yang terjadi lebih memihak pada tahun 2017, ketika Arsenal berhasil menundukan Chelsea di depan ribuan fansnya sendiri di stadion kebanggaan Britania, Wembley Stadium. Sempat tertinggal lewat gol cepat Pulisic, Arsenal berhasil membalikan keadaan dengan dua gol yang dilesakan oleh Aubameyang. Ya, laga berkesudahan dengan skor 2-1. Angka yang sama seperti apa yang terjadi pada tahun 2017. Belum lagi dengan insiden kartu merah yang sama-sama terjadi pada kubu Chelsea dan dipimpin oleh wasit yang sama juga, Antony Taylor. Semesta seperti mengizinkan Arsenal untuk merasakan kebahagian di tengah badai yang sedang berkecamuk pada diri Arsenal. Kemenangan ini tentunya semakin mengukuhkan Arsenal sebagai raja dari FA Cup dengan total 14 trofi, mengungguli pesaing terdekatnya Manchester United dengan raihan 12 trofi.

Walaupun menjadi juara, Arsenal tidak boleh besar kepala. Bisa dikatakan Arsenal memenangkan trofi ini berkat jerih payah dan tekad yang sudah tertanam pada diri tiap pemain Arsenal untuk memenangkan FA Cup. Namun untuk cara bermain, Arsenal masih kurang dominan mengancam gawang dari musuh-musuhnya. Lihat saja bagaimana Arsenal harus susah payah mengalahkan Leeds United. Bahkan, di laga final, sebelum keluarnya Azpilicueta dan Pulisic, Arsenal hanya dapat mengandalkan longpass pemain belakang untuk memulai serangan. Tapi menang tetaplah menang, bagaimanapun kondisinya Arsenal selalu memanfaatkan kesalahan lawan untuk dapat memenangkan setiap laga yang dilewatinya. Sekarang serahkan semuanya pada Arteta, tidak ada yang perlu diragukan lagi. Dengan capaian satu trofi di musim yang buruk tentu sudah menjadi pembuktian kualitas dari mantan kapten Arsenal ini.

Ditulis oleh: Robby Arsyadani

Sabtu, 01 Agustus 2020

PENTINGNYA JUARA FA CUP MUSIM INI UNTUK ARSENAL 

PENTINGNYA JUARA FA CUP MUSIM INI UNTUK ARSENAL


Musim ini Arsenal finish di posisi ke-8 klasemen Liga Inggris. Pencapaian terburuk Arsenal sejak 25 tahun ke belakang. Belum lagi dengan buruknya performa Arsenal di kompetisi lain seperti tersingkirnya Arsenal oleh Olympiacos di Europa League dan kalah adu penalti dengan skuad muda Liverpool di Carabao Cup. Untungnya Arsenal berhasil melaju ke babak final FA Cup setelah mengalahkan Manchester City di semifinal. Nantinya dibabak final Arsenal akan menghadapi Chelsea yang dipartai lainnya telah mengalahkan Manchester United. Juara FA Cup disinyalir dapat menjadi obat penawar musim Arsenal yang buruk. Penulis jadi bertanya-tanya, seberapa penting menjuarai FA Cup bagi Arsenal?



Bermain di kompetisi eropa

Musim ini Arsenal finish diposisi ke-8 klasemen. Hal tersebut membuat Arsenal tidak dapat berlaga di kompetisi Eropa melalui skema klasemen liga. Jalan satu-satunya untuk Arsenal dapat tampil di kompetisi Eropa adalah dengan memenangkan FA Cup. Pasalnya, aturan FA Cup mengatakan bahwa pemenang kompetisi FA Cup berhak untuk mendapatkan satu tiket di Europa League. Bila Arsenal gagal memenangkan FA Cup maka sirna sudah harapan Arsenal untuk bermain di kompetisi Eropa.

Menambah pendapatan

Bila Arsenal gagal juara FA, mereka tidak mendapatkan hadiah sebesar 3,5 Juta Pounds. Namun, Arsenal tidak pulang dengan tangan hampa. Bila diakumulasikan total hadiah dari putaran ke-3 sampai babak final, Arsenal mendapatkan bonus sebesar 5 Juta Pounds. Namun tentunya pihak manajemen Arsenal akan berfikir ulang dalam menentukan budget pengeluaran Arsenal di musim mendatang. Ketidakikutsertaan Arsenal di ajang Eropa menjadi salah satu pemicunya. Wajar saja, ajang kompetisi Eropa memang menjadi salah satu pemasukan yang nilainya cukup menggiurkan, mulai dari hak siar, bonus, penjualan tiket dan lainnya. Ketidakikutsertaan ini tentunya akan mengggerus pendapatan Arsenal musim depan sehingga pihak manajemen akan sangat berhati-hati dalam menentukan budget transfer unutuk musim panas ini.

Mudah mendatangkan dan mempertahankan pemain

Salah satu alasan pemain betah untuk berlama-lama di klub adalah meraih banyak gelar di klub tersebut. Gelar juara meningkatkan rasa percaya diri pemain karena jerih payahnya selama membela klub tersebut akhirnya membuahkan hasil. Secara psikologis, bila seseorang mendapat atau meraih sesuatu dalam hidupnya, otak akan memproduksi dopamine. Dopamine ini menciptakan rasa senang pada tubuh manusia. Tentunya karena rasa senang ini, pemain akan betah berlama-lama di klub tersebut. Namun hal ini tidak menjamin bahwa pemain tidak akan meninggalkan klub tersebut, masih banyak variable lain yang harus diperhitungkan. Ya setidaknya salah satu variable telahh terpenuhi untuk bisa menjaga komitmen pemain di klub tersebut. Untuk mendatangkan pemainpun terkadang dibutuhkan nama besar untuk menggaet pemain incarannya. Seperti halnya De Jong yang bergabung dengan Barcelona untuk bermain dengan Messi, pemain bintang Arsenal seperti Aubameyang dan Mesut Oezil pun bisa jadi daya tarik tersendiri seperti apa yang terjadi pada transfer De Jong. Selain itu, Juara FA Cup yang menjamin tiket kompetisi Eropa juga jadi salah satu hal yang dipertimbangkan pemain yang akan bergabung untuk memilih suatu klub. Banyak klub memberikan jam terbang pada lapis keduanya saat bermain di kompetisi non-liga, kesempatan ini tentunya akan dimaksimalkan rekrutan anyar untuk membuktikan kemampuannya dan tak jarang mereka yang bermain impresif akan menggeser posisi pemain yang berada di tim utama.

Rasa kepercayaan fans terhadap klub meningkat

Juara FA memang memiliki kesan tersendiri untuk para penggemar Arsenal. Sejarah klub yang mencatat 13 gelar di kompetisi tersebut membentuk stigma klub bahwa Arsenal merupakan raja dari FA Cup. Oleh karenanya dengan menjuarai FA Cup rasanya akan sedikit mengobati hati para fans tentang musim buruk yang dialami oleh fans Arsenal. Terlebih hal tersebut akan semakin mengukuhkan posisi Arsenal sebagai penguasa kompetisi tertua itu.

Bila Arsenal gagal menjuarai FA Cup

Tentunya hal-hal terjadi di atas akan terjadi secara sebaliknya. Ya walaupun banyak dampak negative yang akan terjadi ke depannya, ada hikmah untuk Arsenal bila kalah dipertandingan puncak FA Cup. Salah satu contohnya adalah Arsenal akan lebih focus pada pertandingan liga domestic. Bila dimaksimalkan, mungkin Arsenal akan berada dijajaran empat besar mengingat para pesaingnya akan focus di beberapa kompetisi. Manajemen pun akan berbenah dan meninjau kembali berbagai kebijakan yang telah dilakukan pada musim ini. tulisan ini bukan untuk menakut-nakutkan para fans Arsenal yang membaca artikel ini, melainkan mengajak pembaca untuk siap dengan apa yang bisa saja terjadi di masa depan.

Jadi bagaimana Goons, yakin Arsenal akan menjuarai FA Cup?

Ditulis oleh: Robby Arsyadani

Rabu, 22 Juli 2020

LONDON UTARA YANG MULAI 'MEMUTIH'


LONDON UTARA YANG MULAI 'MEMUTIH'


Arsenal mengalami kekalahan usai ditekuk oleh Aston Villa dengan skor 1-0 pada lanjutan Premier League pekan ke-37 yang dihelat di Villa Park. Hasil ini tentunya menjadi torehan terburuk Arsenal selama 25 tahun terakhir. Pasalnya ini pertama kalinya Arsenal finish dibawah 60 point sejak 1995. Bahkan musim ini bisa jadi musim terburuk Arsenal karena secara sistematis Arsenal kembali finish di bawah Tottenham. Ya, sudah empat musim berturut-turut Arsenal gagal merayakan St.Totterringham Day, yang mana terakhir dilaksanakan tepatnya pada tahun 2016 silam, di mana Arsenal finish di posisi kedua, unggul satu poin dari Tottenham yang berada tepat di bawahnya.

Kini London Utara mulai ‘memutih’, tentunya bukan statemen yang menyenangkan tetapi menjadi sebuah peringatan bahwa dominasi London Utara mulai bergeser ke White Heart Lane. Selama empat tahun kebelakang Tottenham selalu konsisten berada di empat besar bahkan berpeluang juara saat musim 2017. Musim lalu pun merupakan musim yang baik bagi Tottenham, pasalnya Tottenham mampu melaju sampai babak Final UCL yang mana merupakan pencapaian tertinggi Spurs dalam kompetisi tersebut. Untungnya mereka takluk dari Liverpool 2-0, membuat Tottenham kembali merasakan puasa gelar yang sudah berlangsung sejak 2008. Sedangkan untuk Arsenal sendiri, sejak terakhir menjuarai FA Cup pada tahun 2017, Performa Arsenal cenderung menurun. Saat berkompetisi di liga, Arsenal sendiri kesulitan untuk masuk empat besar, membuat Arsenal hanya bisa bermain di Liga Europa kasta kedua kompetisi Europa.

Ya walaupun Tottenham saat ini sama buruknya dengan Arsenal, setidaknya mereka berhasil finish di atas Arsenal (lagi). Tentunya hal ini menimbulkan satu pertanyaan, kenapa Tottenham bisa finish di atas Arsenal?

Memperbaiki Teknis Permainan
Kedatangan Pochetinno dari Southampton merupakan titik balik Tottenham menggerogoti dominasi Arsenal di London Utara. Tottenham yang biasanya hanya bersaing di 10 besar Premier League, disulap menjadi salah satu tim besar layaknya Chelsea dan Liverpool untuk bersaing di papan atas Premier League. Pochetino mulai membangun tim dengan membenahi kelemahan Tottenham yang paling mendasar yaitu pertahanan. Tottenham sebelum ditukangi oleh Pochetinno memang merupakan tim yang kurang memiliki pertahanan yang rapuh. Roy Keane dalam autobiografinya menceritakan satu momen ketika Manchester United akan berhadapan dengan Tottenham. Sebelum dimulainya pertandingan Sir Alex Ferguson hanya memberikan tiga kata untuk menyemangati timnya, Lads, it's Tottenham". Kawan-kawan, ini Tottenham. Tiga kata yang menandakan buruknya Tottenham di kala itu.

Namun dibawah asuhan Pochetinno, Tottenham dibuatnya bagaikan tim yang lebih atraktif saat menyerang dan kuat dalam bertahan. Tottenham sendiri memiliki catatan impresif dalam hal bertahan. Dalam rentang waktu 2016-2019, Tottenham merupakan tim yang tidak pernah kebobolan lebih dari 40 goal, bahkan pada musim 2016-2017, Tottenham hanya kebobolan 26 goal dari 38 laga (0,69 goal/per laga). Statistik tersebut tentunya menghapus stigma buruk tentang rapuhnya lini pertahanan mereka.

Tidak hanya dalam bertahan, Pochettino memberikan pendekataan berbeda saat menyerang. Spurs yang dikomandoi oleh Pochettino lebih memainkan permainan menyerang yang atraktif dan juga offensive dengan mengurung daerah pertahanannya dengan gaya bermain possession tidak lupa dengan pressing ketat yang efektif mematikan serangan lawan dengan cepat.



Mentalitas
Selain membenahi kelemahan Tottenham, Pochettino menanamkan jiwa pemenang terhadap setiap punggawanya. Rasa tidak mau kalah selalu tertanam pada setiap pemain Tottenham. Perubahan drastis mentalitas Spurs salah satunya tergambar dalam atmosfer ruang ganti pada laga melawan Everton pada tahun 2015 silam yang berkesudahan imbang 1-1 di Goodison Park. Terlihat para pemain menyikapi hasil itu sebagai kekalahan karena mereka layak untuk memenangkan laga tersebut.

Di mulai dari hari itu, mentalitas pemain Spurs semakin terasah, Puncaknya adalah ketika mereka dapat menyingkirkan Manchester City dan Ajax Amsterdam pada ajang Champions League musim lalu. Tentunya hal tersebut bukanlah suatu kebetulan, jiwa pantang menyerah merekalah yang membuat mereka dapat mengembalikan keadaan tersebut dan melaju ke babak berikutnya.

Mentalitas yang dibangun Pochettino terus tumbuh dan berkembang, bahkan mentalitas itu masih ada pada jiwa Tottenham ala Mourinho saat ini. Terbukti ketika insiden ribut-tibut Hugo Lloris dan Son Heung-Min pada pertandingan melawan Everton pekan lalu. Lloris marah pada Son karena tidak menghalau pergerakan Richarlison yang hampir berbuah goal. Rasa benci akan kalah dan besarnya ego para pemain Tottenham menandakan tim yang akan bertanding hanya mengincar kemenangan.

Arsenal yang sekarang tidak memiliki mental seperti itu. Tidak adanya sosok yang memiliki kharisma untuk mengarahkan squad yang sekarang disinyalir menjadi lemahnya mentalitas Arsenal beberapa tahun ini. Setelah pensiunnya Wenger dan hengkangnya Koscielny, Arsenal tidak memiliki sosok yang dijadikan pemacu mental para pemainnya.

Pemain Arsenal yang sekarang memiliki ego yang besar. Ego yang besar dari para pemainnya tentunya akan menjadi baik bila ditangani oleh sosok yang tepat. Namun ketidakhadiran sosok tersebut membuat Arsenal berjalan tanpa arah yang pasti.

Ditunjuknya Arteta sebagai pelatih tentunya bisa jadi obat penawar untuk sosok yang dapat membawa Arsenal lebih baik lagi, terlebih Arteta sudah mengenal betul seluk beluk dari Arsenal itu sendiri.

Berikan waktu untuk Arteta, toh Juergen Klopp baru meraih kesuksesan di musim kelimanya.

Ditulis oleh: Robby Arsyadani

Sabtu, 18 Juli 2020

KENAPA MESUT OEZIL TIDAK DIMAINKAN ARTETA?


KENAPA MESUT OEZIL TIDAK DIMAINKAN ARTETA?


Sejak bergulirnya Premier League setelah lockdown, Mesut Oezil belum memainkan satu laga pun bersama Arsenal. Hal ini seperti berada pada kondisi yang sama saat Emery masih menjabat sebagai pelatih Arsenal.

Keputusan Arteta untuk tidak menurunkan Oezil akhir-akhir ini menimbulkan pertanyaan di berbagai kalangan. Padahal sejak Arsenal dilatih oleh Arteta, Oezil menunjukan performa yang membaik dibandingkan saat dilatih pelatih sebelumnya.

Arteta berdalih bahwa tidak diturunkannya Oezil adalah murni alasan taktik. Oezil pun secara tidak langsung menyindir Arteta di twitter pribadinya dengan mengunggah fotonya sedang berlatih dengan caption 'i am ready', tidak lupa ditulis dengan huruf kapital sebagai bentuk penegasan bahwa Oezil sudah siap untuk bermain

Lantas apa yang sedang terjadi dengan Mesut Oezil dan Arteta?





▪️Alasan Taktik

Sejak kembali bergulirnya EPL, Arteta memang kerap kali mengganti formasi terutama saat melawan tim-tim besar. Terakhir saat melawan Liverpool, Arsenal menggunakan formasi 3-4-3.

Formasi 3-4-3 sendiri merupakan formasi yang fleksibel. Ketika menyerang, polanya dapat berubah menjadi 3-2-5. Sedangkan saat bertahan menjadi 5-2-3. Praktisnya dengan formasi ini pola serangan Arsenal tergantung pada distribusi bola pemain belakang dan kokohnya pertahanan Arsenal bergantung pada kedisiplinan pemain sayap.

Kunci dari formasi ini adalah pemain yang berada di lini tengah. Para pemain harus dapat membagi fokusnya antara menyerang dan bertahan sehingga membuat pemain di lini tengah mudah kelelahan. Dibutuhkan pemain yang terampil saat menyerang dan kuat dalam bertahan untuk mendukung kinerja formasi ini.

Jadi kalau dikatakan Ozil tidak diturunkan karena alasan taktik hal itu memang benar adanya. Oezil merupakan tipikal pemain yang sangat kuat saat memegang bola, namun ketika dalam posisi tidak mendapatkan bola Oezil seperti menghilang dalam pertandingan.

Cara bermain Oezil pun pernah dikritik oleh Paul Merson ia menganggap bahwa Oezil adalah pemain terburuk saat timnya tidak memegang bola.

đź—Ł️"Jika dia tidak mendapatkan bola, dia salah satu pemain terburuk di dunia! Saya akan mengatakan itu. "

▪️Oezil saat dilatih Emery

Kondisi serupa pernah juga dialami oleh Oezil saat Arsenal masih ditukangi oleh Emery.

Setelah dipecat oleh Arsenal, Emery akhirnya buka-bukaan terkait alasannya tidak memainkan Oezil. Menurutnya Ozil tidak memiliki agresifitas yang kuat untuk bermain di Liga Inggris

đź—Ł️"Dia punya talenta yang membuat para pemain lain lebih baik. Tetapi ketika Anda ingin sedikit agresif, dia tidak punya kualitas cukup bagus di situ,"

Emery menambahkan alasan lainnya tidak memainkan Oezil karena rendahnya komitmen yang dimiliki Oezil untuk Arsenal. Bahkan ketika Emery ingin berbicara dengan seluruh pemain pasca kekalahan final UEL, hanya Oezil yang tidak datang menemui Emery.

đź—Ł️"Dia tidak datang. Dan itulah yang saya katakan soal komitmen. Ketika komitmennya 100 persen maka semua pemain harusnya datang"

Secara keseluruhan tidak ada masalah internal yang terjadi antara Mesut Oezil dengan Arteta. Akar permasalahannya berada pada cara bermain Oezil dan bagaimana kebutuhan tim saat ini

Tidak seperti di Real Madrid dan Timnas Jerman yang mana bergelimang dengan pemain-pemain yang memiliki kualitas untuk mendominasi setiap laga yang dimainkan, Arsenal yang sekarang sangat sulit untuk melakukan apa yang dilakukan oleh tim-tim tersebut.

Oezil sendiri sudah terlalu lama berada di zona nyamannya sampai ia mungkin lupa bahwa ia berada di Arsenal, bukan Real Madrid ataupun Timnas Jerman. Ia tidak bisa terus menerus mengandalkan rekan satu timnya untuk memberikannya bola, ia juga harus bekerja lebih ekstra untuk dapat berkontribusi lebih untuk Arsenal.

Namun diumur yang sudah memasuki kepala tiga, Paul Merson beranggapan sudah tidak mungkin untuk Oezil mengubah cara bermainnya.
Jadi bagaimana menurut kalian? Oezil yang menyesuaikan dengan tim atau tim yang menyesuaikan Oezil?

Ditulis oleh: Robby Arsyadani

Sumber

1. https://www.google.com/amp/s/m.republika.co.id/amp/qcsp6w348
2. https://www.google.com/amp/s/m.medcom.id/amp/1bVYroLN-menganalisa-dahsyatnya-taktik-3-4-3-antonio-conte
3. https://m.detik.com/sepakbola/liga-inggris/d-5016987/ungkap-perseteruannya-dengan-oezil-emery-dia-tak-punya-komitmen
4. https://m.liputan6.com/bola/read/4139256/unai-emery-ungkap-alasan-sering-cadangkan-mesut-ozil-di-arsenal

Selasa, 24 Maret 2020

HEI ARSENAL, MARI BEGURU DENGAN LIVERPOOL DAN LAZIO


HEI ARSENAL, MARI BEGURU DENGAN LIVERPOOL DAN LAZIO




Melanjutkan artikel sebelumnya, yang mana Arsenal harus berguru dengan Liverpool dan Lazio untuk sabar dan belajar akan masa transisi ini, disini penulis merekomendasikan Arsenal perlu belajar dari Liverpool dan Lazio. Mengapa dua klub ini yang dipilih? Karena kedua klub ini pernah mengalami nasib yang sama dengan Arsenal. Kedua klub ini mempunyai sejarah yang cukup hebat, pernah mengalami masa transisi, dan pernah mengalami masalah keuangan yang pelik. Ketiga hal yang juga pernah dimiliki Arsenal. Liverpool dan Lazio berhasil belajar dari pengalaman-pengalaman pahit yang sudah mereka lalui, lalu menghindari kesalahan-kesalahan yang sama. Akhirnya mereka memetik buahnya saat ini berupa prestasi. Kedua klub ini sama-sama melewati proses yang sangat panjang dan penuh kesabaran. Jika diperhatikan, Arsenal masih belum seberapa merana dibandingkan kedua klub ini. Arsenal terakhir juara Premier League pada tahun 2004, dengan status invincibles, tak terkalahkan satu musim penuh, yang tidak mampu digapai tim lain di Era Premier League.  Sementara Liverpool terakhir juara liga pada tahun 1990, 30 tahun yang lalu. Lalu Lazio terakhir kali juara Serie A pada tahun 2000, 20 tahun yang lalu. Mari kita bahas perjalanan kedua klub ini.

Liverpool sebenarnya sudah konsisten di papan atas Premier League sejak lama, hanya saja keberuntungan belum memihak pada mereka. Musim 2008/2009, 2013/2014. Dan 2018/2019 sudah juara paruh musim, namun akhir musim mereka inkonsisten dan gagal juara. Kiprah The Reds di kompetisi Eropa beda cerita. Mulai awal milenium ke-2 Liverpool sudah banyak menorehkan trofi, antara lain 1 Piala UEFA (Liga Eropa) pada tahun 2001; 2 Piala Super Eropa pada tahun 2000 dan 2005; serta 1 trofi Liga Champions pada tahun 2005. Setelah kemenangan dramatis atas AC Milan di final Liga Champions tahun 2005, Liverpool selalu konsisten di empat besar Liga Primer. Empat besar yang waktu itu sering disebut Fantastic Four bersama Manchester United, Chelsea, dan Arsenal. Liverpool mulai kolaps di akhir kepelatihan Rafael Benitez. Mulai musim 2009/2010, Liverpool goyah dan keluar dari empat besar Liga Primer. Selain itu di Eropa juga tidak lolos fase grup Liga Champions. Turun kasta di Piala UEFA, Liverpool hanya sampai semifinal, kandas dari Atletico Madrid yang menjadi kampiun waktu itu.

Tidak kunjung membaik, Rafael Benitez meninggalkan Anfield dan Roy Hodgson menggantikan posisi Benitez di musim 2010/2011. Roy Hodgson pun setali tiga uang, bahkan lebih parah, Liverpool sempat terjerembab ke zona degradasi. Hodgson dipecat di paruh musim kemudian digantikan “The King” Kenny Dalglish, yang sempat menggairahkan Liverpool dan bercokol di peringkat 6 klasemen akhir. Musim berikutnya, King Kenny berhasil meraih trofi Piala Liga Inggris, namun setelahnya performa tim kolaps dan terjun payung ke posisi 8 klasemen akhir, peringkat terburuk dalam 16 tahun terakhir sejarah klub. Musim 2012/2013, kemudi kapal Liverpool dialihkan ke Brendan Rodgers. Musim kedua kepemimpinan, Rodgers hampir membawa Liverpool meraih gelar juara Liga dan lolos ke Liga Champions setelah 5 tahun absen. Namun kiprah Rodgers di Liga Champions hanya sampai fase grup, numpang lewat saja. finish di peringkat ketiga fase grup membuat Liverpool terjunn ke Liga Eropa. Di Liga Eropa pun tragis, tersingkir dari Besiktas di babak 32 besar. Rodgers hanya mentok sampai ke situ, tidak mampu mengangkat lagi. Di awal musim 2015/2016, Rodgers dipecat karena performa Liverpool menurun dan digantikan manajer kharismatik, Juergen Klopp.

 Di bawah asuhan Klopp, jalan kesuksesan Liverpool dimulai. Akhir musim 2015/2016 Klopp membawa Liverpool sebagai finalis Liga Eropa, kemudian musim berikutnya berhasil mendongkrak posisi The Reds ke posisi 4 klasemen akhir Liga Primer sehingga mendapatkan satu tiket ke Liga Champions. Musim 2017/2018 juga mengakhiri musim di posisi 4 Liga Primer, namun berhasil mencapai final Liga Champions walaupun ditekuk Real Madrid di final. Musim 2018/2019 meningkat ke posisi 2 klasemen akhir Liga Primer dan berhasil menjuarai Liga Champions. Di awal musim 2019/2020, Liverpool menjuarai Piala Super Eropa setelah mengalahkan Chelsea lewat babak adu penalti. Di penghujung tahun 2019 Liverpool menahbiskan diri sebagai klub terbaik di dunia setelah menjuarai Piala Dunia Antar Klub di Qatar. Tahun 2020 ini tinggal mengemas 2 kemenangan lagi mereka menjuarai Liga Primer Inggris kembali setelah 30 tahun menantikannya. Liverpool kini menjadi inspirasi dunia, bahwa untuk sukses dibutuhkan proses yang panjang.

Selain masalah di dalam lapangan, Liverpool juga sempat diterpa masalah keuangan. Masalah bermula dari David Moores, pemilik saham terbesar Liverpool yang menyerahkan kepemilikan klub kepada George Gillet dan Tom Hicks pada 6 Februari 2007. Hicks dan Gillet ternyata meminjam uang kepada Royal Bank of Scotland (RBS) sebanyak 351 juta pounds dan belum mampu melunasi, sehingga Liverpool terlilit hutang dan terancam bangkrut. 15 Oktober 2010, Gillet dan Hicks angkat koper dari Anfield setelah mendapat kecaman dari berbagai elemen klub, baik suporter maupun internal klub. Rafael Benitez dikabarkan hengkang dari Anfield karena dua pebisnis asal Amerika Serikat ini tidak mau memenuhi permintaannya terkait transfer pemain. Kepemilikan diserahkan kepada John W. Henry, pemilik perusahaaan Fenway Sports Group (FSG). FSG melunasi hutang yang ditinggal Gillet dan Hicks, lalu sedikit demi sedikit meraih keuntungan berkat rencana jangka panjang Juergen Klopp. Dilansir dari Transfermarkt, saat ini Liverpool memiliki nilai pasar 1,19 miliar euro.

Lazio menjadi salah satu dari The Magnificient Seven Serie A pada dekade 90-an bersama AC Milan, Inter Milan, Juventus, AS Roma, Fiorentina, dan Parma. Saat itu Lazio rajin main di kompetisi Eropa berkat pemain-pemain bintang yang dimilikinya, bahkan mencicipi juara Serie A pada musim 1999/2000. Alessandro Nesta, Juan Sebastian Veron, Pavel Nedved, Hernan Crespo, Roberto Mancini, Sinisa Mihajlovic, Dejan Stankovic, dan Marcelo Salas adalah nama-nama tenar yang pernah menghiasi line-up Lazio sebelum bertanding.

Namun semua itu berubah ketika Cirio, perusahaan pangan yang menjadi sumber dana utama Lazio bangkrut. Awalnya Cirio mengalami masalah finansial setelah Lazio membeli pemain-pemain bintang yakni Hernan Crespo, Claudio Lopez, Angelo Peruzzi, Dino Baggio, Karel Poborsky, Francesco Colonnese, dan Lucas Castroman yang hanya ditutup dengan melego Sergio Conceicao pada musim 2000/2001. Musim berikutnya Lazio bisa beroperasi dengan baik di bursa transfer. Mereka memang mendatangkan Gaizka Mendieta, Jaap Stam, Stefano Fiore, dan Darko Kovacevic dengan harga mahal. Namun, itu mereka lakukan setelah Juan Veron, Pavel Nedved, dan Marcelo Salas dijual dengan harga mahal pula. Sayangnya, kebijakan itu tetap tidak mampu menyelamatkan Lazio dan Cirio. Pada 2003, Cirio mengajukan kebangkrutan. Musim berikutnya, Sergio Cragnotti presiden Lazio ditangkap atas kasus penggelapan uang. Kejayaan Lazio berakhir dan kepergian pemain-pemain bintang pun tak terhindarkan. Selanjutnya, di pentas Serie A Lazio lebih sering menghuni papan tengah pada klasemen akhir. Paling sesekali mengangkat piala Coppa Italia (2004, 2009, dan 2013) dan Piala Super Italia (2009).

Pada 2004 Claudio Lotito mengambil alih kepemilikan klub. Lotito menghemat uang untuk membayar hutang yang ditinggalkan Cragnotti sebesar 550 juta euro. Di bawah Lotito, Lazio hanya bisa membeli pemain-pemain muda. Sebetulnya banyak pemain potensial yang muncul di era Lotito, sayangnya memilih untuk meninggalkan Olimpico. Hernanes (Juventus), Felipe Anderson (West Ham United), dan Keita Balde (AS Monaco) adalah contoh barisan pemain berbakat yang pernah membela Elang Roma. Penjualan pemain-pemain berbakat cukup menguntungkan Lotito karena bisa membantu mengurangi beban hutang. Berkat kesabaran Lotito dalam mengelola keuangan klub, saat ini Lazio memiliki nilai pasar sebesar 372,65 juta Euro.

Untuk urusan di dalam lapangan, Lazio sempat berganti-ganti pelatih di era Lotito. Mulai dari Delio Rossi, Davide Ballardini, Vladimir Petkovic, Stefano Pioli, hingga Simone Inzaghi yang sudah menangani tim selama 4 musim terakhir. Nama terakhir sudah diamati Lotito sejak masih bermain di klub. Lotito menganggap Inzaghi memiliki bakat kepelatihan yang hebat. Sebelum melatih klub senior, Inzaghi memang melatih klub Primavera Lazio dan meraih tiga trofi, namun belum pernah melatih klub senior. Inzaghi dianggap suporter sebagai legenda Elang Roma, karena sudah bergabung sejak 1999 dan pensiun di Lazio tahun 2010. Kesetiaannya di Lazio saat sebagai pemain meskipun sering dipinjamkan membuat suporter mencintai adik dari Filippo Inzaghi ini. Mungkin karena sudah cukup lama berkecimpung di klub membuat Inzaghi mengetahui seluk beluk dan internal klub, dan tahu bagaimana mengatasi masalah yang ada. Dengan skema dasar 3-5-2, Inzaghi membuat Lazio lebih seimbang dalam bertahan dan menyerang. Inzaghi mampu menyulap Ciro Immobile dan Luis Alberto menjadi sangat berbahaya setelah kedua pemain tersebut gagal bersinar di klub sebelumnya, yakni Borussia Dortmund dan Liverpool. Kemampuan Inzaghi mempertahankan Sergej Milinkovic-Savic dari godaan klub-klub elit Eropa juga patut diacungi jempol. Perpaduan pemain senior dan pemain muda dalam permainan Lazio, ditambah tidak banyak perubahan tim utama saat kepemimpinan Inzaghi membuat Lazio semakin solid.  Sudah tiga trofi yang dipersembahkan Inzaghi untuk Lazio, yakni Piala Super Italia (2017 dan 2019) dan Coppa Italia (2019).

            Liverpool dan Lazio sudah banyak menelan asam garam selama melewati masa transisi. Arsenal tinggal mengikuti langkah-langkah kedua klub ini, tentunya sesuai dengan keadaan yang ada di dalam tubuh Arsenal saat ini. Berikut tips yang bisa dilakukan Arsenal:

1.        Motivasi untuk Menang Setiap Pertandingan
Inilah yang mendasari setiap tim sepak bola bertanding dan mau bertarung di lapangan hijau. Menang adalah mind set utama yang harus ditanamkan sejak dini. Apapun kompetisi yang digeluti, menang setiap pertandingan adalah tujuan utama semua tim. Untuk Arsenal, semua kompetisi harus didasari prinsip ini, baik Liga Primer, Liga Eropa/Champions, Piala FA, maupun Piala Liga. Semua pemain pasti mendapat kesempatan bermain, berhubung padatnya jadwal kompetisi. Mikel Arteta pasti mau merotasi tim untuk mengarungi kompetisi yang ada. Semua pemain harus totalitas mempersembahkan kemampuan terbaiknya. Mental pemenang inilah yang akan menumbuhkan mental juara.
Prinsip inilah yang mendasari Liverpool sehingga mereka mampu mengangkat trofi Liga Champions musim lalu. Kemenangan heroik atas Bayern Muenchen yang didapat kala melawat ke Allianz Arena dengan skor 3-1 serta kemenangan super fantastis atas Barcelona di semifinal adalah contoh nyata. Liverpool seolah-olah mengajari Arsenal bagaimana cara mengalahkan Bayern dan Barcelona, yang sering menjadi momok kala bertemu di Liga Champions.
Ketika taktik dan strategi dari pelatih sudah buntu, yang berperan adalah fighting spirit atau semangat untuk bertarung sampai titik darah penghabisan. Arsenal masih kerap kebingungan ketika taktik yang diterapkan pelatih mulai buntu dan belum membuahkan hasil. Tim tidak boleh terlihat bingung ketika terjadi kebuntuan, harus berusaha keras sampai menit akhir pertandingan. Yakinlah, ketika sudah berusaha keras, dewi fortuna pasti memberikan jalan.

2.        Kontrak Pemain dengan Durasi yang Lama dan Hampir Bersamaan
Ini dikhususkan untuk pemain-pemain yang memiliki umur produktif masih cukup lama. Pemain yang berusia 24-26 tahun dan pemain-pemain muda perlu perpanjangan kontrak, untuk beradaptasi dengan sistem permainan Arteta. Nicholas Pepe, Gabriel Martinelli, Eddie Nketiah, Joe Willock, Reiss Nelson, dan Bukayo Saka termasuk dalam daftar ini. Berikan kontrak dengan waktu habis yang hampir sama, Misalnya Martinelli, Saka, dan Nketiah sama-sama diberi kontrak hingga tahun 2025. Hal ini diperlukan supaya para pemain bisa mendapatkan chemistry dan memahami taktik pelatih secara menyeluruh. Butuh waktu untuk membentuk tim yang tangguh, tidak bisa dalam waktu sekejap.

3.        Tidak banyak mengubah Line-Up
Biasanya pelatih membagi skuad utama dalam dua tim, yakni tim inti dan cadangan. Tim inti biasanya bermain di liga domestik dan kompetisi Eropa. Tim cadangan biasanya bermain di piala domestik. Pelatih perlu membentuk sebuah tim dengan memadukan pemain-pemain dengan kualitas biasa maupun berbakat dengan dalam waktu yang cukup lama. Setidaknya setiap lini ada satu pemain yang selalu mengisi line-up. Ketika pemain-pemain yang sama selalu bermain bersama, setiap pemain akan memahami satu sama lain kelebihan dan kekurangan kawannya. Di situ para pemain bisa saling menambal kekurangan dan mengoptimalkan potensi yang dimiliki setiap individu. Terbentuklah skuad yang solid dengan chemistry yang sempurna. Pelatih juga butuh waktu untuk mengamati potensi apa yang dimiliki setiap pemain sehingga keberadaannya bisa dimaksimalkan dalam taktik dan strategi yang telah ditentukan.
 Untuk hal ini, kita bisa mencontoh Lazio. Ciro Immobile, Luis Alberto, Sergej Milinkovic-Savic, Stefan Radu, Senad Lulic, dan Thomas Strakosha selalu mengisi line-up Elang Roma hampir setiap laga di Serie A sejak awal kepelatihan Inzaghi. Alberto sudah tahu Immobile dan Milinkovic akan berlari ke mana, sehingga umpan yang diberikan Alberto bisa tepat ke target. Ini karena mereka bermain bersama selama bertahun-tahun.

4.        Melindungi Pemain Andalan dari Incaran Klub Lain
Pemain andalan yang memiliki kemampuan lebih penting dalam sebuah tim sepak bola. Pemain seperti ini mampu mengubah keadaan atau menentukan jalannya pertandingan. Di Arsenal ada Pierre-Emerick Aubameyang yang selalu menjadi pembeda dalam tim. Dia selalu mencetak gol-gol krusial. Aubameyang mulai diincar klub lain, seperti Manchester United dan Barcelona. Arteta perlu memberi perlindungan dan jaminan kepada Aubameyang untuk masa depannya di Arsenal. Aubameyang juga perlu memaklumi Arteta yang baru beberapa bulan melatih Arsenal. Setidaknya Aubameyang diberi tambahan kontrak dua sampai tiga tahun di Arsenal, sebagai role model bagi striker lain.
Kita bisa mencontoh Lazio untuk perihal ini. Sergej Milinkovic-Savic masih bertahan di Lazio hingga saat ini, padahal sudah kurang lebih tiga tahun namanya masuk dalam daftar incaran klub-klub top Eropa seperti Manchester United, Chelsea, dan Paris Saint Germain. Milinkovic memang elemen penting dalam strategi Inzaghi, dengan keahliannya coming from behind mengelabuhi pertahanan lawan, saat yang lain sibuk menjaga Immobile.

5.        Jangan Terprovokasi Media
Menurut Yamadipati Seno, industri media sering bekerja serampangan. Baik media cetak maupun digital butuh bumbu demi “klik” untuk membaca. Banyak target yang harus dipenuhi, seperti page views, users, bounce rate, dan sebagainya. Bagaimana cara untuk mengejar target berikut? Jawabannya adalah konten. Wartawan biasanya mempertimbangkan beberapa hal, seperti ketokohan, keunikan, aktualitas, kedekatan, dan sebagainya. Semuanya dibuat agar konten terlihat semenarik mungkin. Media berlomba-lomba membuat konten paling menggugah untuk diklik oleh calon pembaca. Tak peduli apakah berita yang disajikan benar atau tidak, valid atau tidak, datanya sesuai atau tidak, menyeluruh atau tidak, dan pertimbangan lainnya. Penulis pernah melihat berita dengan judul ‘Liverpool kalah dari Norwich City 0-1’ dari salah satu situs berita beberapa waktu lalu. “Perasaan semalem menang deh”, begitu pikir penulis. Begitu dibuka, ternyata Liverpool kalah dari Norwich City di musim 1993/1994. Ini adalah contoh dari clickbait yang banyak berseliweran di gadget kita.

Juergen Klopp selalu berusaha melindungi pemain-pemainnya ketika konferensi pers agar masalah di ruang ganti tidak tersebar ke ranah publik. Klopp tahu, media pasti akan menggoreng sedemikian rupa untuk menyajikan konten yang menarik. Tak jarang konten yang dihasilkan kerap menyudutkan Liverpool. Arsenal pun kiranya juga sudah mengerti akan masalah ini. Arteta selalu berusaha berbicara seperlunya di konferensi pers. Singkat, padat, dan lugas, begitulah tipikal Arteta. Lazio mungkin agak diuntungkan, karena tidak banyak media yang membahas Elang Roma. Untuk sepak bola Italia, media cenderung menyorot kamera ke Juventus, Inter Milan, AC Milan, dan AS Roma. Lazio cukup jarang diberitakan. Lazio mesti bersyukur dengan keadaan ini. Mereka bisa bekerja maksimal tanpa tekanan tinggi dari media.

Untuk masalah ini, tidak hanya klub saja yang perlu menyikapi. Kita sebagai warganet yang bijak juga perlu menyikapi hal ini dengan penuh hati-hati. Kita mesti merespon setiap informasi yang membanjiri gawai kita dengan pertimbangan yang dalam. Benarkah berita ini? Apakah benar data ini? Sesuaikah opini ini? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang wajib kita ajukan secara pribadi ketika mendapatkan informasi. Coba bandingkan dengan media lain, beritanya sama atau tidak. Di sinilah nalar berpikir kritis kita diasah. Kita perlu mencerna suatu masalah dari dua sisi dan tidak menyudutkan salah satu pihak, sehingga dapat memunculkan win win solution, solusi yang bisa diterima semua pihak.

Akhirnya, kita bisa belajar banyak dari Liverpool dan Lazio. Dua klub yang sama-sama berproses di tengah kerasnya persaingan kompetisi sepak bola modern. Mereka punya komitmen, kesabaran, tekad yang kuat, dan keteguhan hati dalam menjalani proses. Mereka tidak jor-joran membeli pemain bintang, namun pemain-pemain yang ada mampu menyesuaikan diri dengan taktik dan strategi yang diterapkan pelatih. Justru klub-klub seperti inilah yang lebih konsisten dalam waktu yang lama dibanding klub yang dimiliki pengusaha kaya raya, karena mereka sudah terlatih dengan dana klub yang seadanya.

Ibarat mendaki gunung, Liverpool sudah sampai puncak gunung, Lazio hampir sampai puncak, dan Arsenal masih di lereng gunung. Zaman sekarang sudah tidak relevan lagi teori ‘semakin banyak uang semakin banyak prestasi yang diraih’. Pernyataan lama Claudio Lotito ketika mengambil alih Lazio belasan tahun lalu akhirnya terbukti, “Teori yang mengatakan siapa yang paling banyak mengeluarkan uang akan menang sudah usang.

Ditulis oleh: Tirta Indah Perdana (Followers GRI)


Sabtu, 21 Maret 2020

ARSENAL DAN MASA TRANSISI (Oleh : Tirta Indah Perdana) Followers GRI




ARSENAL DAN MASA TRANSISI



Hari Sabtu yang cerah tanggal 23 Oktober 1999 di Stadion Stamford Bridge London, Liga Primer Inggris menggelar pertandingan antara Chelsea menjamu Arsenal. Di babak pertama, pertandingan berjalan cukup sengit. Chelsea unggul dahulu melalui Tore Andre Flo yang berhasil menyundul umpan silang yang dikirim Dan Peterscu dari half-space kiri pertahanan Arsenal. Tiada gol yang tercipta lagi sampai jeda. Di awal babak kedua, Chelsea kembali menekan. Di menit ke-52 berawal dari free-kick dan sedikit kemelut, Graeme Le Saux mengirim umpan silang yang tidak terlalu tinggi, lalu Peterscu yang sebelumnya membuat assist langsung menanduk bola.  Bola menghujam gawang Seaman untuk kedua kali. Skor 2-0 untuk Chelsea.

Arsenal mampu menyikapi dengan baik. Meriam London langsung menyerang dengan umpan-umpan pendek. Menit ke-75, Marc Overmars memberi umpan bawah pada Kanu yang membelakangi gawang Chelsea. Kanu menghentikan bola, lalu berbalik di depan para bek Chelsea, dan menembak bola.  Bola menyusur tanah menuju kiri bawah gawang Chelsea yang dikawal Ed de Goey. Barisan bek Chelsea terlambat menutup ruang tembak Kanu. Goey tidak mampu menggapainya, terjadilah gol. Skor 2-1 masih untuk Chelsea.

Tidak lama kemudian, Arsenal kembali menyerang setelah Overmars menyergap bola dari jalur umpan para pemain Chelsea. Sedikit kerja sama dengan Lee Dixon, Overmars mengirim crossing mendatar ke Kanu yang sudah menunggu di kotak penalti Chelsea. Kanu yang membelakangi gawang menerima bola lalu mendorong bola sedikit ke depan gawang Chelsea agak ke kiri, kemudian langsung menembak ke tiang dekat gawang Chelsea. Goey terkejut dan refleknya terlambat. Gol kembali untuk Arsenal di menit ke-83. Skor kini imbang 2-2. Skor berbalik 3-2 untuk keunggulan tim tamu di menit 90. Skor bertahan hingga peluit akhir.

Kita maju ke tahun 2008. Arsenal lolos ke babak 16 Besar Liga Champions. Dari hasil undian, Arsenal bertemu AC Milan, juara bertahan Liga Champions. Leg pertama digelar di Stadion Emiratesmarkas Arsenalterlebih dahulu. Diharapkan Arsenal mendapat kemenangan setidaknya selisih 1 gol, berhubung kiper andalan Rossoneri Nelson Dida tidak bisa bermain akibat cedera. Ternyata leg pertama yang dilaksanakan tanggal 20 Februari 2008 itu berakhir imbang 0-0. Leg kedua skor 0-2 untuk Arsenal bertahan hingga peluit akhir. Arsenal lolos ke perempat final mengalahkan juara bertahan Liga Champions. Arsenal menjadi tim Inggris pertama yang mengalahkan AC Milan di San Siro. Menyenangkan sekali rasanya.

Banyak pemain-pemain andalan The Gunners dilego ke klub lain utuk melunasi hutang pembangunan Emirates Stadium. Emanuel Adebayor, Samir Nasri, Gael Clichy (Manchester City), Cesc Fabregas, Alex Song (Barcelona), Robin Van Persie (Manchester United), dan masih banyak lagi. Sebagai gantinya Arsenal hanya merekrut pemain-pemain muda, seperti Marouane Chamakh, Aaron Ramsey, Andrei Arshavin, dan Wojciech SzczÄ™sny. Biaya pembangunan Emirates Stadium mencapai 390 juta poundsterling. Arsenal mendapatkan tambahan 100 juta pounds dari Emirates Airlines sebagai hak penamaan stadion. Granada Media mengambil lima persen saham klub dengan menginvestasikan sebesar 47 juta poundsterling. Lalu kerja sama dengan apparel Nike yang dilaporkan mencapai 130 juta pounds. Sisanya berasal dari pinjaman bank. Pinjaman inilah yang perlu dilunasi.

 Awal musim 2013-2014, Arsenal menyatakan sudah melunasi biaya pembangunan Stadion Emirates, sehingga mulai berani mengejar pemain-pemain dengan banderol mahal. Lambat laun Wenger mulai kesulitan dalam bersaing di Liga Primer. Tidak hanya bersaing memperebutkan gelar juara, 4 besar saja sudah ngos-ngosan. Taktik dan strategi Wenger mulai terbaca lawan. Lawan tinggal bertahan, lalu melancarkan serangan balik dan mencetak gol. Transisi menyerang ke bertahan menjadi masalah utama. Bermain dengan gaya yang sama selama 22 tahun membuat lawan mulai mengenali pola permainan dan rencana-rencana Wenger selama pertandingan, sehingga lawan semakin mudah untuk mengantisipasinya. Saat Britania Raya kedatangan Juergen Klop lalu Pep Guardiola, Wenger semakin kesulitan bersaing. Wenger tidak mampu beradaptasi dengan sepak bola modern yang semakin dinamis. Setelah desakan fans dan manajemen, akhirnya Arsene Wenger resmi mundur di akhir musim 2017-2018. Sebuah momen mengharukan yang harus dilakukan, demi kebaikan klub yang sudah Wenger besarkan seperti anak sendiri.

Zaman semakin menantang dan dinamis, menuntut Arsenal untuk berkembang lebih baik lagi. Mulai banyak rumor pelatih setelah Wenger meninggalkan jabatannya. Unai Emery yang akhirnya menggantikan Le Professeur di kursi kepelatihan. Musim pertama kepelatihan Emery cukup menjanjikan dengan sempat mengukir 22 pertandingan tanpa kekalahan di semua kompetisi, mengakhiri liga di posisi ke-5 satu strip lebih tinggi dari musim sebelumnya, hingga mencapai final Liga Eropa. Seiring waktu kondisi tim tidak baik ditambah kekalahan 1-2 dari Eintracht Frankfurt di Liga Europa, manajemen Arsenal memecat Unai Emery setelah 18 bulan mengabdi di Emirates Stadium. Tonggak kepelatihan selanjutnya diserahkan kepada Mikel Arteta. Sejauh ini sudah membukukan 8 kemenangan, 5 hasil imbang, dan 2 kekalahan di semua kompetisi. Arsenal bertengger di peringkat 9 klasemen. Patut ditunggu kelanjutan Arsenal di bawah Arteta.


Kini Arsenal sedang mengalami masa transisi. Masa ketika sebuah tim sepak bola berusaha mengembangkan timnya menjadi lebih kuat lagi. Di situ ada berbagai macam proses yang terasa pahit, namun banyak hikmah yang terkandung di dalamnya. Tim yang sedang mengalami masa transisi perlu mempelajari banyak hal untuk menjadi lebih kuat. Sebagai contoh ketika Arsenal takluk dari Olympiakos Piraeus di 32 besar Liga Eropa. Arteta kebingungan menghadapi tim yang bertahan ala parkir bis. Arteta yang masih ‘bau kencur’ alias minim pengalaman perlu banyak belajar. Mungkin dari Pep Guardiola yang menjadi gurunya dahulu, atau klub lain yang lebih sukses. Klub lain? Ya, tentu saja. Kita bisa mengambil hal-hal baik dari klub lain, yang tidak berbenturan dengan nilai-nilai yang ada di dalam Victoria Concordia Crescit. Hal-hal yang tidak sesuai tidak usah diikuti, ambil baiknya dan buang buruknya.

Mungkin Arsenal harus berguru dengan Liverpool dan Lazio untuk sabar dan belajar akan masa transisi ini. Mau tahu kenapa alasannya harus beguru dengan kedua tim tersebut? Tunggu artikel Part II ya.