Kamis, 20 Agustus 2020

CARA ARSENAL MENGORBITKAN PEMAIN MUDANYA

CARA ARSENAL MENGORBITKAN PEMAIN MUDANYA

Arsenal seperti tidak ada habis-habisnya dalam mencetak pemain muda bertalentanta. Musim lalu kita tentunya dikejutkan dengan performa apik dari Mateo Guendouzi. Datang dari Lorient, tim kasta kedua Liga Perancis, Guendouzi menjadi pilihan utama Emery hampir di semua pertandingan. Mengemas 47 penampilan di musim lalu, jumlah penampilannya hanya kalah dari Aubameyang, Iwobi, Lucas Torreira, dan Lacazette. Hal ini menandakan pentingnya peran Guendouzi di musim pertamanya bersama Arsenal. Pencapaiannya tersebut menganugerahkan dirinya sebagai pemain muda terbaik musim 2018/2019.

Di musim ini, Arsenal kembali mengorbitkan nama-nama baru seperti Gabriel Martinelli dan Bukayo Saka. Saka sendiri bukan nama asing untuk Arsenal. Pasalnya ia sudah melakukan debutnya di musim yang sama dengan kedatangan Guendouzi. Namun, di musim ini, dirinya mencuri perhatian dengan performa apiknya bersama Arsenal. Mengemas 39 laga di semua kompetisi, ia menorehkan 4 gol dan 11 assist, sehingga menobatkan dirinya sebagai pemain muda terbaik Arsenal untuk musim ini. Gabriel Martinelli pun tidak kalah mengesankannya dengan Saka. Di musim perdananya ia memainkan 26 laga dengan torehan 10 gol dan 4 assist. Bahkan gol solo run-nya melawan Chelsea Januari lalu dinobatkan sebagai Goal of The Season Arsenal musim ini, mengalahkan sepakan keras Willock ke gawang Liverpool dan aksi individual Aubameyang yang membuat Zouma salah arah. Sayang pemain berusia 19 tahun itu harus menutup musim perdananya bersama Arsenal dengan tidak menyenangkan. Ia mengalami cedera lutut saat latihan pada Juni lalu. Hal ini selain membuat dirinya menutup musim pertamanya dengan cepat, ia dipastikan absen pada paruh pertama musim depan dan diperkirakan baru bisa merumput pada awal tahun 2021.

Selain Gabriel Martinelli dan Bukayo Saka, pemain muda lainnya juga tidak kalah dengan dua nama di atas seperti Joe Willock, Nketiah, Maitland-Niles, dan Reiss Nelson. Walau tidak seimpresif dua pemain di atas, namun pada musim ini pemain-pemain tersebut sudah diberikatn menit bermain regular. Rata-rata para pemain muda ini sudah mencatatkan lebih dari 1000 menit di semua kompetisi yang dilakoninya musim ini. Tentu, ini membuktikan bahwa anak-anak muda ini sudah sedikit mendapat tempat di skuat utama Arsenal. Banyaknya pemain muda di skuad Arsenal musim ini bisa dibilang menjadi periode terbaik klub London Utara itu menghasilkan pemain muda potensial di satu musim.

Arsenal memang dikenal sebagai tim yang selalu mengorbitkan pemain mudanya menjadi pemain hebat di masa mendatang. Setiap tahunnya pasti selalu ada minimal satu atau dua pemain muda yang bersinar di Arsenal. Kehebatan Arsenal dalam menciptakan pemain bintang ini tentunya sudah dibuktikan dengan banyaknya pemain dari hasil didikannya. Pertanyaannya adalah, bagaimana Arsenal selalu dapat mengorbitkan pemain bintang tiap tahunnya?

Arsenal yang sekarang kita kenal tentunya buah dari kerja keras Arsene Wenger. Setelah mengabdi selama 22 tahun, ia merevolusi banyak hal di Arsenal. Yang paling mencolok adalah filosofi wenger tentang bagaimana ia selalu berani memainkan banyak pemain muda di Arsenal. Kepercayaan Wenger dengan para pemain mudanya adalah salah satu contoh yang membuat Arsenal lekat dengan julukan ‘Young Gunners’. Bahkan ketika di akhir eranya, ia lebih senang memainkan pemain mudanya untuk selalu mendapat andil lebih besar di Arsenal. Contohnya saat Arsenal harus melawat ke Old Traffod di tahun 2018 yang mana merupakan laga terakhir Wenger di kandang Manchester United itu. Total terdapat tujuh pemain muda di dalam skuat Arsenal kala itu. Walaupun harus ditekuk dengan skor 2-1, Wenger mengaku bangga dengan para pemain mudanya. Ia menilai skuat muda yang ia turunkan tidak takut dengan nama besar yang ada pada Manchester United. Tingkat kepercayaan Wenger inilah yang terus membuat Arsenal menciptakan banyak pemain muda berbakat tiap tahunnya. Sampai akhirnya ia meninggalkan klub, ia berpesan ‘Jagalah nilai-nilai klub yang telah dibangun’. Sesuai dengan semboyan Arsenal, Victoria Concordia Crescit. Setelah Wenger pergi pun, Arsenal mencari sosok yang tetap berada pada nilai-nilai tersebut, dimulai dari diri Unai Emery dan Mikel Arteta. Terbukti nilai-nilai tersebut masih dijalankan oleh kedua pelatih dengan bersinarnya nama-nama pemain muda di bawah dua komando pelatih penerus Wenger.

Kunci dari banyaknya pemain muda yang bersinar di Arsenal, selain dikarenakan filosofi Arsene Wenger juga terdapat faktor lain yang menunjang hal tersebut yaitu kecerdikan pemandu bakat dan kualitas akademi. Dikutip dari Bleach Report, kehebatan Arsenal dalam memaksimalkan pemandu bakatnya merupakan salah satu factor penting dalam kemajuan tim untuk mendapatkan banyak pemain berbakat. Ketika banyak tim-tim besar memanfaatkan kekuatan finansial untuk memperkuat kedalaman skuadnya, Arsenal masih setia dengan penggunaan scouting untuk mendapatkan pemain barunya.

Pada tahun 2008, kepala pemandu bakat Arsenal saat itu, Steve Rowley pernah menjelaskan ia memiliki banyak pemandu bakat rahasia yang tersebar di hampir seluruh belahan dunia. Di Inggris sendiri ia menjelaskan terdapat 12 pemandu bakat yang tersebar seantero negeri. Sedangkan metode yang berbeda di terapkan di luar Inggris. Untuk pemandu bakat yang ditempatkan di luar inggris, mereka memiliki daerah kekuasaannya sendiri untuk melakukan pengintaian. Hal ini dilakukan agar pemandu bakat tersebut dapat membuat jaringannya lebih luas baik dengan banyak stakeholder klub yang ada pada daerah cakupannya. Hal ini tentunya untuk memudahkan pemandu bakat untuk dapat mencari pemain bertalenta secara maksimal.

Selain menggunakan intuisinya, pemandu bakat di Arsenal dimudahkan dengan adanya StatDNA, sebuah perusahaan statistik berbasis analisis pertandingan sepak bola. Tidak seperti statistik pada pertandingan bisa, StatDNA berfokus pada banyak indikator yang dihitung berdasarkan kebutuhan dari klub. Kita tentunya sudah biasa melihat statistic seperti daya jelajah pemain sepakbola dan berapa banyak menit bermainnya. Namun, di StatDNA indikator yang dimasukan lebih detail dari apa yang pernah diperlihatkan sebelumnya. Contohnya seperti seberapa sering pemain lawan berlari mendekati pemain yang sedang memegang bola sampai seberapa sering pemain tersebut ke luar dari posisinya. Tentunya hal ini sangat berguna untuk para pemandu bakat dalam mengintai pemain incarannya. Namun hal ini tidak serta merta dijadikan acuan para pemandu bakat untuk merekrut pemain incarannya. Faktor di luar lapangan pun merupakan hal penting sebagai pertimbangan bagaimana pemain tersebut nantinya beradaptasi.

Ketika pemandu bakat menemukan pemain yang menjanjikan, yang harus dilakukannya adalah untuk menelfon kepala pemandu bakat. Kepala pemandu bakat nantinya akan mendengarkan laporan dari scoutingnya yang dirasa menarik. Bila menarik, kepala pemandu bakat nantinya akan menyuruh untuk melihat bagaimana progress dari pemain yang diintai. Nantinya, ia juga akan mengintruksikan pemandu bakat lainnya untuk melihat pemain tersebut. barulah ketika pemandu bakat yang lain mengabarkan hal yang sama dengan pemandu bakat sebelumnya, kepala pemandu bakat ini akan langsung terbang dan melihat bagaimana pemain intaiannya bermain. Setelahnya barulah kepala pemandu bakat melaporkan pemain intaiannya ke manager untuk berdiskusi, apakah pemain ini layak didatangkan atau tidak. Ketika dirasa sudah cocok, barulah tim negosiator merampungkannya dengan cepat. Hal ini untuk mencegah pemain yang telah diintai diambil oleh klub lain. Untuk lebih meyakinkan pemain intainnya, terkadang beberapa pemain akan datang langsung ke London untuk berbicara dengan beberapa petinggi dan melihat fasilitas apa saja yang ada di sana. Ditambah reputasi Arsenal yang selalu menurunkan tim mudanya di ajang kompetisi kedua, menjadi pertimbangan yang menarik untuk pemain yang akan bergabung ke sana.

Perjalanan untuk menciptakan pemain bintang tidak habis setelah pemain itu didatangkan ke Arsenal. Langkah berat lainnya adalah bagaimana untuk mengembangkan potensi dari pemain ini untuk dapat unjuk kebolehan di Arsenal. Salah satu contohnya adalah dengan menempatkan pemain muda ini di dalam Akademi. Ya, bersama pemain akademi lainnya, pemain tersebut harus memperebutkan satu posisi di skuat utama. Untuk bermain di skuat utama bukan hanya urusan kualitas permainan, melainkan juga bagaimana kebutuhan tim utama saat itu. Untuk itulah Ljunberg ditarik sebagai asisten pelatih Arteta, salah satu tugasnya adalah untuk mengetahui pemain akademi mana saja yang sekiranya dapat meningkatkan kualitas permainan Arsenal sesuai dengan posisi yang dibutuhkan.

Arteta tentunya sudah memiliki cara untuk mengembangkan pemain mudanya. Seperti apa yang dilakukan oleh Wenger, Ia ingin menambah banyak pemain berpengalaman dalam skuat Arsenal saat ini. Dibuktikan dengan kedatangan Willian di Arsenal yang menambah kualitas pemain yang berpengalaman dalam skuat Arsenal. Wenger sendiri memang sering memasukan banyak menurunkan pemain muda dan berpengalaman di suatu laga secara bersamaan. Hal ini menurut Wenger adalah kominasi yang baik untuk dilakukan untuk menambah pengalaman dari pemain muda.

Namun tampaknya regenerasi Arsenal untuk selalu mendatangkan pemain berbakat potensial mulai berkurang. Hal ini tidak terlepas dari pemecatan Francis Cagigao dan jajaran staff kepanduan lainnya akibat dampak finansial yang terjadi pada kubu Arsenal. Ya walaupun bukan suatu pembenaran bahwa Arsenal tidak akan memperoleh pemain muda terbaiknya, hal ini sebagai indikasi turunnya kualitas pemain muda yang ada di Arsenal. Ya kita lihat saja, pemain mana lagi yang akan diorbitkan oleh Arsenal.

Ditulis oleh: Robby Arsyadani


Referensi:

https://www.goal.com/en/news/who-is-arsenals-young-player-of-the-season/1oht02zs7t2p17cmzampx65d2

https://paininthearsenal.com/2020/01/29/arsenal-greatest-crop-young-players/

https://www.google.com/amp/s/syndication.bleacherreport.com/amp/1866334-arsenals-scouting-network-and-how-arsene-wenger-locates-talent.amp.html

https://www.google.com/amp/s/syndication.bleacherreport.com/amp/29326-arsenals-scouting-network-revealed.amp.html

https://arseblog.news/2020/08/report-arsenal-sack-head-of-international-scouting/

https://www.google.com/amp/s/amp.theguardian.com/football/2014/oct/17/arsenal-place-trust-arsene-wenger-army-statdna-data-analysts

https://highbury-house.com/2018/08/27/the-worst-deal-ivan-gazidis-secured-not-unai-emery/

https://www.google.com/amp/s/www.nytimes.com/2017/02/03/sports/soccer/arsenal-arsene-wenger-analytics.amp.html

https://www.google.com/amp/s/syndication.bleacher…

https://ligalaga.id/kick-off/maksimalkan-pengembangan-akademi-arsenal-buat-tim-transisi/

https://sport.detik.com/sepakbola/uefa/d-3662954/perpaduan-pemain-senior-dan-pemain-muda-arsenal-puaskan-wenger

Senin, 17 Agustus 2020

Kiprah Raul Sanllehi di Arsenal

Kiprah Raul Sanllehi di Arsenal

Pada bursa musim transfer panas musim lalu, fans Arsenal dikejutkan dengan apa yang dilakukan oleh pihak manajemennya. Tidak seperti biasanya, Arsenal menggelontorkan begitu banyak uang dalam satu periode bursa transfer. Tak tanggung-tanggung, £150 Juta dikeluarkan dari brankas Arsenal yang sudah usang. Angka yang melewati duo Machester yang seyogyanya selalu pada daftar tim terboros di bursa transfer. Para fans pun keranjingan dengan agresifitas Arsenal di periode tersebut. Bagaimana tidak, fans yang biasanya harus melihat tim pesaing mendatangkan banyak pemain penting, kini mereka rasakan sendiri. Tentunya, pada bursa transfer panas musim kala itu merupakan rekor pengeluaran terbesar Arsenal selama klub itu berdiri. Tidak hanya itu, rekor lainnya muncul saat Arsenal mendatangkan Nicolas Pepe dari Lille seharga £72 Juta. Nilai yang memceahkan rekor sebelumnya yang dipegang oleh Aubameyang (£65 Juta). Yup, aksi menakjubkannya di Lille membuat manajemen Arsenal kepincut dengan pemain berkebangsaan Perancis itu. Pepe diharapkan menjadi ujung tombak dari proyek penguatan skuat bersama rekrutan lainnya seperti David Luiz, Dani Ceballos, Gabriel Martinelli, Kieran Tierney, dan William Saliba.

Tentu, pihak manajemen memiliki alasan tersendiri untuk mendatangkan beberapa pemain ini. Menurut pihak manajemen, kekalahan dari Chelsea di final UEL 2018 merupakan titik balik dari rekontruksi penguatan skuat Arsenal secara besar-besaran. Menilik dari kekalahan tersebut, terlihat skuat Arsenal kewalahan menghadapi Chelsea di babak kedua. Jomplangnya kekuatan skuat Arsenal kala itu membuat pihak manajemen berbenah untuk memperbaiki skuatnya. Pihak manajemen merasa bahwa Arsenal harus kembali ke jalur persaingan gelar juara dan tidak boleh ketinggalan dari para pesaingnya. Banyak kalangan yang menilai bahwa pembelanjaan masif Arsenal di musim lalu dikarenakan dorongan fans yang menuntut adanya perubahan. Belum lagi berhembus kabar bahwa dana yang dimiliki Arsenal hanyalah £45juta untuk terjun di bursa transfer. Namun pihak manajemen menyangkal hal tersebut. Pihak manajemen berkali-kali mengatakan bahwa kabar tersebut bukan dari pihak Arsenal. Menurutnya apa yang dilakukannya pada bursa transfer musim lalu murni karena keinginnan para petinggi untuk membawa Arsenal kembali ke masa jayanya. Ya walaupun hasilnya pada musim ini kurang baik, namun kerja keras para petinggi Arsenal patut diacungi jempol. Manajemen yang sekarang sudah mendobrak stigma negatif yang ada di klub ini.

Dibalik kesuksesan transfer Arsenal musim lalu, terdapat nama-nama penting yang memiliki andil dalam hal tersebut. Nama-nama seperti Raul Sanllehi dan Edu Gaspar misalnya, mereka adalah orang yang berjasa dalam perekrutan pemain Arsenal musim lalu. Orang-orang tersebut merupakan wajah baru dijajaran para staff Arsenal. Raul menempati posisi Director of football dan Edu Gaspar sebagai Tecknical Direktor. Kedatangan orang-orang ini tentunya merupakan hal baru untuk Arsenal. Bagaimana tidak? Saat Era Wenger tidak ada posisi demikian. Wenger beralasan bahwa adanya staff tersebut malah mengganggu pergerakan dari pelatih utama. Namun disatu sisi, keberadaan staff-staff ini diperuntukan membantu kerja dari pelatih utama agar lebih focus pada bidangnya masing-masing.

Raul Sanllehi misalnya, ia adalah salah satu staff Arsenal yang berposisi sebagai director of football. Tugas dari Direktur Sepakbola adalah untuk menjembatani pihak manajemen dengan pelatih utama. Selain itu, Direktur Sepakbola juga berperan mengurus berbagai jenis perekrutan yang akan terjadi pada tim. Raul sendiri memang sudah tidak asing lagi dengan jabatan ini. Sebelumnya, ia pernah menjabat dengan jabatan serupa di Barcelona. Ia berperan pada perekrutan pemain ternama seperti Alexis Sanchez dan Neymar. Namun akhirnya ia dipecat karena tidak dapat meyakinkan Neymar untuk tidak hengkang dari Barcelona. Hal tersebutlah yang membuat Arsenal menunjuk Edu Gaspar sebagai Direktur Teknik. Tugasnya adalah untuk membantu kerja dari Direktur Sepakbola dan juga pelatih utama dalam memberikan masukan-masukan untuk setiap langkah yang akan diambil. Tentu hal ini untuk meminimalisir kesalahan yang terjadi baik untuk pelatih dan Direktur Sepakbola.

Berkat kepiawan Raul Sanllehi, Arsenal dapat mendapatkan banyak pemain hebat di bursa musim panas musim lalu. Ia menggunakan metode installment plan atau cicilan dalam setiap negosiasinya. Dikutip dari akun twitter Ramble Swiss, nyatanya dalam transfer kemarin Arsenal tidak serta-merta mengeluarkan uang sebesar 150 juta pouns. Arsenal hanya merogoh kocek 46 juta pounds, menariknya angka ini sama dengan kabar tentang nominal budget awal Arsenal. Angka tersebut di dapat dengan menghitung uang muka yang harus dibayarkan Arsenal pada bursa musim panas tahun lalu. Nicolas Pepe 20 juta pounds, William Salliba 5 juta pounds, Tierny 10 juta pounds, martinelli 2 juta pounds, dan Dani Ceballos 5 juta pounds. Trik ini memang sudah biasa di sepakbola eropa seperti pada transfer Pogba (MU) dan Coutinho (Barcelona). Cara cerdik ini dibarengi dengan kepiawaian Edu Gaspar dalam melobi pemain yang akan didatangkan Arsenal. Seperti David Luiz dan Gabriel Martinelli yang datang berkat kepiawaian Edu memikat hati pemain tersebut.

Namun di musim ini sepertinya transfer musim lalu sulit terwujud, Pandemi Corona yang merusak ekonomi global menjadi alasannya. Bahkan efek dari pandemic ini, Arsenal harus memecat 55 karyawannya. Bahkan hal tersebut tetap harus dilakukan walaupun pemain Arsenal sudah mendapat pemotongan gaji. Belum lagi dengan jumlah cicilan yang dilakukan pada musim transfer musim panas kemarin, rasa-rasanya seperti memupus harapan Arsenal untuk mendatangan pemain top. Jalan satu-satunya hanyalah mendatangkan pemain melalui pinjaman ataupun pemain yang sudah habis kontraknya, seperti apa yang dilakukan Arsenal pada transfer Willian.

Kabar terbaru, Raul Sanllehi dipecat dari posisi Director of football. Menurut peryataannya di situs resmi Arsenal, pemecatannya ini dikarenakan adanya perampingan tambahan menyusul pemecatan 55 karyawan non teknis yang ada di Arsenal. Menurut penulis, wajar Raul Sanllehi dipecat oleh pihak Arsenal. Efek domino dari pembelanjaan besar-besaran Arsenal musim lalu membuat Arsenal menanggung beban finansial entah dari cicilan pemain maupun gaji para pemainnya ditambah efek pandemic yang membuat pendapatan dari penjualan tiket, hak siar, maupun komersil makin berkurang. Belum lagi pada masalah cicilan bursa transfer musim lalu dan gaji para pemainnya yang terlalu tinggi padahal sudah mengalami pemotongan 12.5%. Bahkan sebelum pandemic, Arsenal telah melaporkan bahwa timnya telah kehilangan £27.1 pada bulan Desember. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa Sanllehi merupakan salah seorang yang bertanggung jawab atas hal diatas.

Posisi Sanllehi nantinya akan digantikan oleh Vinai Venkateshem yang mana artinya sistem jajaran Arsenal akan kembali seperti layaknya Ivan Gazidiz musim lalu. Untuk urusan transfer hanya akan melibatkan Direktur Teknik Edu Gaspar dan Mikel Arteta. Hal ini membuat Arteta memiliki kuasa lebih besar untuk mengatur pemain-pemain mana saja yang dibutuhkan untuk Arsenal.

Namun dengan kepergian Sanllehi, Arsenal kehilangan sosok yang mana dekat dengan beberapa agen di dunia. Di era Sanllehi, Arsenal memang lebih suka mendatangkan pemain melalui koneksi dengan agent para pemain ternama dibandingkan dengan Analisa dari scout dan data. Dilansir dari Football London, kepergian Sanllehi akan berdampak pada rumor transfer Coutinho di Barcelona mengingat Sanllehi memiliki jaringan yang bagus dengan agennya, Kia Joorabchian. Terlihat dari bagaimana Arsenal dapat meminjam Denis Suarez pada musim lalu, Walaupun menurut Mislintat kedatangan Denis Suarez tidak sesuai kebutuhan tim. Transfer-transfer Arsenal belakangan ini pun berdasarkan koneksi Sanllehi dengan Kia, contohnya seperti David Luiz dan Willian. Tentu dengan ketidak hadiran Sanllehi, Arsenal tidak dapat mewujudkan hal tersebut.

Sekarang saatnya Arsenal lebih melangkah ke depan, di bawah rekontruksi jajaran yang lebih sederhanan tentunya membuat effesiensi pemutusan suatu kebijakan. Ya kita lihat saja bagaimana kiprah Arsenal di era rekontruksi yang baru.

Ditulis oleh: Robby Arsyadani


Referensi:

https://ligalaga.id/football-culture/mengenal-peran-director-football-2-sporting-director-dan-jawaban-perkembangan-zaman/

https://www.sportbible.com/football/news-reactions-arsenals-140m-summer-spending-spree-explained-in-a-twitter-thread-20190813

https://tirto.id/sosok-kunci-atas-kesuksesan-arsenal-di-bursa-transfer-efXc

https://www.football.london/arsenal-fc/news/raul-sanllehi-releases-statement-arsenal-18776530.amp?__twitter_impression=true

Senin, 10 Agustus 2020

LIKA LIKU KEBIJAKAN TRANSFER ARSENAL

LIKA LIKU KEBIJAKAN TRANSFER ARSENAL

Bila mendengar kata Arsenal pasti ada satu pesan yang terbesit dalam benak tiap-tiap supporter sepakbola seperti tim ini adalah tim besar, klub yang memiliki sejarah yang panjang, dan masih banyak lainnya. Tapi pasti kita semua setuju bahwa tim ini adalah tim yang pelit saat dihadapkan dengan bursa transfer pemain. Tiap tahun manajemen Arsenal selalu d6ikecam oleh berbagai golongan karena kebijakannya tersebut. Di saat tim-tim besar melakukan perombakan besar-besaran untuk membenahi timnya, Arsenal cenderung pasif dalam melakukan pergerakan untuk membeli pemain.

Semuanya bermula dengan kehadiran Arsene Wenger pada tahun 1996. Datang dari klub antah-berantah, banyak fans yang meragukan kualitas manajer berpaspor Prancis itu. Seiring berjalannya waktu nyatanya keraguan itu mulai luntur ketika ia dapat mengantarkan Arsenal meraih gelar Premier League-nya yang pertama pada tahun 1998. Selain itu Wenger juga mempersembahkan trofi FA Cup dan Community Shield di tahun yang sama. Hebatnya, kala itu Arsenal memenangkan liga dengan nama-nama yang kurang familiar. Namun berkat sentuhan Wenger, nama-nama seperti Anelka, Petit, Bergkamp, dan Viera mulai mencuat ke permukaan sebagai pemain yang mempunyai kualitas jempolan. Mulai dari situlah awal dari citra Arsenal sebagai klub yang menghasilkan pemain bintang.

Peran Wenger tentunya memiliki andil besar dalam pesatnya perkembangan Arsenal di tanah britania. Tidak seperti klub lainnya, Wenger mempunyai jalan sendiri untuk meraih kesuksesannya di Arsenal. Ketika pelatih lain berlomba-lomba mencari nama besar untuk memperkuat timnya, Wenger lebih tertarik mendatangkan pemain muda/pemain setengah jadi yang tentu harganya tidak semahal pemain-pemain yang memiliki nama besar namun memiliki kualitas yang dapat bersaing dengan jajaran pemain top lainnya. Kejelian mata Arsene Wenger ini yang membuat Arsenal selalu mencetak pemain bintang setiap tahunnya. Memadukan pengalamannya dengan pemain senior lainnya, Wenger berhasil menempa pemain muda Arsenal untuk terus berada ke puncak performanya. Belum lagi dengan penguasaan tujuh bahasanya membuat dirinya dapat lebih dekat dengan pemain-pemainnya. Berkat kepiawannya tersebutlah ia dijuluki sebagai The Proffessor.

Wenger memang memiliki folosofi tersendiri untuk urusan transfer pemain. Bila dijabarkan secara terinci, terdapat empat indikator untuknya mendaratkan pemain ke Arsenal. Memberikan dampak terhadap tim, berusia muda, berharga miring dan nantnya bisa memiliki nilai jual yang tinggi. Diawal masa kepelatihannya, Wenger memang tidak pernah tergoda untuk mendatangkan pemain bintang. Menurutnya kedatangan pemain bintang hanya membuat para fans berekspetasi lebih banyak pada pemain tersebut sehingga memberikan tekanan terhadap pemain. Sebaliknya, bila pemain tersebut tidak terlalu terkenal maka beban yang dipikul tidak lah besar. Hal tersebutlah yang membuat banyak pemain muda Arsenal terus berkembang sehingga dapat bersaing dengan nama-nama besar lainnya.

Ambisi Wenger untuk membawa Arsenal untuk menjadi tim papan atas liga inggris sangatlah besar. Selain merusak dominasi Liverpool dan Manchester United di dalam lapangan, ia bertekad untuk meneruskan dominasinya di luar lapangan. Manchester United tentunya tim yang memiliki garis keturunan supporter yang amat banyak. Dukungan para supporter yang sangat besar itulah yang membuat United memiliki sokongan kekuatan finansial yang amat besar. Dibandingkan Arsenal, MU kala itu memiliki kekuatan finansial bagaikan langit dan bumi dengan para kompetitornya. Melihat hal tersebut Wenger pun tidak tinggal diam, beribu cara ia pikirkan untuk setidaknya mengimbangi kekuatan finansial United. Akhirnya tercetuslah ide dari Wenger untuk membuat stadion baru. Menurut Wenger, cara ini adalah cara satu-satunya untuk mendongkrak kekuatan finasial dari Arsenal. Setelah mendesak dan mendiskusikan dengan para petinggi Arsenal, akhirnya pembangunan stadion pun terlaksana dengan memakan waktu dua tahun, dalam rentang waktu 2004-2006 yang mana sekarang dikenal dengan Emirates Stadium.

Pembangunan Emirates yang usai pada 2006 tentunya membawa warna baru Arsenal. Stadion berkapasitas 60.000 kursi ini membuat Arsenal semakin dikenal oleh banyak pihak. Hal ini menimbulkan engagement terhadap fans-fans sepakbola yang ada untuk memilih menjadi Gooners, sebutan untuk para fans Arsenal. Belum lagi dengan infrastruktur yang tergolong lengkap tentunya menunjang pembangunan klub kea rah yang lebih baik. Namun, pembangunan stadion ini bagai pisau bermata dua. Dibalik kemegahannya, pembangunan stadion yang menjadi tanggung jawab para petinggi Arsenal beserta Wenger ini dibangun dengan hutang dari berbagai bank yang ada di tanah Britania. Jumlahnya pun tidak tanggung-tanggung, hampir mencapai 390 juta pundsterling. Ya kalau dirupiahkan dengan kurs sekarang bisa mencapai 7,4 trilliun. Angka yang sangat fantastis untuk pembangunan sebuah stadion di Inggris.

Para petinggi dan Arsene Wenger pun pastinya sudah paham dari konsekuensi akan keputusan membangun Emirates Stadium. Pemotongan anggaran belanja pemain Arsenal sudah pasti tidak terelakan lagi karena harus membagi pendapatannya untuk mencicil pembayaran hutang stadion. Namun Wenger tentu sudah punya solusi dari permasalahan tersebut, yakni dengan melego para pemain bintangnya untuk menyeimbangkan antara pemasukan dan pengeluaran klub. Banyak nama-nama besar yang sudah menjadi korban keganasan dari sistem ini seperti Thiery Henry, Joes Antiano Reyes, Alexandre Hleb, Emanuel Adebayor, Kolo Toure, Cesc Fabregas, Samir Nasri, Gael Clichy, Alex Song, Carlos Vela, hingga Robin Van Persie. Akibatnya selama sembilan musim Arsenal harus menahan dahaga akan trofi juara. Banyak yang mengecam tindakan Wenger yang selalu menjual pemain bintangnya, kendati sudah mendatangkan pengganti pemain bintang yang hengkang. Alasannya karena Wenger yang terkesan irit dan pasif dalam bursa transfer membuat Arsenal selalu tertinggal dengan para kompetitornya. Belum lagi dengan pemain yang didatangkan cenderung pemain muda yang belum berpengalaman atau pemain-pemain yang tidak memiliki nama besar sehingga dinilai tidak dapat membawa Arsenal dalam persaingan menuju tangga juara. Hal inilah yang menjadi keresahan setiap pendukung Arsenal dan awal dari stigma ‘pelit’ pada klub ini.

Arsene Wenger tentunya sadar bahwa filosofinya saat ini sudah mulai usang. Dia tidak dapat terus menerus mengandalkan pemain antah berantah untuk dapat menyaingi kompetitor lainnya. Faktanya, di sepak bola modern semuanya dapat lebih mudah bila memiliki kekuatan finansial yang memadai. Terbukti dengan kedatangan Abrahamovic dan Sheik Mansour yang mengubah tim sekelas Chelsea dan Manchester City, menjadi tim yang dapat bersaing dengan level domestik dan Eropa. Namun Arsene Wenger tidak serta merta terbawa arus untuk mengerahkan seluruh kekuatan finansialnya seperti halnya Chelsea dan Manchester City. Wenger membuang separuh ideologinya dalam kebijakan transfernya. Dalam arti lain ia memberikan proporsi sendiri pada tiap indikatornya. Wenger yang sekarang akan melakukan pembelanjaan pemain ketika pemain tersebut dapat memberikan dampak yang besar terhadap tim. Terbukti dengan kedatangan Mesut Oezil, Alexis Sanchez dan Pierre Emerick Aubameyang rasanya sudah memberikan jawaban pasti terhadap kebijakan transfer Wenger yang sudah berevolusi menyesuaikan zaman. Meski Wenger tetap dikritik walaupun sudah mendatangkan berbagai pemain bintang karena masih dianggap pelit tidak seperti kompetitornya, ia tetap bersikukuh bahwa transfer pemain hanya dilakukan pada lini yang dianggapnya kurang.

Selepas lunasnya hutang Emirates Stadium dan mulai datangnya pemain bintang di Arsenal, perlahan Arsenal mulai bangkit dari masa suramnya. Tiga gelar piala FA dan tiga gelar Community Shield merupakan bukti konkret dari kesabaran Arsenal. Arsenal bahkan memiliki kans untuk menjuarai Premier League di musim 2015/2016. Namun sayang, musim itu lebih berpihak pada Leicester City, walaupun kita dapat mengalahkannya di laga tandang maupun kendang. Selain itu nyatanya Arsenal masih konsisten berada di jalur kompetisi Eropa, ya walapun hanya menjadi tim yang meramaikan kompetisi tersebut.

Pencapaian-pencapain yang diraih Arsenal di masa Wenger ternyata masih belum bisa menghapuskan dahaga para fans terhadap kejayaan timnya di kompetisi domestic. Para fans pun banyak yang menggaungkan untuk menurunkan jabatan Wenger dari kursi kepelatihan Arsenal. Menurut mereka, Wenger sudah cukup lama mengabdi untuk Arsenal dan sudah saatnya untuk ia pergi secara baik-baik. Namun terdapat juga fans yang masih berharap pada pelatih berpaspor prancis itu karena dirasa masih bisa bersaing di papan atas. Akibatnya terjadi pepecahan pada kedua fans Arsenal antara kubu WengerOut dan In Arsene Wenger We Trust. Perpecahan tersebut nyatanya sudah lama terjadi di kubu Arsenal, namun lebih digaungkan pada tahun 2017 ketika Arsenal untuk pertama kalinya finish di luar zona Champions League dalam 20 tahun terakhir. Akhirnya setahun setelahnya Wenger memilih untuk pensiun setelah perjalanan panjangnya di klub yang ia besarkan.

Kepergian orang yang sangat penting tentunya sulit untuk mencari penggantinya. Petinggi Arsenal mencoba menunjuk Unai Emery sebagai penerus dari Arsene Wenger. Selain itu, Arsenal menunjuk beberapa staff baru untuk membantu kinerja Unai Emery seperti Sven Mislintat sebagai head of recruitmen dan Raul Sanheli sebagai director of football. Namun, dibalik perekrutan wajah-wajah baru dari para petingginya, Arsenal juga harus kehilangan CEO-nya Ivan Gazidis. Mundurnya Gazidis dari kursi CEO tentunya menjadi tanda tanya besar karena orang yang berpengaruh dalam penunjukan Unai Emery sebagai pelatih adalah dirinya. Gadzidis beralasan bahwa masa baktinya bersama Arsenal sudahlah usai, dan sudah saatnya untuk ia mencari tantangan baru. Posisi yang ditinggal Gazidis selanjutnya diisi oleh Josh Kroenke, anak dari pemilik klub yaitu Stan Kroenke.

Kedatangan wajah-wajah baru di petinggi Arsenal membuat pendekatan yang dilakukan tentunya berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Wenger. Arsenal mulai berani menggelontorkan banyak dananya untuk merekrut berbagai pemain. Terhitung dari kepergian Wenger sampai sekarang, Arsenal sudah menggelontorkan dana sebesar 240 jua euro, bahkan Arsenal merupakan tim yang paling boros pada bursa transfer musim panas lalu. Pembelanjaan besar-besaran ini tentunya didasari dari banyaknya pemain inti yang mulai hengkang seperti Koscielny, Petr Cech, Nacho Monreal, dan Aaron Ramsey. Kedatangan nama-nama seperti Bernd Leno, David Luiz, Dani Ceballos, Nicolas Pepe dan pemain muda lainnya, tentunya diproyeksikan sebagai pengisi posisi yang ditinggalkan pemain pilar Arsenal sebelumnya. Tentunya hal ini dilakukan untuk bukti keseriusan manajemen Arsenal untuk dapat bersaing dengan klub papan atas lainnya.

Namun hasil yang didapat tidak seperti dengan apa yang diharapkan. Arsenal terlebih dahulu kehilangan Sven Mislintat dari posisi staff head of recruitment. Mislintaat kesal dengan kerja kerasnya yang tidak dihargai oleh para petinggi Arsenal. Padahal Mislintat dikenal sebagai orang yang memiliki andil besar dalam pembentukan skuat Dortmund di tahun 2011. Kehilangan Mislintat tentunya menjadi pukulan bagi Arsenal, posisinya kemudian digantikan oleh mantan pemain dari Arsenal, Edu Gaspar. Masalah kemudian datang ketika transfer yang dilakukan di musim panas kemarin tidak terlalu berdampak besar pada klub. Di awal musim, Arsenal harus terseok-seok di ajang domestic maupun eropa. Hal ini membuat manejemen Arsenal memecat Unai Emery dari kursi kepelatihan dan digantikan oleh Mikel Arteta.

Beberapa bulan setelah dipecat, Emery membeberkan bagaimana kebijakan transfer yang ada di Arsenal. Ia menjelaskan bahwa transfer yang dilakukan oleh klub harus dirundingkan dengan petinggi lainnya yaitu Raul Sanlehi dan Edu Gaspar. Hal ini tentunya membuat Emery tidak dapat bebas melakukan pembelian pemain. Bahkan menurut Emery sendiri kedatangan Nicolas Pepe bukanlah pemain yang ingin ia datangkan. Hal itu merupakan keinginan dari pihak manajemen. Wenger sendiri memang pernah mengecam tentang adanya wacana pembuatan staff untuk perekrutan pemain. Menurutnya hal ini membatasi ruang gerak pelatih dalam menentukan pemain yang akan didatangkannya. Di era Wenger dulu, ia turun langsung dalam hal perekrutan pemain. Ia diberi kebebasan karena pemilik Arsenal sendiri pun, Stan Kroenke sangat percaya pada dirinya. Namun dimasa sekarang, Arsenal harus berunding dan satu suara dalam hal perekrutan pemain. Jangan sampai hal yang terjadi pada transfer Nicolas Pepe terulang. Sedikit menyulitkan memang, namun tentunya terdapat niat baik di dalamnya. Dengan adanya banyaknya kepala, tentunya menghindarkan Arsenal dari pembelian yang terkesan mubazir.

Sayangnya di era Arteta ini, ia harus dihadapkan dengan kondisi Arsenal yang sedang rapuh. Hasil buruk yang di alami Arsenal baik di kompetisi domestik maupun eropa berpengaruh pada kekuatan finansial klub tersebut. Belum lagi dengan kondisi ekonomi yang suram karena pandemic membuat Arsenal harus mem-PHK 55 karyawannya untuk dapat terus berinvestasi pada skuat Arsenal. 

Ya kita lihat saja bagaimana kelanjutan dari kebijakan Arsenal di era Arteta ini, mengingat Arteta sudah membuktikan kualitas dirinya dengan membawa Arsenal meraih gelar di masa terpuruknya.

Ditulis oleh: Robby Arsyadani

Sumber

Senin, 03 Agustus 2020

JALAN PANJANG ARSENAL DI FA CUP

JALAN PANJANG ARSENAL DI FA CUP

Arsenal baru saja memenangkan gelar FA Cup setelah mengalahkan Chelsea dengan skor 2-1 di Wembley Stadium. Hasil ini menambah koleksi trofi mereka di ajang tersebut dengan raihan 14 trofi, angka terbanyak dari klub inggris lainnya. Gelar juara ini tentunya sangat emosional bagi para pemain, pelatih, bahkan penggemarnya sekalipun. Bagaimana tidak, setelah dihadapkan musim yang amat buruk, Arsenal masih bisa mempersembahkan trofi untuk para penggemarnya, sebuah pencapaian yang impresif mengingat banyaknya masalah yang terjadi pada kubu Arsenal. Dimulai dari masalah pemain, pemecatan pelatih, hingga pelatih yang terpapar virus Corona, Arsenal seakan tidak direstui untuk meraih pencapaian apapun musim ini. Namun takdir berkata lain, kembalinya trofi FA Cup ke Emirates Stadium tentu menjadi modal yang baik untuk membangkitkan mentalitas pemain Arsenal dalam mengarungi berbagai kompetisi di musim mendatang.


Perjalanan Arsenal di FA Cup dimulai pada putaran ketiga. Hal ini dikarenakan aturan FA Cup sendiri yang baru memasukan klub kasta teratas liga inggris pada putaran ketiga. Di putaran ketiga sendiri Arsenal dipertemukan oleh Leeds United yang diasuh pelatih sensasional, Marcelo Bielsa. Tidak seperti kebanyakan klub Championship lainnya, Leeds United tampil dominan saat melawan Arsenal terutama di babak pertama, tercatat ada 15 percobaan penyerangan yang berhasil menekan tim tuan rumah di babak pertama. Melihat hal tersebut,  Arteta terlihat sangat marah dengan para skuatnya karena dirasa tidak menjalankan intruksinya dengan tepat. Padahal Arteta sendiri sudah memberitahu skuatnya Leeds akan bermain dengan cara seperti itu. Lacazette sendiri mengatakan saat turun minum babak pertama Arteta berteriak pada seluruh skuatnya, menegaskan bagaimana intruksinya agar marasuk pada tiap pemain Arsenal. Seakan termakan omongan Arteta, skuatnya tampil trengginas di babak kedua. Puncaknya Reiss Nelson berhasil menjebol gawang Leeds meneruksan umpan Pepe. Gol Nelson menjadi satu-satunya gol di laga itu, membuat Arsenal melaju ke babak selanjutnya.

Di laga berikutnya giliran Bournemuth menjamu Arsenal di Vitality Stadium. Mikel Arteta menurunkan beberapa pemain mudanya di laga ini seperti Bukayo Saka, Joe Willock, dan Nkketiah . Tim besutan Mikel Arteta langsung tancap gas di awal laga dengan gol yang dilesakan oleh Bukayo Saka dari sudut sempit. Saka kembali memiliki andil untuk gol kedua, setelah umpannya dituntaskan dengan baik oleh Nketiah. Dua goal Arsenal bertahan sampai paruh babak pertama. Bounemuth kemudian membalasnya dibabak kedua. Tepatnya saat memasuki injury time melalui gol Surridge. Gol Surridge menjadi gol terakhir pada laga ini. Dengan ini Arsenal melanjutkan perjalanan di FA Cup.

Fratton Park menjadi tempat selanjutnya yang harus disambangi Arsenal di lanjutan FA Cup melawan tim tuan ruah, Portsmouth. Catatan 19 laga tak terkalahkan di kandang sendiri menjadi modal penting untuk Portsmouth mengingat Arsenal sedang dalam tren buruk pasca tersingkir dari ajang Europa Leage di akhir bulan. Seakan melampiaskan kekesalannya, Arsenal berhasil menekuk Portsmouth di kandangnya sendiri dengan sumbangan gol Sokratis dan Eddie Nketiah. Hasil ini bertahan hingga akhir laga, membuat Arsenal mengemas dua cleansheaats dan lanjut ke babak selanjutnya.

Tim kuda hitam,  Sheffield United menjadi tim kedua yang memberikan perlawanan sengit untuk Arsenal di ajang FA Cup. Cara bermain yang sama dengan Leeds dilakukan The Blades pada Arsenal, pemainan tempo tinggi dan menekan musuh di daerah pertahanannya sendiri. Beruntung Arsenal dapat mengalahkan Sheffield berkat gol yang dilsesakan oleh Pepe dan Dani Ceballos di menit akhir. Dengan kemenangan ini, Arsenal kembali untuk merasakan megahnya Wembley di ajang ini sejak terakhir mereka rasakan pada tahun 2017 lalu.

Juara bertahan FA Cup, Manchester City, menjadi lawan selanjutnya bagi Arsenal. Bisa dikatakan laga ini adalah titik balik mentalitas Arsenal tumbuh sebagai tim. Terlihat dari bagaimana terjadinya proses gol pertama Arsenal yang melibatkan 10 pemain, Identitas tim tertuang didalamnya dengan build up apik para punggawa yang menghubungkan berbagai sektor dengan sangat padu, seperti semboyan Arsenal, Victoria Concordia Crescit, kemenangan berawal dari keharmonisan. Gol terakhir di akhi babak yang diciptakan Aubameyang menegaskan Arsenal melenggang ke babak selanjutnya, partai final. Hal ini menciptakan rekor baru pada ajang FA Cup di mana Arsenal menjadi tim yang paling banyak masuk ke dalam final FA Cup dengan total 21 kali.

Final FA Cup musim ini bagaikan De Javu untuk Arsenal karena kembali dipertemukan dengan Chelasea di partai puncak.  Masih membekas diingatan kita kekalahan Baku yang memupuskan asa Arsenal untuk meraih trofi Europa League untuk pertama kalinya. Belum lagi kekalahan tersebut membuat Arsenal harus kembali absen di ajang Champions League musim berikutnya, membuat Arsenal untuk tiga musim beruntun bermain di kasta kedua kompetisi Eropa, pemandangan yang sangat tidak wajar mengingat Arsenal selama dua dekade terakhir selalu mentas di ajang tertinggi kompetisi Eropa.

Namun, hal yang ditakutkan itu sepertinya tidak terjadi, De Javu yang terjadi lebih memihak pada tahun 2017, ketika Arsenal berhasil menundukan Chelsea di depan ribuan fansnya sendiri di stadion kebanggaan Britania, Wembley Stadium. Sempat tertinggal lewat gol cepat Pulisic, Arsenal berhasil membalikan keadaan dengan dua gol yang dilesakan oleh Aubameyang. Ya, laga berkesudahan dengan skor 2-1. Angka yang sama seperti apa yang terjadi pada tahun 2017. Belum lagi dengan insiden kartu merah yang sama-sama terjadi pada kubu Chelsea dan dipimpin oleh wasit yang sama juga, Antony Taylor. Semesta seperti mengizinkan Arsenal untuk merasakan kebahagian di tengah badai yang sedang berkecamuk pada diri Arsenal. Kemenangan ini tentunya semakin mengukuhkan Arsenal sebagai raja dari FA Cup dengan total 14 trofi, mengungguli pesaing terdekatnya Manchester United dengan raihan 12 trofi.

Walaupun menjadi juara, Arsenal tidak boleh besar kepala. Bisa dikatakan Arsenal memenangkan trofi ini berkat jerih payah dan tekad yang sudah tertanam pada diri tiap pemain Arsenal untuk memenangkan FA Cup. Namun untuk cara bermain, Arsenal masih kurang dominan mengancam gawang dari musuh-musuhnya. Lihat saja bagaimana Arsenal harus susah payah mengalahkan Leeds United. Bahkan, di laga final, sebelum keluarnya Azpilicueta dan Pulisic, Arsenal hanya dapat mengandalkan longpass pemain belakang untuk memulai serangan. Tapi menang tetaplah menang, bagaimanapun kondisinya Arsenal selalu memanfaatkan kesalahan lawan untuk dapat memenangkan setiap laga yang dilewatinya. Sekarang serahkan semuanya pada Arteta, tidak ada yang perlu diragukan lagi. Dengan capaian satu trofi di musim yang buruk tentu sudah menjadi pembuktian kualitas dari mantan kapten Arsenal ini.

Ditulis oleh: Robby Arsyadani

Sabtu, 01 Agustus 2020

PENTINGNYA JUARA FA CUP MUSIM INI UNTUK ARSENAL 

PENTINGNYA JUARA FA CUP MUSIM INI UNTUK ARSENAL


Musim ini Arsenal finish di posisi ke-8 klasemen Liga Inggris. Pencapaian terburuk Arsenal sejak 25 tahun ke belakang. Belum lagi dengan buruknya performa Arsenal di kompetisi lain seperti tersingkirnya Arsenal oleh Olympiacos di Europa League dan kalah adu penalti dengan skuad muda Liverpool di Carabao Cup. Untungnya Arsenal berhasil melaju ke babak final FA Cup setelah mengalahkan Manchester City di semifinal. Nantinya dibabak final Arsenal akan menghadapi Chelsea yang dipartai lainnya telah mengalahkan Manchester United. Juara FA Cup disinyalir dapat menjadi obat penawar musim Arsenal yang buruk. Penulis jadi bertanya-tanya, seberapa penting menjuarai FA Cup bagi Arsenal?



Bermain di kompetisi eropa

Musim ini Arsenal finish diposisi ke-8 klasemen. Hal tersebut membuat Arsenal tidak dapat berlaga di kompetisi Eropa melalui skema klasemen liga. Jalan satu-satunya untuk Arsenal dapat tampil di kompetisi Eropa adalah dengan memenangkan FA Cup. Pasalnya, aturan FA Cup mengatakan bahwa pemenang kompetisi FA Cup berhak untuk mendapatkan satu tiket di Europa League. Bila Arsenal gagal memenangkan FA Cup maka sirna sudah harapan Arsenal untuk bermain di kompetisi Eropa.

Menambah pendapatan

Bila Arsenal gagal juara FA, mereka tidak mendapatkan hadiah sebesar 3,5 Juta Pounds. Namun, Arsenal tidak pulang dengan tangan hampa. Bila diakumulasikan total hadiah dari putaran ke-3 sampai babak final, Arsenal mendapatkan bonus sebesar 5 Juta Pounds. Namun tentunya pihak manajemen Arsenal akan berfikir ulang dalam menentukan budget pengeluaran Arsenal di musim mendatang. Ketidakikutsertaan Arsenal di ajang Eropa menjadi salah satu pemicunya. Wajar saja, ajang kompetisi Eropa memang menjadi salah satu pemasukan yang nilainya cukup menggiurkan, mulai dari hak siar, bonus, penjualan tiket dan lainnya. Ketidakikutsertaan ini tentunya akan mengggerus pendapatan Arsenal musim depan sehingga pihak manajemen akan sangat berhati-hati dalam menentukan budget transfer unutuk musim panas ini.

Mudah mendatangkan dan mempertahankan pemain

Salah satu alasan pemain betah untuk berlama-lama di klub adalah meraih banyak gelar di klub tersebut. Gelar juara meningkatkan rasa percaya diri pemain karena jerih payahnya selama membela klub tersebut akhirnya membuahkan hasil. Secara psikologis, bila seseorang mendapat atau meraih sesuatu dalam hidupnya, otak akan memproduksi dopamine. Dopamine ini menciptakan rasa senang pada tubuh manusia. Tentunya karena rasa senang ini, pemain akan betah berlama-lama di klub tersebut. Namun hal ini tidak menjamin bahwa pemain tidak akan meninggalkan klub tersebut, masih banyak variable lain yang harus diperhitungkan. Ya setidaknya salah satu variable telahh terpenuhi untuk bisa menjaga komitmen pemain di klub tersebut. Untuk mendatangkan pemainpun terkadang dibutuhkan nama besar untuk menggaet pemain incarannya. Seperti halnya De Jong yang bergabung dengan Barcelona untuk bermain dengan Messi, pemain bintang Arsenal seperti Aubameyang dan Mesut Oezil pun bisa jadi daya tarik tersendiri seperti apa yang terjadi pada transfer De Jong. Selain itu, Juara FA Cup yang menjamin tiket kompetisi Eropa juga jadi salah satu hal yang dipertimbangkan pemain yang akan bergabung untuk memilih suatu klub. Banyak klub memberikan jam terbang pada lapis keduanya saat bermain di kompetisi non-liga, kesempatan ini tentunya akan dimaksimalkan rekrutan anyar untuk membuktikan kemampuannya dan tak jarang mereka yang bermain impresif akan menggeser posisi pemain yang berada di tim utama.

Rasa kepercayaan fans terhadap klub meningkat

Juara FA memang memiliki kesan tersendiri untuk para penggemar Arsenal. Sejarah klub yang mencatat 13 gelar di kompetisi tersebut membentuk stigma klub bahwa Arsenal merupakan raja dari FA Cup. Oleh karenanya dengan menjuarai FA Cup rasanya akan sedikit mengobati hati para fans tentang musim buruk yang dialami oleh fans Arsenal. Terlebih hal tersebut akan semakin mengukuhkan posisi Arsenal sebagai penguasa kompetisi tertua itu.

Bila Arsenal gagal menjuarai FA Cup

Tentunya hal-hal terjadi di atas akan terjadi secara sebaliknya. Ya walaupun banyak dampak negative yang akan terjadi ke depannya, ada hikmah untuk Arsenal bila kalah dipertandingan puncak FA Cup. Salah satu contohnya adalah Arsenal akan lebih focus pada pertandingan liga domestic. Bila dimaksimalkan, mungkin Arsenal akan berada dijajaran empat besar mengingat para pesaingnya akan focus di beberapa kompetisi. Manajemen pun akan berbenah dan meninjau kembali berbagai kebijakan yang telah dilakukan pada musim ini. tulisan ini bukan untuk menakut-nakutkan para fans Arsenal yang membaca artikel ini, melainkan mengajak pembaca untuk siap dengan apa yang bisa saja terjadi di masa depan.

Jadi bagaimana Goons, yakin Arsenal akan menjuarai FA Cup?

Ditulis oleh: Robby Arsyadani

Rabu, 22 Juli 2020

LONDON UTARA YANG MULAI 'MEMUTIH'


LONDON UTARA YANG MULAI 'MEMUTIH'


Arsenal mengalami kekalahan usai ditekuk oleh Aston Villa dengan skor 1-0 pada lanjutan Premier League pekan ke-37 yang dihelat di Villa Park. Hasil ini tentunya menjadi torehan terburuk Arsenal selama 25 tahun terakhir. Pasalnya ini pertama kalinya Arsenal finish dibawah 60 point sejak 1995. Bahkan musim ini bisa jadi musim terburuk Arsenal karena secara sistematis Arsenal kembali finish di bawah Tottenham. Ya, sudah empat musim berturut-turut Arsenal gagal merayakan St.Totterringham Day, yang mana terakhir dilaksanakan tepatnya pada tahun 2016 silam, di mana Arsenal finish di posisi kedua, unggul satu poin dari Tottenham yang berada tepat di bawahnya.

Kini London Utara mulai ‘memutih’, tentunya bukan statemen yang menyenangkan tetapi menjadi sebuah peringatan bahwa dominasi London Utara mulai bergeser ke White Heart Lane. Selama empat tahun kebelakang Tottenham selalu konsisten berada di empat besar bahkan berpeluang juara saat musim 2017. Musim lalu pun merupakan musim yang baik bagi Tottenham, pasalnya Tottenham mampu melaju sampai babak Final UCL yang mana merupakan pencapaian tertinggi Spurs dalam kompetisi tersebut. Untungnya mereka takluk dari Liverpool 2-0, membuat Tottenham kembali merasakan puasa gelar yang sudah berlangsung sejak 2008. Sedangkan untuk Arsenal sendiri, sejak terakhir menjuarai FA Cup pada tahun 2017, Performa Arsenal cenderung menurun. Saat berkompetisi di liga, Arsenal sendiri kesulitan untuk masuk empat besar, membuat Arsenal hanya bisa bermain di Liga Europa kasta kedua kompetisi Europa.

Ya walaupun Tottenham saat ini sama buruknya dengan Arsenal, setidaknya mereka berhasil finish di atas Arsenal (lagi). Tentunya hal ini menimbulkan satu pertanyaan, kenapa Tottenham bisa finish di atas Arsenal?

Memperbaiki Teknis Permainan
Kedatangan Pochetinno dari Southampton merupakan titik balik Tottenham menggerogoti dominasi Arsenal di London Utara. Tottenham yang biasanya hanya bersaing di 10 besar Premier League, disulap menjadi salah satu tim besar layaknya Chelsea dan Liverpool untuk bersaing di papan atas Premier League. Pochetino mulai membangun tim dengan membenahi kelemahan Tottenham yang paling mendasar yaitu pertahanan. Tottenham sebelum ditukangi oleh Pochetinno memang merupakan tim yang kurang memiliki pertahanan yang rapuh. Roy Keane dalam autobiografinya menceritakan satu momen ketika Manchester United akan berhadapan dengan Tottenham. Sebelum dimulainya pertandingan Sir Alex Ferguson hanya memberikan tiga kata untuk menyemangati timnya, Lads, it's Tottenham". Kawan-kawan, ini Tottenham. Tiga kata yang menandakan buruknya Tottenham di kala itu.

Namun dibawah asuhan Pochetinno, Tottenham dibuatnya bagaikan tim yang lebih atraktif saat menyerang dan kuat dalam bertahan. Tottenham sendiri memiliki catatan impresif dalam hal bertahan. Dalam rentang waktu 2016-2019, Tottenham merupakan tim yang tidak pernah kebobolan lebih dari 40 goal, bahkan pada musim 2016-2017, Tottenham hanya kebobolan 26 goal dari 38 laga (0,69 goal/per laga). Statistik tersebut tentunya menghapus stigma buruk tentang rapuhnya lini pertahanan mereka.

Tidak hanya dalam bertahan, Pochettino memberikan pendekataan berbeda saat menyerang. Spurs yang dikomandoi oleh Pochettino lebih memainkan permainan menyerang yang atraktif dan juga offensive dengan mengurung daerah pertahanannya dengan gaya bermain possession tidak lupa dengan pressing ketat yang efektif mematikan serangan lawan dengan cepat.



Mentalitas
Selain membenahi kelemahan Tottenham, Pochettino menanamkan jiwa pemenang terhadap setiap punggawanya. Rasa tidak mau kalah selalu tertanam pada setiap pemain Tottenham. Perubahan drastis mentalitas Spurs salah satunya tergambar dalam atmosfer ruang ganti pada laga melawan Everton pada tahun 2015 silam yang berkesudahan imbang 1-1 di Goodison Park. Terlihat para pemain menyikapi hasil itu sebagai kekalahan karena mereka layak untuk memenangkan laga tersebut.

Di mulai dari hari itu, mentalitas pemain Spurs semakin terasah, Puncaknya adalah ketika mereka dapat menyingkirkan Manchester City dan Ajax Amsterdam pada ajang Champions League musim lalu. Tentunya hal tersebut bukanlah suatu kebetulan, jiwa pantang menyerah merekalah yang membuat mereka dapat mengembalikan keadaan tersebut dan melaju ke babak berikutnya.

Mentalitas yang dibangun Pochettino terus tumbuh dan berkembang, bahkan mentalitas itu masih ada pada jiwa Tottenham ala Mourinho saat ini. Terbukti ketika insiden ribut-tibut Hugo Lloris dan Son Heung-Min pada pertandingan melawan Everton pekan lalu. Lloris marah pada Son karena tidak menghalau pergerakan Richarlison yang hampir berbuah goal. Rasa benci akan kalah dan besarnya ego para pemain Tottenham menandakan tim yang akan bertanding hanya mengincar kemenangan.

Arsenal yang sekarang tidak memiliki mental seperti itu. Tidak adanya sosok yang memiliki kharisma untuk mengarahkan squad yang sekarang disinyalir menjadi lemahnya mentalitas Arsenal beberapa tahun ini. Setelah pensiunnya Wenger dan hengkangnya Koscielny, Arsenal tidak memiliki sosok yang dijadikan pemacu mental para pemainnya.

Pemain Arsenal yang sekarang memiliki ego yang besar. Ego yang besar dari para pemainnya tentunya akan menjadi baik bila ditangani oleh sosok yang tepat. Namun ketidakhadiran sosok tersebut membuat Arsenal berjalan tanpa arah yang pasti.

Ditunjuknya Arteta sebagai pelatih tentunya bisa jadi obat penawar untuk sosok yang dapat membawa Arsenal lebih baik lagi, terlebih Arteta sudah mengenal betul seluk beluk dari Arsenal itu sendiri.

Berikan waktu untuk Arteta, toh Juergen Klopp baru meraih kesuksesan di musim kelimanya.

Ditulis oleh: Robby Arsyadani

Sabtu, 18 Juli 2020

KENAPA MESUT OEZIL TIDAK DIMAINKAN ARTETA?


KENAPA MESUT OEZIL TIDAK DIMAINKAN ARTETA?


Sejak bergulirnya Premier League setelah lockdown, Mesut Oezil belum memainkan satu laga pun bersama Arsenal. Hal ini seperti berada pada kondisi yang sama saat Emery masih menjabat sebagai pelatih Arsenal.

Keputusan Arteta untuk tidak menurunkan Oezil akhir-akhir ini menimbulkan pertanyaan di berbagai kalangan. Padahal sejak Arsenal dilatih oleh Arteta, Oezil menunjukan performa yang membaik dibandingkan saat dilatih pelatih sebelumnya.

Arteta berdalih bahwa tidak diturunkannya Oezil adalah murni alasan taktik. Oezil pun secara tidak langsung menyindir Arteta di twitter pribadinya dengan mengunggah fotonya sedang berlatih dengan caption 'i am ready', tidak lupa ditulis dengan huruf kapital sebagai bentuk penegasan bahwa Oezil sudah siap untuk bermain

Lantas apa yang sedang terjadi dengan Mesut Oezil dan Arteta?





▪️Alasan Taktik

Sejak kembali bergulirnya EPL, Arteta memang kerap kali mengganti formasi terutama saat melawan tim-tim besar. Terakhir saat melawan Liverpool, Arsenal menggunakan formasi 3-4-3.

Formasi 3-4-3 sendiri merupakan formasi yang fleksibel. Ketika menyerang, polanya dapat berubah menjadi 3-2-5. Sedangkan saat bertahan menjadi 5-2-3. Praktisnya dengan formasi ini pola serangan Arsenal tergantung pada distribusi bola pemain belakang dan kokohnya pertahanan Arsenal bergantung pada kedisiplinan pemain sayap.

Kunci dari formasi ini adalah pemain yang berada di lini tengah. Para pemain harus dapat membagi fokusnya antara menyerang dan bertahan sehingga membuat pemain di lini tengah mudah kelelahan. Dibutuhkan pemain yang terampil saat menyerang dan kuat dalam bertahan untuk mendukung kinerja formasi ini.

Jadi kalau dikatakan Ozil tidak diturunkan karena alasan taktik hal itu memang benar adanya. Oezil merupakan tipikal pemain yang sangat kuat saat memegang bola, namun ketika dalam posisi tidak mendapatkan bola Oezil seperti menghilang dalam pertandingan.

Cara bermain Oezil pun pernah dikritik oleh Paul Merson ia menganggap bahwa Oezil adalah pemain terburuk saat timnya tidak memegang bola.

🗣️"Jika dia tidak mendapatkan bola, dia salah satu pemain terburuk di dunia! Saya akan mengatakan itu. "

▪️Oezil saat dilatih Emery

Kondisi serupa pernah juga dialami oleh Oezil saat Arsenal masih ditukangi oleh Emery.

Setelah dipecat oleh Arsenal, Emery akhirnya buka-bukaan terkait alasannya tidak memainkan Oezil. Menurutnya Ozil tidak memiliki agresifitas yang kuat untuk bermain di Liga Inggris

🗣️"Dia punya talenta yang membuat para pemain lain lebih baik. Tetapi ketika Anda ingin sedikit agresif, dia tidak punya kualitas cukup bagus di situ,"

Emery menambahkan alasan lainnya tidak memainkan Oezil karena rendahnya komitmen yang dimiliki Oezil untuk Arsenal. Bahkan ketika Emery ingin berbicara dengan seluruh pemain pasca kekalahan final UEL, hanya Oezil yang tidak datang menemui Emery.

🗣️"Dia tidak datang. Dan itulah yang saya katakan soal komitmen. Ketika komitmennya 100 persen maka semua pemain harusnya datang"

Secara keseluruhan tidak ada masalah internal yang terjadi antara Mesut Oezil dengan Arteta. Akar permasalahannya berada pada cara bermain Oezil dan bagaimana kebutuhan tim saat ini

Tidak seperti di Real Madrid dan Timnas Jerman yang mana bergelimang dengan pemain-pemain yang memiliki kualitas untuk mendominasi setiap laga yang dimainkan, Arsenal yang sekarang sangat sulit untuk melakukan apa yang dilakukan oleh tim-tim tersebut.

Oezil sendiri sudah terlalu lama berada di zona nyamannya sampai ia mungkin lupa bahwa ia berada di Arsenal, bukan Real Madrid ataupun Timnas Jerman. Ia tidak bisa terus menerus mengandalkan rekan satu timnya untuk memberikannya bola, ia juga harus bekerja lebih ekstra untuk dapat berkontribusi lebih untuk Arsenal.

Namun diumur yang sudah memasuki kepala tiga, Paul Merson beranggapan sudah tidak mungkin untuk Oezil mengubah cara bermainnya.
Jadi bagaimana menurut kalian? Oezil yang menyesuaikan dengan tim atau tim yang menyesuaikan Oezil?

Ditulis oleh: Robby Arsyadani

Sumber

1. https://www.google.com/amp/s/m.republika.co.id/amp/qcsp6w348
2. https://www.google.com/amp/s/m.medcom.id/amp/1bVYroLN-menganalisa-dahsyatnya-taktik-3-4-3-antonio-conte
3. https://m.detik.com/sepakbola/liga-inggris/d-5016987/ungkap-perseteruannya-dengan-oezil-emery-dia-tak-punya-komitmen
4. https://m.liputan6.com/bola/read/4139256/unai-emery-ungkap-alasan-sering-cadangkan-mesut-ozil-di-arsenal