Jumat, 11 September 2020

MELIHAT POTENSI LULUSAN HALE END ACADEMY

MELIHAT POTENSI LULUSAN HALE END ACADEMY

Bisa dibilang musim lalu adalah musim yang sangat menyakitkan untuk Arsenal. bagaimana tidak, Arsenal untuk pertama kalinya dalam 25 tahun terakhir keluar dari enam besar Premier League. Namun, dibalik kekacauan yang ada tentu ada hikmah yang dapat kita petik. Ya, musim lalu merupakan musim terbaik untuk para punggawa muda Arsenal. Dibalik inkonsistensinya performa Arsenal, momentum itu dimanfaatkan ‘The Young Guns’ untuk unjuk kebolehan ketika dipilih dalam starting line-up. Ditambah pemadatan jadwal dikarenakan pandemi Corona membuat Arteta harus sering-sering merotasi pemainnya agar tetap bugar. Hal itu membuat para pemain muda Arsenal mendapat jatah bermain minimal 1000 menit di musim lalu. Hal ini juga menandakan bahwa Arteta sudah mulai mempercayai pemain mudanya untuk turun membela tim London Utara, bahkan sebagian pemain sudah dipercaya turun di pertandingan-pertandingan penting.

Kebanyakan pemain ini berasal dari Hale End Academy. Untuk yang belum tahu Hale End Academy adalah akademi Arsenal yang berpusat di London. Bisa dibilang untuk musim lalu merupakan musim terbanyak Arsenal mengorbitkan pemain-pemain mudanya dari Hale End Academy. Nama-nama seperti Nelson, Niles, Willock, Nketiah dan Saka merupakan pemain yang malang melintang berada di skuad utama Arsenal di musim lalu. Sebelumnya sudah banyak pemain jebolan Hale End yang bersinar bersama Arsenal. Tentu banyak yang memberikan ekspetasi lebih untuk para pemain muda ini.

Alih-alih mendapat banyak dukungan tidak sedikit para penggemar Arsenal yang kurang percaya dengan pemain muda lulusan Hale End Academy. Mereka beranggapan pemain-pemain ini tidak dapat membawa Arsenal untuk bersaing di jalur juara. Bahkan kebanyakan dari mereka mencaci maki tanpa pandang bulu saat pemain muda ini melakukan kesalahan, terlebih dijadikan kambing hitam saat Arsenal meraih hasil negatif. Memangnya seburuk itukah pemain-pemain lulusan Hale End tahun lalu?

Reiss Nelson

Banyak fans yang memberikan ekspetasi lebih untuk diri Reiss Nelson. Setelah menjalani masa peminjaman yang cukup impresif bersama Hoffenhiem, banyak kalangan yang menilai bahwa ia siap untuk mengisi pos utama di skuad Arsenal. Bagaimana tidak, dalam masa peminjamannya, ia dapat mencetak tujuh gol dari 23 laga yang dijalaninya. Terlebih kala itu ia masih berusia 19 tahun, angka yang cukup impresif untuk anak seusianya.

Kembalinya Nelson ke Arsenal pun digadang-gadang memberi angin segar pada sisi sayap the Gunners. Sisi sayap Arsenal memang bisa dibilang kurang memberikan ancaman berarti di beberapa musim sebelumnya. Diperlukan pemain yang memiliki dua dimensi dalam penyerangannya. Tidak sekedar memberikan umpan-umpan diagonal saja, melainkan pemain yang dapat mengancam lini pertahanan lawan.

Melihat potensi dari Nelson dan kebutuhan tim yang membutuhkan penyerang dua dimensi, ia langsung diberikan kesempatan pada laga pembukaan musim 2019/2020 kontra Newcastle sejak menit pertama. Hal ini menunjukan pelatih kepala kala itu, Unai Emery, mulai percaya dengan kualitas Nelson. Namun, pada laga itu ia tidak bisa menonjolkan seluruh kemampuannya sehingga digantikan oleh Nicolas Pepe. Pada laga-laga selanjutnya pun Nelson tidak dapat memenuhi ekspetasi sebagai pemain sayap yang dapat mengancam gawang lawan. Hal tersebut memaksa Aubameyang ditempatkan pada sayap kiri lini penyerangan Arsenal. Hal ini dikarenakan tidak ada pemain sayap yang menjalankan tugas sebaik Aubameyang.

Untuk Nelson sendiri, ia lebih banyak memainkan laga dari bangku cadangan sepanjang musim 2019/2020. Dari 23 laga yang dijalaninya, ia memulai permainan dari bangku cadangan sebanyak 10 kali dengan torehan tiga gol dan tiga assist. Hal ini tentunya bertolak belakang dengan performa impresif Aubameyang yang menorehkan 29 gol yang mana menempati posisi Nelson sebelumnya.

Ya tentunya tidak apple to apple membandingkan kedua pemain ini. Perbedaan jam terbang jadi faktor kunci dari perbandingan kualitas mereka. Namun satu yang perlu diingat, kepercayaan diri dari Nelson sangatlah luar bisa. Laga Comunity Shield kemarin misalnya. Di saat Arteta menanyakan siapa yang akan menendang penalti pertama kali, Nelson dengan sigap menawarkan dirinya. Ya, rasa percaya diri Nelson sangatlah tinggi, sebelum menendang pun ia menyempatkan untuk menjugling bola, menandakan tidak adanya tekanan pada dirinya. Untungnya tendangan pemuda London itu berhasil bersarang di gawang Alisson. Ya walaupun banyak yang meragukannya, tapi melihat kepercayaan dirinya yang tinggi tentunya menjadi modal bagus untuk laga kedepannya.

Ainsley Matlaind-Niles

Diisukan hengkang ke Wolverhampton pada bursa transfer musim panas ini, Maitland-Niles menyuguhkan performa impresif saat laga Comunity Shield Agustus lalu. Ya, ia dijadikan Wing Back kiri oleh Mikel Arteta di laga itu. Kepercayaan yang diberikan Arteta di bayar tuntas dengan gelar Community Shield dan Man of the Match, menandakan dirinya sudah siap menjadi bagian penting Arsenal di musim depan. Gelar Man of The Match sendiri didapatnya karena performa apik yang ia torehkan di laga itu. Dikutip Whoscored, Niles mendapat nilai 7,1 atas kontribusinya meredam sekaligus membongkar sisi kanan pertahanan Liverpool.

Sejak memulai debutnya di tahun 2014, bakat Maitland-Niles sudah terlihat. Ya, dia adalah pemain serba bisa atau disebut juga Vertisale. Layaknya Philipp Lahm dan Joshua Kimmich, Niles dapat diposisikan sesuai dengan kebutuhan klub. Bek kanan, gelandang bertahan, sayap kanan dan sayap kiri, semua bisa dilakukan dengan cukup baik oleh Matlaind-Niles.

Di musim lalu sendiri, ia kerap kali dijadikan pilihan utama di starting line up. Dari 33 laga yang ia jalani, 24 diantaranya dimulai dari awal laga. Penampilannya itu dibayar dengan torehan satu gol dan dua assist.

Walaupun memiliki potensi yang sangat menjanjikan, performa dari Niles sendiri masih angin-anginan. Hal itu membuat Arsenal mendatangkan Cedric Soares dari Southampton. Banyak yang berfikir karir Niles sudah usai di Arsenal. Kritik pun kerap ia dapatkan, bahkan dari legenda Arsenal sekalipun sepeti Martin Keown. Tidak kuat mendapatkan kritikan, Niles akhirnya buka suara tentang performanya yang inkonsisten. dikutip dari Sky Sports, ia beralasan performa buruknya dikarenakan tidak ditempatkan sebagaimana posisi aslinya, gelandang atau sayap. Namun dikarenakan dia seorang profesional tentu sudah sewajarnya ia memberikan apa yang ia bisa lakukan sesuai dengan kebutuhan timnya kala itu.

Kritik yang diberikan terhadap Niles nampaknya menjadi 'bahan bakar' untuk dirinya tetap maju. Performa apiknya saat melawan Liverpool adalah bukti dari kehebatan seorang Niles. Arteta pun nampaknya sudah menemukan posisi yang tepat untuk Niles di Arsenal, sebagai gelandang. Ini bagaikan berkah untuk Arsenal, mempunyai pemain serba bisa seperti Niles. Rasanya dengan bertahannya Niles di Arsenal, realisasi transfer Thomas Partey tidak akan berjalan dengan lancar. Secara, Niles memiliki atribut yang hampir sama dengan Partey. Dikutip Whoscored, Niles memiliki rata-rata tekel (2.1) per game yang sama baiknya dengan Partey (2). Dalam tolak ukur umpan ke daerah lawan pun Niles sedikit lebih baik (0.6) dibanding Partey (0.5). Yang membedakan hanya ada pada akurasi operan Partey yang lebih baik dibanding Niles. Tentu bila dilihat lebih jauh lagi, Niles masih bisa berkembang mengingat dirinya baru berusia 23 tahun.

Joe Willock

Banyak yang membanding-bandingkan kualitas Joe Willock dengan Mesut Oezil. Bagaimana tidak, saat Oezil ditepikan, Willock banyak mengambil peranan sebagai gelandang serang menggantikan Oezil. Namun seiring berjalannya waktu Willock mulai terpinggirkan oleh Unai Emery dan Ljungberg dikarenakan performanya yang naik turun. Namun di era Arteta ia banyak mendapat kesempatan walaupun sering memulai dari bangku cadangan.

Sebenarnya statistik dari Willock tidak buruk-buruk amat. Dari 44 laga yang dijalani, ia membukukan lima gol dan satu assist. Angka yang cukup menarik mengingat posisinya hanyalah sebagai gelandang. Ya tentu ihal itu masih jauh dari ekspetasi untuk menggeser posisi Oezil. Di liga sendiri statistik Willock kalah dari Oezil yang bahkan bermain lebih sedikit darinya. Dikutip dari one versus one, Oezil menciptakan dua (2) assist, sembilan (9) umpan kunci, dan 11 chance creation statistik yang lebih baik dibandingkan Willock (1 assist, 2 umpan kunci, 3 chance create).

Tentu menggeser Oezil diposisi gelandang serang masih jauh dari kata cukup, bahkan bukan tugasnya untuk melapisi keberadan Oezil. Ya dia adalah tipikal gelandang box to box bukan gelandang serang layaknya Oezil. Nilai lebih mungkin ada pada kemampuan bertahannya. Willock mencatat empat (4) blok, 45 tekel, delapan (8) duel udara, dan 31 intersep. Mungkin hal inilah nilai lebih dari Willock, dapat menyerang dan bertahan sama baiknya. Tidak seperti Oezil yang kurang memberikan kontribusi saat bertahan. Dalam sepakbola modern saat ini, seluruh pemain dituntut untuk melakukan segalanya secara bersama-sama. Tentunya Willock sangat tepat berada pada skema ini.

Eddie Nketiah

Nketiah sebenarnya baru bergabung dengan skuad utama di pertengahan musim lalu. Melihat krisis penyerang yang ada di Arsenal membuat Arteta memaksa Nketiah pulang dari masa peminjamanya di Leeds United.

Berkah bagi Nketiah, Lacazette yang sedang dalam performa kurang baik membuatnya menjadi langganan starting line-up selepas kembalinya ke Emirates Stadium. Di musim lalu, Nketiah bermain sebanyak 17 laga dengan torehan enam gol. Performanya ini terbilang menjanjikan mengingat ia baru masuk ke dalam skuad di pertengahan musim. Arteta pun tidak sungkan untuk memuji performa Nketiah. Dikutip dari Goal, ia berpendapat bahwa Nketiah merupakan pemain yang berkontribusi besar dalam cara bermain Arsenal.

Belum lama ini pun ia baru saja mencatatkan Hat-trick bersama timnas muda Inggris saat berlaga melawan Kosovo, Jum’at lalu. Untuk dirinya, ini merupakan kali kedua ia mencatatkan Hat-trick di ajang international usia muda. Sebelumnya ia mencatkan hal yang sama di laga kualifikasi Euro saat berhadapan dengan Austria pada Oktober tahun lalu.

Ya walaupun torehannya masih jauh dengan apa yang diberikan Lacazette, tentu hal ini merupakan tanda bahwa Nketiah merupakan pemain yang akan bersinar di masa mendatang.

Bukayo Saka

Dari semua pemain lulusan Hale End musim lalu, hanya Bukayo Saka yang tampil impresif di semua laga. Bersama Arsenal, ia mencatatkan empat gol dan 11 assist di sepanjang musim kemarin. Saka sendiri berposisi di posisi kiri permainan Arsenal. Bahkan sesekali ia ditempatkan di posisi penyerang kanan.

Rasanya tidak perlu dijelaskan secara gamblang performa Saka musim lalu. Dinobatkannya ia sebagai pemain muda terbaik Arsenal musim lalu tentu sudah menjadi pembuktian dari bagaimana kehebatan Bukayo Saka.

Hale End akademi tidak henti-hentinya menciptakan pemain berkualitas untuk Arsenal. Namun kebanyakan dari pemain muda ini banyak yang belum bisa menampilkan potensi terbaiknya. Optimisme harus ditanamkan bila kita lihat catatan-catatan dari performa pemain di atas. Kita tahu bagaimana tiap-tiap pemain ini memiliki kualitas untuk dapat membuat Arsenal berbicara lebih banyak di jalur juara. Ditambah dengan sentuhan Arteta, kita lihat saja bagaimana masa depan dari pemain muda di Arsenal.


Ditulis oleh: Robby Arsyadan

Selasa, 08 September 2020

RULES LIGA FPL GRI_LEAGUE_ 20/21

RULES LIGA FPL GRI_LEAGUE_ 20/21.

1. Follow media sosial kami (TWITTER, LINE, ATAU IG - salah satunya aja), @FPL_GRI (bagi yang punya twitter), WAJIB follow sponsor utama GRI_LEAGUE_ @thapsneakers (https://instagram.com/thapsneakers?igshid=x6i6sq31wjny) dan sponsor lainnya @Interlude_dani (bagi yang punya twitter saja).

Bagi yang tidak punya twitter wajib follow sosmed GRI lainnya:

> Line https://t.co/tU3952OA0l

> IG https://instagram.com/gooners_report?igshid=k76g7vpiumf9).

2. Wajib memainkan pemain Arsenal selama satu musim penuh disetiap GAMEWEEK (minimal 1 pemain Arsenal).

3. Tidak ada larangan memasukan pemain dari tim manapun.

4. 1 orang hanya boleh menggunakan 1 akun saja (1 tim).

5. Untuk sementara hadiah hanya berlaku untuk 1 pemenang untuk yang berhasil menjuarai GRI_LEAGUE. (JIKA ADA HADIAH LAIN, AKAN KAMI INFOKAN KEMBALI).

6. LIGA FPL GRI_LEAGUE_ GRATIS dan tidak dipungut biaya, kami tidak bertanggung jawab jika ada oknum-oknum yang meminta biaya untuk LIGA GRI_LEAGUE_

Senin, 07 September 2020

MELIHAT KINERJA ARTETA SELAMA DELAPAN BULAN

MELIHAT KINERJA ARTETA SELAMA DELAPAN BULAN

Paruh pertama musim 2019/2020 tentunya merupakan musim terburuk yang pernah dialami Arsenal. Tujuh pertandingan tanpa kemenangan membuat Arsenal harus mendepak pelatih utamanya kala itu Unai Emery akibat performa buruk yang dialami anak asuhnya kala itu. Ljungberg yang menjadi caretaker kala itu pun tidak dapat mengangkat performa Arsenal lebih jauh lagi. Dari empat pertandingan yang dilakoninya, Ia hanya dapat meraih satu kemenangan. Wajar saja, Ljungberg memang tidak diberikan ekspetasi yang berlebih mengingat tugasnya hanya mengembalikan mental Arsenal yang sedang terpuruk. Barulah pada tanggal 20 Desember 2019, Arsenal resmi menunjuk Mikel Arteta selaku pelatih utama the Gunners.

Untuk publik Arsenal sendiri, tentu mereka sudah akrab dengan pria kelahiran Spanyol berusia 38 tahun itu. Ya, Mikel Arteta adalah mantan pemain Arsenal yang mengabdi selama lima tahun di klub London Utara itu. Dalam rentang waktu 2011-2016, Ia mencatatkan 149 penampilan dengan torehan 16 gol dan 8 assist. Tidak lupa dengan raihan dua trofi FA Cup dan dua trofi Community Shield yang ia sumbangkan ke pada the Gunners. Ia akhirnya pensiun di Arsenal pada tahun 2016 di usianya yang menginjak 35 tahun.

Setelah gantung sepatu, Arteta langsung diberi kepercayaan untuk menjadi assisten pelatih Manchester City, Pep Guardiola. Dipilihnya Arteta sebagai asisten Pep tentu tidak lepas dari kenyangnya pengalaman Arteta akan sepakbola Inggris. Bila dihitung-hitung Arteta sendiri sudah bermain di Liga Inggris selama 12 tahun, memulai debutnya di Everton tahun 2004 dan berakhir di Arsenal pada tahun 2016. Ditambah, Arteta yang berkebangsaan Spanyol, tentunya membuat dirinya lebih mudah dalam membantu tugas Pep Guardiola mengingat mengingat mereka memiliki kewarganegaraan yang sama. Tentu hal ini membuat Arteta tidak butuh waktu lama untuk beradaptasi dengan sistem Pep Guardiola.

Setelah berguru dengan Pep Guardiola di Manchester City selama tiga tahun, akhirnya ia kembali ke Arsenal selaku pelatih utama. Pep Guardiola sendiri nyatanya tidak terima dengan pendekatan Arsenal dalam mendapatkan Arteta dari Manchester City yang kurang menyenangkan. Namun pada akhirnya, Pep merelakan Arteta bersama the Gunners. Ia menambahkan memang sudah waktunya untuk Arteta ‘naik kelas’ melihat kontribusnya yang luar biasa di Manchester City. Bersama Manchester City, Arteta membantu City memenangkan dua gelar Liga Inggris, dua gelar Piala Liga Inggris, dan satu gelar Community Shield.

Setelah Arteta ditunjuk sebagai pelatih utama, lantas hal apa saja yang sudah dilakukannya selama delapan bulan terakhir di Arsenal?

Salah satu peran Arteta dalam pekerjaannya memperbaiki Arsenal adalah dengan meningkatkan moral para pemainnya. Seperti kita ketahui, Arteta dihadapkan pada skuad dengan tingkat kepercayaan diri yang sedang terpuruk. Kekalahan demi kekalahan yang didapat berdampak langsung pada psikis dari pemain-pemainnya. Namun, sejak kedatangan Arteta ke publik Emirates, lambat laun tingkat kepercayaan diri dari skuad the Gunners mulai naik. Dengan beberapa filosofi yang ia ciptakan di klub tentunya membuat pemain-pemain yang sedang terpuruk mendapat kesempatan kedua. “tidak peduli dengan apa yang anda lakukan di masa lalu, tiap harinya tim ini akan dimulai pada titik nol”. Ya, Arteta mempercayai bahwa setiap pemain memiliki kesempatan yang sama untuk berada pada tempat utamanya. Tinggal bagaimana mereka menunjukan kualitasnya pada tiap pertandingan. Efek dari pemikiran ini tentunya berdampak pada pemain-pemain yang benar ingin memberikan seluruh kemampuannya untuk tim. Pemain-pemain seperti Emi Martinez, Maitland-Niles, dan Elneny menjadi pemain yang paling diuntungkan pada sistem ini. Jangan lupakan Granit Xhaka yang hampir hengkang pada Januari lalu bila tidak diberi kesempatan kedua setelah insiden yang dilakukannya di masa lalu. Ia membayar kepercayaan Arteta dengan tampil impresif di tiap laganya. Kali ini, tidak akan ada anak emas layaknya Guendouzi di musim sebelumnya. Bila ingin menjadi pilihan utama, pemain tersebut harus menunjukan segenap kemampuannya.

Pemikiran Arteta yang menghargai akan adanya kerja keras berbuah manis untuk Arsenal. kemenangan demi kemenangan mulai didapat skuad asuhan Arteta ini. Bahkan, tim ini mulai terbiasa untuk bersaing dengan klub Big Six. Tentunya ini tidak terlepas dari tangan dingin Mikel Arteta dalam meracik taktik dan memaksimalkan potensi setiap pemain Arsenal. Sejak kedatangannya di Arsenal, ia dapat mengalahkan Manchester United, Chelsea, Manchester City, Liverpool dan virus corona yang menjangkit dirinya di awal Maret lalu. Total ia sudah memenangkan 16 laga dari 29 pertandingan yang ia jalankan bersama Arsenal. Belum lagi dengan torehan Piala FA dan Community Shield di musim perdananya menunjukan kualitas dari mantan kapten Arsenal di masa lalu.

Berkat kharisma yang Arteta bangun selama delapan bulan ini, dapat dikatakan dirinya menjadi magnet untuk pemain-pemain yang ingin bergabung dengan Arsenal. Willian misalnya, melihat timnya Chelsea dikalahkan di Final FA membuka matanya bahwa tim ini (Arsenal) memiliki kualitas. Tentu hal itu berkat kepiawan Arteta yang lebih mengedepankan kolektivitas untuk meningkatkan kualitas tim. Selain itu, setelah Willian berbincang dengan Arteta, ia percaya dengan nilai-nilai yang ingin dibangun oleh manager 38 tahun itu di Arsenal. Ditambah dengan role besar yang diberikan untuk Willian, tentu membuat pemain berpaspor Brazil itu merasa dihargai. Selain Willian, Magalhaes dan Ceballos-pun dikabarkan menolak beberapa tim besar dan hanya ingin menerima Arsenal. Ditambah keputusan perpanjangan kontrak Aubameyang yang tinggal menunggu hari, tentu berkat pengaruh Arteta yang membangun tim ini ketingkatan yang lebih kuat lagi.

Sekarang Arteta sudah membuktikan kualitasnya, tinggal bagaimana ia menunjukan konsistensinya di musim-musim kedepannya.

Ditulis oleh: Robby Arsyadan


Referensi :

https://sport.detik.com/sepakbola/liga-inggris/d-5134139/karena-willian-percaya-ide-ide-arteta

Rabu, 02 September 2020

MELIHAT POTENSI GABRIEL

MELIHAT POTENSI GABRIEL

Arsenal semakin dekat untuk mendatangkan Gabriel Magalhaes di bursa transfer musim panas ini. Bersaing dengan Napoli dan Manchester United, Arsenal berhasil meyakinkan centre back 22 tahun itu untuk berlabuh ke Emirates Stadium. Dikabarkan jurnalis terkenal Fabrizio Romano, Magalhaes didatangkan dengan nominal 27 juta pounds dengan kontrak selama lima tahun. Hal ini menambah jajaran pemain samba yang memperkuat tim Arsenal. Sebelumnya Arsenal sudah mendatangkan David Luiz, Martinelli, dan Willian.

Gabriel Magalhaes memulai karirnya dari klub divisi kedua Brazil, Avair. Bermain apik di Avair, membuat manajemen Lille mengontrak pemain berpostur 190 cm itu di tahun 2017. Awal kedatangannya di Lille pun tidak mudah, ia harus dipinjamkan ke beberapa klub sebelum bermain di tim utama. Sampai akhirnya, bersama Jose Fonte, ia mulai penunjukan potensinya untuk menjadi pilihan utama di skuad Lille. Ia bahkan mengantarkan Lille kembali mentas di Champions League setelah absen lebih dari tujuh tahun lamanya. Bahkan di musim ini, ia mengantarkan Lille finish di posisi ke empat klasemen dengan raihan 49 poin.

Tentunya merekrut Magalhaes menjadi pertanyaan untuk banyak fans Arsenal. “untuk apa Arsenal mendatangkan centre back sementara tim ini sudah memiliki banyak centre back di skuadnya?”.

Inkonsistennya Lini Pertahanan Arsenal

Ya, lini pertahanan Arsenal memang menjadi titik lemah dari tim ini dalam beberapa musim terakhir. Terhitung dalam empat musim terakhir, Arsenal selalu kebobolan lebih dari 40 gol di Premier League. Hal ini tentunya merupakan catatan yang buruk mengingat tim ‘Big Six’ lainnya memiliki catatan kebobolan lebih baik dari Arsenal. Bahkan di musim ini saja Arsenal kebobolan 48 gol di liga, terburuk kedua dibandingkan dengan tim ‘Big Six’ lainnya. Mirisnya 46% jumlah kebobolan Arsenal musim ini tercipta dari skema bola mati. Menandakan lemahnya lini pertahanan Arsenal saat menghadapi skema ini.

Untuk mengatasi skema ini pun Arsenal sudah sering menggonta-ganti pilihan di lini belakangnya. Namun, hasilnya belum terlalu memuaskan. Terkadang lini pertahanan Arsenal tampil dengan solid, namun di beberapa match lainnya lini pertahanan Arsenal sering membuat kesalahan yang mana berujung gol.

Untuk itulah Arsenal mendatangkan Magalhaes untuk mengatasi kelemahan Arsenal dalam skema bola mati. Magalhaes sendiri memiliki kemampuan yang bagus dalam hal aerial duels. Buktinya, Magalhaes sendiri mencatat 83 kemenangan dalam duel udara, menempati peringkat 16 dari semua pemain yang ada di Ligue 1 musim lalu. Selain itu, Magalhaes sendiri merupakan inti dari permainan Lille musim lalu dengan mencatat 38 pertandingan dari semua kompetisi.

Arsenal terlebih pada kelemahannya menghadapi skema bola mati. Namun, mengingat usianya yang masih muda, ia masih harus diberikan kesempatan untuk beradaptasi. Jangan memberikan ekspetasi yang besar terhadap pemuda ini, ia masih harus belajar dengan pemain senior lainnya yang lebih berpengalaman. Sekarang tinggal bagaimana Arteta dapat memaksimalkan Magalhaes dalam skema bermainnya. Ya, kita lihat saja performanya di musim depan.

Ditulis oleh: Robby Arsyadan



Minggu, 30 Agustus 2020

Arsenal: Solid Bertahan, Efektif Menyerang.

Arsenal: Solid Bertahan, Efektif Menyerang.

Arsenal berhasil mengalahkan Liverpool pada partai Community Shield yang dihelat di Wembley Sabtu, 29 Agustus 2020. Arsenal mencetak gol lebih dahulu melalui skema serangan balik yang diselesaikan dengan tendangan ciamik dari kapten Arsenal, Aubameyang. Di babak kedua Liverpool membalasnya dengan gol debut pemain asal Jepang, Takumi Minamino. Lewat kerja sama apiknya dengan Mohamed Salah, ia menciptakan kemelut di depan gawang Arsenal dan mengonversikannya menjadi gol. Skor sama kuat bertahan sampai waktu normal berakhir dan dilanjutkan pada adu penalti. Sial untuk Liverpool, pemain mudanya, Brewster, menjadi satu-satunya pemain yang gagal melesakan bolanya dari titik 12 pas. Sementara semua pemain Arsenal berhasil menunaikan tugasnya dengan baik. Dengan kemenangan ini Arsenal meraih trofi Community Shield-nya untuk yang ke-16 kali. Sementara untuk Liverpool sendiri ini menjadi kekalahan beruntun tim tersebut di ajang Commuinty Shield.

Tentunya kemenangan ini tidak terlepas dari bagaimana pemain-pemain Arsenal meredam agresifitas penyerangan Liverpool. Lini pertahanan yang lebih solid dan terorganisir menjadi kunci dari bagaimana Arsenal dapat menahan Liverpool di awal babak pertama. Rob Holding dan David Luiz memiliki peranan vital dalam pertahanan Arsenal pada laga ini. Rob Holding bagaikan tembok lini pertahanan yang siap mengawal lini pertahanan Arsenal. Sedangkan David Luiz sendiri menjadi otak dari skema build-up Arsenal di lini pertahanannya. Dengan pemain lainnya, dia dengan tenang mengalirkan bola-bola pendek di area lini pertahanan Arsenal sendiri. Belum lagi performa dari Emi Martinez yang menciptakan dua penyelamatan penting terhadap peluang Sadio Mane, tentunya hal ini membuat lini pertahanan Arsenal semakin kokoh dan padu. Hal ini dibuktikan dengan statistik Arsenal yang mana dari 15 shoot yang dilesakan Liverpool, hanya satu yang berbuah menjadi gol dengan rincian lima tendangan diblok, tiga diselamatkan, dan sisanya off target. Tentunya ini menandakan bagaimana solidnya lini pertahanan Arsenal pada laga ini.

Dalam situasi menyerang pun Arsenal terbilang efektif mengandalkan serangan balik dalam penyerangannya. Memanfaatkan umpan-umpan dari lini pertahanan Arsenal, tim ini menciptakan delapan percobaan ke arah gawang dengan dua diantaranya tepat sasaran dan satu berbuah gol. Gol Aubameyang sendiri lahir dari skema serangan balik. Berawal dari build-up apik di lini pertahanan, bola mengalir langsung merangsek ke tengah lapangan. Bukayo Saka yang melihat Aubameyang berdiri bebas, langsung memberikan umpan diagonal ke sisi kanan pertahanan Liverpool. Bebasnya Aubameyang tidak terlepas dari peran Maitland-Niles yang membuka ruang untuk Aubameyang. Ditambah dengan Overlap dari Kieran Tierney yang membuat sisi kanan pertahanan Liverpool menjadi Overload. Artinya terdapat penumpukan pemain di wilayah tertentu yang membuat Arsenal lebih mudah mengeksploitasi sisi kanan pertahanan Liverpool.

Maitland-Niles menjadi kunci dari kemenangan Arsenal pada laga ini. Selain membantu penyerangan Arsenal yang selalu melakukan overlap di sisi kiri, ia juga disiplin dalam membantu lini perthanan. Kurang menonjolnya Mohamed Salah pada laga ini juga dikarenakan kepiawan Maitland-Niles untuk selalu berada pada posisinya. Ia seperti tahu kapan harus menyerang dan kapan waktunya untuk mengawal lini pertahanan Arsenal. Berkat performanya inilah ia dinobatkan sebagai Man of The Match pada laga kali ini. Ditambah, pemanggilannya ke dalam skuad The Three Lions menjadikan kado terbaik untuk ulang tahunnya yang ke-23 yang mana bertepatan dengan laga Community Shield, malam itu. Sangat disayangkan bila Arsenal kehilangan pemain muda ini mengingat kita belum melihat potensi maksimal dari seorang Maitland-Niles.

Kemenangan Arsenal di Community Shield ini tentunya menjadi modal yang baik untuk Arsenal dalam memulai jalannya Premier League di musim 2020/21. Kita dapat melihat Arsenal mulai menunjukan kehebatannya di hadapan ‘Big Six’ Premier League. Mengalahkan Liverpool secara beruntun di dua pertemuan terakhir, mengalahkan Manchester City era Pep Guardiola, sampai memenagkan FA Cup setelah mengalahkan Chelsea. Hal ini menunjukan Arteta sudah memberikan pengaruh yang besar untuk Arsenal. Bahkan dibanding pelatih sebelumnya, Arteta meraih lebih banyak kemenangan melawan ‘Big Six’ di delapan bulan pertamanya dibandingkan Unai Emery. Tentunya tim ini sudah berjalan ke arah yang tepat. Tinggal bagaimana mereka menunjukan konsistensinya untuk dapat memenangkan lebih banyak gelar lagi.

Ditulis oleh: Robby Arsyadani


Referensi

https://www.skysports.com/football/news/11095/12059243/arsenal-vs-liverpool-ratings-ainsley-maitland-niles-shines-in-community-shield-but-mohamed-salah-struggles

https://www.skysports.com/football/arsenal-vs-liverpool/stats/427352

Kamis, 27 Agustus 2020

SULITNYA ARSENAL MELAWAN ‘BIG SIX’

SULITNYA ARSENAL MELAWAN ‘BIG SIX’

Tidak dapat dipungkiri lagi, Premier League merupakan salah satu liga terkompetitif di dunia. Tidak seperti dominasi Barcelona-Real Madrid di La Liga, ataupun superioritas Paris Saint Germain, Bayern Munich, dan Juventus di liganya masing-masing. Premier League menghadirkan enam tim yang selalu bersaing dalam perebutan papan atas klasemen. Terdiri dari Arsenal, Chelsea, Manchester City, Manchester United, Liverpool dan Tottenham, dominasi tim-tim ini di Premier League membuatnya dijuluki dengan sebutan ‘Big Six’. Tiap tahunnya, tim-tim ini selalu berada di enam teratas papan klasemen. Ibaratnya, mereka hanya bertukar posisi tiap tahunnya. Tidak hanya itu, Premier League memiliki tim-tim kuda hitam seperti Leicester, Wolves, dan Everton yang mulai menggoyahkan dominasi ‘Big Six’ di papan klasemen. Hal ini tentunya sudah membuktikan bahwa Premier League merupakan liga paling kompetitif di dunia.

Namun bagi Arsenal sendiri, menjadi ‘Big Six’ hanya seperti embel-embel berkat kejayaan di masa lalu. Arsenal dianggap hanyalah pelengkap dari enam tim yang berada di papan atas. Tidak ada tanda-tanda tim ini benar-benar bersaing untuk memenangkan Premier League. Jangankan memenangkan liga, untuk masuk zona Champion League saja Arsenal sudah absen selama empat tahun. Bahkan di musim ini, Arsenal untuk pertama kalinya ke luar dari enam besar setelah finish di posisi delapan klasemen. Ini merupakan kali pertama Arsenal finish di bawah enam besar sejak 25 tahun yang lalu, lebih tepatnya sebelum kedatangan Arsene Wenger di publik Arsenal.

Bisa dilihat dari jajaran ‘Big Six’ lainnya, mungkin Arsenal menempati posisi paling buncit diantara para kompetitornya. Ya, berada di bawah Liverpool, Manchester City, Manchester United, Chelsea, bahkan rival bebuyutannya, Tottenham. Lantas kenapa Arsenal selalu berada di bawah tim-tim ‘Big Six’ lainnya?

Statistik Big Six Premier League

Untuk Premier League musim ini saja, Arsenal sendiri sulit untuk mendapatkan banyak kemenangan di liga. Dari 38 laga, Arsenal hanya memenangkan 14 laga. Bahkan dengan jumlah ini Arsenal kalah dari tim-tim seperti Burnley, Southampton dan Wolves yang mengemas 15 kemenangan. Mirisnya dua nama pertama (Burnley dan Southampton) merupakan tim yang finish bawah Arsenal. Hal ini tentunya menandakan bahwa Arsenal sering kehilangan poin penuh saat melawan tim-tim Premier League, terutama yang levelnya berada di bawah mereka.

Hal itu tentunya disebabkan kurang impresifnya beberapa lini arsenal musim ini, lini depan misalnya. Bila dibandingkan dengan tim ‘Big Six’ lainnya, jumlah gol Arsenal berada di posisi paling bawah dengan total 56 gol. Bahkan dari total gol yang dicetak Arsenal musim ini, tim ini masih bergantung pada sosok Aubameyang. Dari 56 gol yang dicetak Arsenal, 22 gol di antaranya berkat kepiawan Auba. Bayangkan saja bagaimana bila Aubameyang hengkang, mungkin kejadiannya akan mirip seperti saat Van Persie hengkang ke kubu sebelah. Bila Aubameyang bertahan pun Arsenal harus menemukan penyerang yang sama trengginasnya dengan dirinya, mengingat Auba yang sudah berumur 32 tahun tentunya tidak selalu berada pada performa terbaiknya.

Kurang produktifnya Arsenal musim ini tentunya tidak terlepas dari cara bermain Arsenal yang kurang mendominasi pada tiap laganya. Tercatat di musim lalu saja, Arsenal hanya bisa mencatat 406 shoot ke arah gawang musuh, berbeda jauh dengan Manchester City yang menempati posisi pertama (745). Semakin sedikit shoot maka tim tersebut kurang mendominasi dan cenderung mengalami kebuntuan dalam penyerangan. Bahkan bila dilihat dari sudut pandang yang berbeda, Arsenal cenderung tertekan sehingga sulit menciptakan shoot ke arah gawang musuh.

Hal ini bukan bualan belaka, di lini pertahanan pun total Arsenal mencatat 147 saves, angka terbanyak dibandingkan klub Premier League lainnya. Tentunya hal ini semakin mengukuhkan bahwa Arsenal merupakan tim yang lebih banyak tertekan di musim ini. Banyak penyelamatan sama saja dengan banyaknya serangan musuh. Ditambah, lini pertahanan yang kurang meyakinkan, membuat Bernd Leno harus bekerja lebih ekstra lagi untuk mengawal gawang Arsenal. Wajar saja Arsenal hanya dapat meraih 10 Clean Sheet di liga musim ini melihat buruknya lini pertahanan Arsenal musim ini.

Dengan statistik seperti itu sulitnya Arsenal untuk mengalahkan ‘Big Six’ di EPL menjadi hal yang lumrah. Dari 12 pertemuan yang telah dilakoni Arsenal melawan ‘Big Six’ musim lalu, Arsenal hanya dapat menang dua kali, yaitu melawan Manchester United (home) dan Liverpool (home) di ajang Liga. Sisanya Arsenal tidak dapat meraih poin penuh.

Kedatangan Arteta

Namun, angin segar datang ketika Arteta mulai mengambil alih kursi kepelatihan Arsenal. Arsenal mulai menampilkan tajinya dihadapan ‘Big Six’ Premier League. Tentu kita ingat bagaimana supperiornya Arsenal mengalahkan dua tim papan atas Premier League, Liverpool dan Manchester City dalam sepekan. Tentu hal itu tidak lain karena racikan taktik Arteta yang berhasil meredam kedigdayaan dua pesaing gelar juara itu. Puncaknya adalah ketika Arteta dapat mengalahkan Chelsea di final FA Cup dan mempersembahkan trofi pertamanya sebagai pelatih untuk Arsenal.

Namun kemenangan saja tidak cukup, Arsenal harus menang secara meyakinkan bila ingin kembali mendominasi Britania. Ya, Arsenal memang menang melawan Liverpool, tapi bisa-bisanya Liverpool kalah setelah melepaskan 21 shoots ke gawang Arsenal. Ya, Arsenal memang menang Lawan City, namun bagaimana bisa Arsenal menjuarai Premier League bila mereka kalah mendominasi seperti apa yang dilakukan City terhadap Arsenal. Untuk itu diperlukan skema dan pemain yang tepat agar Arsenal dapat terus konsisten setiap laganya. Jangan sampai tim sekelas Brighton mempermalukan Arsenal baik di laga kandang maupun tandang.

Arsenal sudah memiliki kunci dari semua masalahnya, kapten Arsenal di masa lalu yang sekarang menjadi manajernya, Arteta. Tinggal bagaimana tim ini terus tumbuh untuk mengalahkan pesaing-pesaingnya.

Ditulis oleh: Robby Arsyadani


Referensi: Premier League.

Selasa, 25 Agustus 2020

PINDAH DARI ARSENAL GARANSI AUTO JUARA

PINDAH DARI ARSENAL GARANSI AUTO JUARA

Kompetisi di lima liga top Eropa resmi berakhir musim ini. Di tengah pandemi COVID-19, banyak liga yang dibatalkan seperti Eredivisie (Belanda) dan Ligue 1 (Prancis). Liga-liga tersebut tentunya dibatalkan dengan alasan keselamatan orang banyak, mengingat meningkatnya pandemi pada pertengahan April lalu. Namun beberapa liga mulai melanjutkan kompetisinya setelah diberi lampu hijau oleh pemerintah setempat. Mayoritas liga mulai digulirkan pada awal Juli dan berakhir di awal Agustus. Namun, setelah berakhirnya lima liga top Eropa masih ada salah satu liga yang masih berjalan di bulan Agustus ini, yaitu UEFA Europa League dan UEFA Champions League.

Dengan menggunakan beberapa format baru, dua kompetisi bergengsi Eropa itu dilaksanakan setelah berakhirnya liga-liga di Eropa. Tentu, tidak lupa dengan protokol kesehatan yang amat ketat mengingat angka pertumbuhan virus COVID-19 masih terbilang fluktuatif di kawasan Eropa.

Sevilla dinobatkan menjadi juara di ajang Europa League sementara di ajang Champions League, Bayern Munich keluar sebagai jawara setelah mengalahkan Paris Saint Germain. Untuk PSG sendiri, ini merupakan kali pertama tim tersebut masuk ke babak final perhelatan bergengsi di Eropa itu. Sementara untuk Bayern sendiri, ini adalah final ke empat mereka selama satu dekade terakhir, yang mana dua di antaranya mengukuhkan tim ini sebagai juara. Total Bayern telah mengoleksi enam trofi UCL, angka yang sama dengan jawara sebelumnya, Liverpool.

Tentunya sudah tidak mengherankan Bayern Munich keluar sebagai juara UCL musim ini, mengingat bagaimana superiornya FC Hollywood ini mengalahkan kompetitornya. Tentunya, keberhasilan Bayern ini tidak lepas dari berbagai pemain pilarnya. Selain Lewandowski, terdapat satu nama yang menjadi perbincangan hangat akhir-akhir ini. Siapa lagi kalau bukan Serge Gnabry.

Serge Gnabry sendiri bisa dibilang salah satu pemain berbakat yang performanya menonjol di musim ini. Dari 47 pertandingan yang dilakoninya bersama Bayern, Ia mencatatkan 25 gol dan 12 assist. Bahkan bila dihitung dari ajang UCL sendiri, Ia mengemas 9 gol dan 2 assist dari 8 pertandingan, artinya Gnabry selalu menyumbang setidaknya satu gol pada tiap pertandingan UCL yang Ia mainkan. Angka yang sangat fantastis untuk pemain yang baru berusia 25 tahun.

Tentunya torehan Gnabry di musim ini membuat pendukung klub lamanya gigit jari. Bagaimana tidak, Gnabry sendiri dahulu adalah pemain Arsenal yang berbakat, bahkan ia menjalani debutnya bersama Arsenal di usia yang masih belia. Namun, performanya di Arsenal tidak terlihat begitu bersinar akibat berbagai cedera yang ia alami. Selepas cedera, sulit bagi Gnabry untuk menemukan performa terbaiknya. Bahkan ketika Ia dipinjamkan ke West Brom pada tahun 2015, manajer West Brom kala itu Tony Pulis mengatakan bahwa Gnabry tidak cocok bermain di Premier League.

Setahun setelahnya Arsenal menjualnya ke Werder Bremen dengan harga yang sangat murah. Manajer Arsenal kala itu, Arsene Wenger, sebenarnya tidak ingin melepas Gnabry dengan alasan Gnabry belum menunjukan seluruh potensinya kala itu. Namun Gnabry sendiri yang menginginkan dirinya untuk pergi karena membutuhkan menit bermain yang cukup.

Keluarnya Gnabry dari Arsenal nyatanya tidak disesali oleh dirinya. Karir Gnabry langsung sukses bersama klub-klub yang ia bela. Dimulai dari Werder Bremen yang kemudian sekarang berlabuh di Bayern Munich. Ya, tentunya semua akan Munchen pada waktunya. Gnabry sendiri bukanlah orang pertama yang mengalami kesuksesan ketika memilih pergi dari Arsenal. Nama-nama seperti Thierry Henry, Fabregas, Nasri, Van Persie, dan Oxlade-Chamberlain, memiliki karir yang lebih baik dan gelar yang lebih bergengsi saat mereka meninggalkan klub London Utara itu.

Hal ini seperti anomali pada tiap-tiap pemain yang pergi dari Arsenal. Mengapa hal tersebut bisa selalu terjadi? Nah, untuk itu penulis mencoba menjelaskan beberapa faktor yang membuat pemain sepakbola dapat lebih sukses ketika ia keluar dari Arsenal.

Kesempatan

Yup banyak pemain muda potensial yang jarang mendapatkan kesempatan lebih untuk bermain di tim utamnya masing-masing. Tidak hanya Arsenal, banyak tim-tim di luar sana yang kehilangan pemain potensialnya karena jarang diberi kesempatan seperti De Bruyne, Salah, dan Lukaku saat di Chelsea. ‘itu si Iwobi dikasih banyak menit bermain kok masih jelek aja’. Santai, ini masih faktor pertama, masih ada faktor lainnya yang perlu dibahas pada isu ini.

Kebutuhan tim akan pemain

Kenapa hal ini sangat penting? Ya yang namanya sepakbola dimainkan oleh 11 pemain. Nah, dari 11 pemain itu tentunya punya kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Pemain yang paling banyak menutup kekurangan tim ini lah yang akan keluar potensi terbaiknya. Tentunya peran pelatih di sini sangat penting mengingat bagaimana taktiknya ini nanti akan diterapkan pada pemainnya, contohnya seperti Robertson. Sebelum ia menjadi bagian dari Liverpool, Robertson hanyalah pemain muda dengan kemampuan yang tergolong biasa-biasa saja. Namun siapa sangka di bawah asuhan Juergen Klopp, Robertson disulap menjadi salah satu bek kiri terbaik di dunia. Tentunya hal ini tidak luput dari skema permainan dari Liverpool yang mana mengeluarkan potensi terbaik dari Robertson.

Tentu kita tahu seberapa hebatnya Coutinho. Ia adalah pemain yang memiliki kemampuan yang tidak perlu dipertanyakan lagi. Namun, karena Coutinho bukanlah pemain yang benar-benar dibutuhkan pada skema klubnya saat ini, maka potensi dari pemain ini tidak terlihat seperti apa yang terlihat pada klub sebelumnya. ‘tapi ada kok pemain yang tetep hebat walaupun sudah pindah klub dan lebih berhasil di klub barunya?’. Nah saatnya kita masuk ke faktor berikutnya

Visi misi

Ini adalah satu faktor penting dalam sebuah tim untuk dapat meraih gelar. Bila dianalogikan seseorang yang hebat tidak akan meraih apa-apa bersama timnya bila tidak memiliki pandangan yang sama dengan dirinya dan begitu juga sebaliknya. Tentunya visi-misi suatu tim harus dibarengi dengan tindakan mereka di lapangan, seberapa besar hasrat mereka akan terlihat pada bagaimana performa mereka selama membala hal itu. Bila semuanya sudah satu visi-misi, maka pemain akan lebih fokus pada tiap pertandingan yang akan dilakoninya. Tinggal kita lihat tim mana yang memiliki hasrat yang lebih besar untuk memenangkan pertandingan. Tentunya faktor keberuntungan tidak luput dari hal ini.

Nah dengan melihat faktor-faktor di atas tentunya banyak variable yang belum dipenuhi oleh Arsenal. Melihat pemain hasil didikan sendiri lebih bersinar di klub lain memanglah menyakitkan, tapi memangnya bila pemain itu tetap bertahan akan menjadi bersinar seperti sekarang?

Ditulis oleh: Robby Arsyadani

Referensi

https://www.panditfootball.com/cerita/213324//200303/roller-coaster-karier-sepakbola-serge-gnabry

https://www.whoscored.com/Players/119501/Show/Serge-Gnabry